Saat bicara Bali, Kuta, Canggu, atau Ubud mungkin lebih dulu muncul dalam bayangan. Namun, sekitar 100 kilometer di utara Kuta, di pesisir Bali Utara, terdapat Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng.
Di desa ini, laut bukan sekadar pemandangan. Laut menjadi bagian dari kehidupan warga, sumber penghidupan, sekaligus bahan utama dalam tradisi pembuatan garam yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Salah satunya dilakukan Nyoman Nadiana.
Alih-alih langsung menjemur air laut, Nyoman terlebih dahulu menuangkannya ke sebidang tanah yang telah disiapkan. Air laut itu dibiarkan meresap ke dalam tanah, membawa kandungan garam dan mineral.
Setelahnya, tanah dikerik dan dimasukkan ke dalam tinjung, wadah berbentuk kerucut yang bagian dalamnya dilapisi daun lontar, daun kelapa, kerikil kecil, dan pasir.
Susunan tersebut berfungsi sebagai penyaring alami.
Dari dalam tinjung, air kemudian menetes perlahan. Cairan itu disebut Nyoman sebagai nyah, atau biang garam. Nyah kemudian dijemur hingga airnya menguap dan menyisakan kristal garam.
Proses tersebut menjadi salah satu pembeda garam Desa Les dari garam yang dibuat dengan cara menguapkan air laut secara langsung.
“Daya tariknya adalah proses pembuatan garam yang masih dilakukan secara tradisional,” kata Nyoman.
Cara pembuatan itu telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Desa Les. Pengetahuan mengenai pengolahan air laut, tanah, dan bahan-bahan alami untuk menghasilkan garam diwariskan dari generasi ke generasi.
Tradisi yang Beradaptasi
Namun, mempertahankan tradisi tidak selalu berarti mempertahankan seluruh cara lama.
Perubahan terlihat pada proses penjemuran nyah. Dahulu, nyah dijemur di atas palungan, wadah yang dibuat dari batang pohon kelapa. Cara tersebut kemudian melahirkan sebutan garam palungan yang melekat pada produk garam Desa Les.
Kini, petani garam lebih banyak menggunakan membran plastik.
Bagi Nyoman, perubahan tersebut merupakan bentuk adaptasi, terutama terhadap cuaca yang semakin sulit diprediksi.
Ketika hujan turun tiba-tiba, nyah yang sedang dijemur berisiko gagal. Membran memungkinkan petani menyelamatkannya dengan lebih cepat karena dapat dilipat atau dipindahkan.
“Membran sangat membantu karena lebih praktis dan lebih produktif, apalagi di tengah cuaca tidak menentu,” ujar Nyoman.
Dengan penggunaan membran, bukan berarti seluruh proses tradisional ditinggalkan.
Tanah masih digunakan. Tinjung masih menjadi bagian dari proses. Nyah tetap dihasilkan sebelum dijemur hingga menjadi garam.
Perubahan hanya terjadi pada salah satu tahap untuk menyesuaikan proses produksi dengan kondisi alam.
Garam sebagai Daya Tarik Wisata
Selain produksi garam, kehidupan masyarakat Desa Les juga berkaitan erat dengan kawasan pesisir, pertanian, dan perikanan.
Kehidupan tersebut kemudian menjadi bagian dari daya tarik wisata desa.
Setelah meraih Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024, Nyoman mengatakan kunjungan wisatawan lokal ke Desa Les meningkat. Wisatawan datang untuk menikmati kuliner, melihat kehidupan masyarakat, sekaligus mengenal proses pembuatan garam.
Kehadiran wisatawan asing sebenarnya bukan hal baru. Menurut Nyoman, Desa Les sejak lama menjadi tujuan wisatawan yang mencari suasana lebih tenang di Bali Utara.
Meningkatnya kunjungan wisatawan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Namun, pada saat yang sama, muncul tantangan untuk memastikan tradisi pembuatan garam tidak berhenti sebagai atraksi wisata.
Sebab, di balik proses tersebut terdapat pengetahuan masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam di sekitarnya.
Air laut dibiarkan meresap ke tanah. Tanah kemudian dikerik dan disaring menggunakan tinjung. Cairan yang dihasilkan dijemur hingga menjadi garam.
Proses yang tampak sederhana itu membutuhkan pengetahuan tentang tanah, air laut, bahan penyaring, dan cuaca.
Bagi masyarakat Desa Les, pengetahuan tersebut bukan sekadar bagian dari masa lalu. Ia masih digunakan untuk menghasilkan garam sekaligus menjadi bagian dari kehidupan ekonomi masyarakat saat ini.
Nyoman pun tidak melihat tradisi dan perubahan sebagai dua hal yang harus dipertentangkan.
Penggunaan membran, misalnya, memungkinkan petani mempertahankan proses pembuatan garam di tengah kondisi cuaca yang berubah.
Pada akhirnya, yang dipertahankan bukan semata-mata bentuk atau alatnya, melainkan pengetahuan dan proses yang membuat garam Desa Les tetap bisa diproduksi.
Di tengah perkembangan pariwisata Bali dan perubahan kondisi alam, tradisi pembuatan garam di Desa Les menunjukkan bahwa warisan budaya tidak selalu bertahan dengan cara yang sama.
Ia dapat berubah mengikuti zaman, selama pengetahuan yang menjadi akarnya tetap dipertahankan.
Baca Juga
Artikel Terkait
News
-
Kasus Pertanahan Capai 56.844, Mengapa Masyarakat Perlu Melek Soal Tanah?
-
Dari Kemiren untuk Kemiren: Kiprah Kang Edai Bersama Astra
-
Nyoman Nadiana: Sosok di Balik Kebangkitan Garam Tradisional Bali yang Tembus Pasar Modern
-
Desa Les Buleleng: Saat Tradisi Garam Kuno Berpadu dengan Inovasi Modern
-
Merawat Syiar Islam Berkemajuan: Peringatan 666 Tahun Islam Masuk Papua di Fakfak
Terkini
-
5 Physical Sunscreen Buat Kulit Berjerawat: Non-Comedogenic dan Bebas Gerah
-
Review Dust Bunny: Sajikan Horor Gothic dan Aksi Menegangkan yang Sempurna!
-
Anniversary ke-10 BLACKPINK Tuai Kekecewaan, Jisoo Tulis Permintaan Maaf
-
Viral Tanpa Menelanjangi Privasi: Berhenti Menjadikan Korban Perempuan sebagai Tontonan
-
Eric THE BOYZ Resmi Bergabung dengan Agensi Baru, Siap Tampilkan Sisi Lain!