M. Reza Sulaiman | Atalie June Artanti
Pesawat Garuda Indonesia yang lepas landas dari landasan, menampilkan penerbangan modern. Ilustrasi Pesawat (Pexels/Jeffry Surianto)
Atalie June Artanti

Harga tiket pesawat kembali menjadi sorotan setelah harga bahan bakar avtur meningkat pada bulan September 2026. Kondisi ini mendorong pemerintah menyesuaikan batas maksimal biaya tambahan bahan bakar atau fuel surcharge untuk tiket pesawat kelas ekonomi menjadi 40 persen dari Tarif Batas Atas.

Bagi para calon penumpang, kabar ini pasti membuat mereka merasa cemas. Karena itu, ketika biaya operasional maskapai naik, harga tiket bisa jadi ikut naik juga. Namun, ada satu hal yang perlu diperjelas: batas tambahan bahan bakar 40 persen tidak berarti harga tiket langsung naik 40 persen.

Kementerian Perhubungan menetapkan angka tersebut sebagai batas tertinggi yang bisa diterapkan oleh maskapai. Artinya, perusahaan penerbangan tetap bisa menentukan tarif tambahan bahan bakar di bawah angka tersebut, tergantung pada kondisi pasar, strategi bisnis, dan kemampuan pembelian masyarakat.

Avtur Naik, Batas Fuel Surcharge Ikut Disesuaikan

Per 1 September 2026, harga rata-rata avtur nasional mencapai Rp23.315 per liter. Angka itu meningkat sekitar 6,5 persen dibandingkan masa sebelumnya.

Kenaikan harga avtur kemudian diikuti dengan penyesuaian batas maksimal tarif bahan bakar. Sebelumnya, batas maksimal untuk biaya bahan bakar hanya 30 persen, tetapi sekarang maskapai bisa menerapkan tambahan biaya bahan bakar hingga 40 persen dari tarif batas atas untuk tiket kelas ekonomi.

Penyesuaian tersebut dilakukan oleh Kementerian Perhubungan dengan memperhatikan perubahan harga avtur yang terjadi. Pemerintah tetap memantau tarif yang ditentukan oleh maskapai, termasuk memastikan biaya bahan bakar dicantumkan secara terpisah dan diterapkan sesuai aturan yang berlaku.

Artinya, penumpang memang harus siap menghadapi kemungkinan harga tiket naik, tetapi tidak benar jika langsung berpikir bahwa semua tiket pesawat akan naik 40 persen.

Mengapa Harga Avtur Bisa Mempengaruhi Tiket?

Pesawat memerlukan banyak bahan bakar agar bisa berjalan. Oleh karena itu, perubahan harga avtur bisa memengaruhi biaya operasional perusahaan penerbangan.

Saat harga bahan bakar naik, maskapai memiliki beberapa cara untuk tetap menjalankan bisnisnya. Salah satu cara adalah dengan menambahkan biaya bahan bakar tambahan melalui mekanisme surcharge bahan bakar yang sudah ditentukan pemerintah.

Selain harga bahan bakar, kondisi industri penerbangan juga tergantung pada berbagai faktor lainnya. Nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat bisa juga memberikan tekanan karena industri penerbangan memiliki beberapa kebutuhan yang terkait dengan mata uang asing.

Harga avtur di Indonesia juga menjadi salah satu topik yang dibahas dalam pembicaraan mengenai biaya tiket pesawat. Kondisi itu perlu dicek lagi agar harga tiket pesawat Indonesia tetap bersaing.

Artinya, harga tiket pesawat tidak bisa diputuskan sendiri. Ada banyak hal yang mempengaruhi harga tiket yang harus dibayar oleh penumpang.

Tiket yang mahal bisa jadi beban baru bagi industri pariwisata. Masalahnya, dampak naiknya harga tiket pesawat tidak hanya terasa di bandara saja.

Indonesia memiliki banyak tempat wisata yang sangat tergantung pada penerbangan udara. Bagi para wisatawan yang memakai pesawat untuk sampai ke suatu tempat, harga tiket pesawat bisa jadi salah satu bagian yang paling besar dari biaya liburan mereka.

Ketika harga untuk mengangkut barang atau orang naik, para pelancong mungkin mulai mempertimbangkan ulang rencana liburan mereka.

  • Apakah tetap pergi?
  • Apakah memilih destinasi yang lebih dekat?
  • Atau justru menunda perjalanan?

Pertanyaan seperti itu bisa muncul ketika biaya traveling terasa semakin mahal.

Karena itu, naiknya harga tiket pesawat bisa berdampak berantai pada industri pariwisata. Hotel, restoran, tempat wisata, penyedia transportasi lokal, hingga pengusaha UMKM yang bergantung pada kunjungan wisatawan bisa merasakan dampaknya.

Kondisi ini mendapat perhatian dari Peneliti Senior Inisiatif Strategis Transportasi (INSTRAN), Deddy Herlambang. Menurutnya pemerintah harus memberikan bantuan ke sektor pariwisata jika biaya naiknya transportasi semakin memberatkan para wisatawan.

Salah satu ide yang diajukan adalah memberikan penghargaan kepada sektor perhotelan dan restoran, termasuk dengan cara mengurangi kewajiban membayar pajak. Dengan begitu, ketika para wisatawan perlu menghabiskan uang lebih banyak untuk tiket pesawat, biaya berlibur di tempat tujuan bisa dibuat lebih murah.

Logikanya mudah: jika biaya sampai ke tujuan sudah tinggi, jangan sampai biaya setelah tiba di sana juga membuat wisatawan batal berkunjung.

Jangan Sampai Liburan Jadi Terlalu Mahal

Kenaikan harga tiket pesawat bukan hanya masalah antara maskapai dan penumpang. Dalam konteks yang lebih luas, harga untuk mengangkut barang atau orang juga memengaruhi kemampuan destinasi wisata itu bersaing dengan tempat lain.

Bayangkan seseorang harus menghabiskan banyak uang hanya untuk sampai ke tempat tujuan. Setelah tiba, dia masih perlu membayar biaya hotel, makan, transportasi lokal, tiket masuk wisata, dan kebutuhan lainnya.

Jika semua komponen tersebut naik, liburan yang dulu masih bisa dijangkau bisa berubah menjadi perjalanan yang harus dipertimbangkan dengan matang.

Padahal, sektor pariwisata membutuhkan wisatawan agar bisa terus berjalan.

Oleh karena itu, pemerintah tidak hanya harus memastikan kelangsungan industri penerbangan, tetapi juga perlu memperhatikan dampak dari kebijakan tersebut terhadap sektor-sektor lain yang bergantung pada akses transportasi udara.

Kementerian Perhubungan menjelaskan bahwa kebijakan ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara kelangsungan operasi maskapai dan perlindungan hak konsumen. Pemerintah terus memantau penggunaan tarif agar penyedia jasa penerbangan tetap mematuhi aturan yang berlaku.

Harga Tiket Tidak Selalu Langsung Melonjak

Berita tentang kenaikan biaya tambahan bahan bakar memang bisa membuat para calon penumpang menjadi gelisah. Namun, kondisi di lapangan tidak selalu berarti semua harga tiket langsung naik dengan cara yang sama.

Sebagai contoh, saat memantau harga tiket untuk keberangkatan pada 11 September 2026, ditemukan harga tiket dari Denpasar ke Singapura sekitar Rp2,35 juta dan ke Bangkok sekitar Rp6,9 juta untuk beberapa pilihan penerbangan tertentu. Harga tersebut dilihat pada waktu dan pilihan penerbangan tertentu, sehingga bisa berubah kapan saja.

Harga tiket pesan udara tergantung pada beberapa hal, seperti maskapai yang digunakan, jalur penerbangan, kapan tiket dibeli, tersedianya kursi, jadwal penerbangan, serta tempat beli tiket.

Ini menunjukkan bahwa kenaikan batas tarif bahan bakar adalah salah satu hal yang bisa memengaruhi harga tiket, tapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan berapa harga tiket yang dibayar oleh penumpang.

Lalu, Haruskah Menunda Liburan?

Belum tentu.

Bagi orang yang sudah ada rencana untuk traveling, naiknya harga avtur dan perubahan batas biaya bahan bakar bisa jadi alasan untuk lebih hati-hati dalam memilih waktu dan jalur penerbangan.

Membandingkan harga dari berbagai maskapai, memesan tiket lebih dahulu, serta memperhatikan hari dan waktu penerbangan bisa membantu menemukan tiket yang lebih sesuai dengan budgetmu.

Sementara bagi pemerintah, tantangannya tentu lebih besar. Agar maskapai bisa tetap berjalan dengan baik, maka harus dijaga juga agar masyarakat tetap bisa mendapatkan akses ke transportasi udara dengan harga yang tidak terlalu mahal.

Karena itu, pesawat bukan hanya alat untuk berangkat liburan saja. Di negara yang terdiri dari banyak pulau seperti Indonesia, penerbangan juga berperan sebagai sarana penghubung antardaerah, membantu menjalankan kegiatan ekonomi, serta memberi akses untuk mengunjungi berbagai tempat wisata.

Kenaikan harga avtur mungkin sulit dihindari ketika situasi pasar mengalami perubahan. Namun, efek dominonya tetap perlu diperhitungkan.

Jangan sampai harga tiket pesawat terus naik, sehingga jumlah wisatawan yang bepergian semakin berkurang. Jika hal itu terjadi, yang naik tidak hanya harga tiket, tetapi juga harapan sektor pariwisata untuk terus berkembang.

Akhirnya, tantangannya bukan hanya tentang bagaimana memastikan pesawat tetap terbang, tetapi juga tentang bagaimana menjaga masyarakat tetap bisa ikut terbang bersama.