Hayuning Ratri Hapsari | Dimas Rahmat Naufal Wardhana
Trash Ranger ikut Andil di World Cleanup Day 2026 (WCD/World Cleanup Day)
Dimas Rahmat Naufal Wardhana

Minggu pagi, 20 September 2026 kawasan Sudirman-Thamrin, Jakarta, tidak hanya dipenuhi orang yang menikmati Car Free Day. Pagi itu, ada pemandangan berbeda dan unik anak muda berjalan membawa karung dan sarung tangan, sesekali membungkuk mengambil botol plastik, bungkus makanan, hingga puntung rokok. Mereka sedang merayakan World Cleanup Day 2026, sebuah gerakan bersih-bersih yang dilakukan secara serentak di berbagai negara.

Di tengah aksi tersebut, Trash Ranger Indonesia hadir sebagai kolaborator sekaligus partner komunitas lingkungan. Puncak keseruan World Cleanup Day 2026 membuat peran komunitas bukan sekadar hadir sebagai penonton, melainkan mengerahkan relawan, menyebarkan advokasi peduli sampah, serta ikut menggerakkan jaringan komunitas dalam aksi nyata.

Tanggal 20 September bukan sekadar tanggal di kalender lingkungan. World Cleanup Day telah menjadi gerakan global yang dikoordinasikan oleh Let's Do It World. Situs resmi World Cleanup Day mencatat gerakan ini telah melibatkan lebih dari 139 juta orang di 212 negara dan wilayah. Sejak 2024, World Cleanup Day juga masuk kalender resmi International Days Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Untuk 2026, kampanye global mengangkat gagasan “Strive for Five”, yakni mendorong keterlibatan 5 persen populasi dalam aksi kolektif sebagai titik penting untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat.

Di Indonesia, Puncak World Cleanup Day 2026 mengusung tema “Aksi Bersih Pemuda-Pemudi Merdeka dari Sampah”. Kegiatan utama berlangsung dari kawasan Waste Station Rekosistem Dukuh Atas menuju Kampus Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.

Rangkaian acaranya bukan hanya memungut sampah. Ada plogging, edukasi pemilahan, sharing session, booth komunitas dan organisasi lingkungan, hingga instalasi seni berbahan sampah. Peserta dan relawan sekitar 1.000–1.500 orang dari berbagai unsur masyarakat.

Keseruan WCD 2026 bisa di rasakan dengan lari, berjalan lalu pungut, pilah. Kalau dibayangkan, suasananya cukup sederhana tetapi menarik. Peserta berjalan dari Dukuh Atas sambil melakukan plogging. Setiap menemukan sampah, mereka berhenti, mengambilnya, lalu memasukkannya ke karung.

Peserta WCD (World Cleanup Day) mulai berkumpul pagi hari 07.00 WIB. Sampah yang ditemukan antara lain botol plastik, bungkus makanan, dan puntung rokok. Setelah dikumpulkan, sampah dibawa ke titik akhir di Kampus Atma Jaya untuk diproses lebih lanjut.

Hasilnya pun terlihat. Mengutip laman resmi Metro TV aksi plogging di Sudirman-Thamrin mengumpulkan 175 kilogram sampah. Sebanyak 117 kilogram di antaranya merupakan residu, 17 kilogram plastik, dan 4 kilogram sampah organik, sementara sisanya masuk kategori sampah lainnya. Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 1.000 relawan.

Di sinilah menariknya World Cleanup Day. Orang tidak hanya melihat sampah sebagai sesuatu yang harus dipindahkan dari jalan menuju tempat pembuangan. Sampah juga ditimbang dan dipilah untuk melihat apa yang sebenarnya ditemukan di ruang publik.

Kehadiran Trash Ranger Indonesia sebagai salah satu partner komunitas lingkungan menjadi bagian dari pola kolaborasi yang dibutuhkan gerakan lingkungan. Komunitas ini bertujuan memperluas dampak bersama, mengerahkan relawan, memperluas jaringan, dan terhubung dengan komunitas, sekolah, universitas, serta organisasi lainnya.

Trash Ranger juga tidak datang dari ruang kosong dan selalu konsisten dengan gerakan pedul sampah. Pada Juli kemarin, komunitas ini menggelar Urban Eco Journey di Tebet Eco Park dengan kegiatan pungut sampah sekaligus edukasi pengelolaan limbah, seperti junk journal dan eco enzyme. Kegiatan tersebut juga melibatkan sejumlah komunitas lingkungan lainnya.

Artinya, pengalaman komunitas menjadi penting ketika aksi bersih-bersih berlangsung dalam skala lebih besar. Mereka dapat membantu menghubungkan pesan global dengan kebiasaan sederhana di tingkat masyarakat. Kegiatan ini menekankan bahwa bersih-bersih hari itu bukan garis akhir.

Ada satu hal yang justru lebih penting setelah karung-karung sampah terkumpul. Ketua World Cleanup Day Indonesia Andy Bahari menegaskan bahwa bersih-bersih bukan solusi akhir, melainkan pintu masuk agar masyarakat semakin sadar untuk memilah dan mengolah sampah.

Pesan tersebut relevan dengan kondisi pengelolaan sampah Indonesia. Berdasarkan Data resmi SIPSN untuk 278 kabupaten/kota yang tercatat pada 2025 menunjukkan sampah terkelola baru 32,9 persen, sedangkan 67,1 persen tercatat tidak terkelola.

Maka dari itu, World Cleanup Day 2026 bukan hanya cerita tentang berapa kilogram sampah yang berhasil dikumpulkan pada 20 September. Lebih jauh, ini adalah cerita tentang apa yang dilakukan setelah sampah ditemukan.

Dan di titik itulah peran komunitas seperti Trash Ranger Indonesia menjadi berarti. Memungut satu botol mungkin terlihat kecil. Mengajak satu orang memilah sampah juga terasa sederhana.

Namun ketika ribuan orang melakukan hal yang sama pada hari yang sama, pesan yang muncul menjadi jauh lebih besar bahwa kita di Indonesia tidak cukup hanya bersih sehari. Indonesia perlu belajar mengurangi, memilah, dan mengelola sampah setiap hari.