Fajar di pesisir timur Jawa selalu diawali dengan harmoni yang magis. Di Desa Kemiren, Banyuwangi, saat kabut pagi belum sepenuhnya pudar, alunan gejog lesung mulai terdengar berulang kali. Irama dari rentetan tongkat kayu yang menghantam rongga penumbuk padi itu bukan sekadar bebunyian ritmis, melainkan detak jantung Suku Osing yang terus berdegup memompa napas warisan leluhur.
Namun, di balik deretan rumah adat berkayu bendo yang berdiri kokoh, pernah bersemayam kecemasan yang merayap secara senyap. Layaknya arus bawah laut yang menggerus daratan tanpa suara, modernisasi perlahan menelan kebanggaan generasi muda pada adatnya.
Menjadi petani dengan musim yang tak menentu serta fluktuasi harga gabah membuat masa depan agraris terasa pekat. Bekerja merawat tradisi budaya dianggap tak lagi mampu memberikan kepastian hidup. Perlahan, kain batik usang di lemari, ritual desa, dan nyanyian lesung terancam ditinggalkan lalu merana menjadi sekadar memori di sudut sejarah.
Di tengah kepasrahan dan ketakutan akan hilangnya identitas, Mohammad Edy Saputro memilih untuk bertahan. Ia bukan birokrat bertahta, bukan akademisi bergelar, apalagi konglomerat. Ia hanyalah pemuda desa biasa yang hatinya teriris melihat budayanya berpotensi menjadi fosil. Saat orang lain mencari peruntungan ke kota, Edy memupuk impian yang tak biasa yaitu menjadikan kebudayaan sebagai mesin ekonomi bagi desanya.
"Kami tidak punya gunung, pantai juga tidak punya. Tapi kami punya budaya," tutur Edy saat meletakkan dasar filosofis dari perjuangannya.
Langkah awalnya penuh dengan jalan terjal. Ide untuk menjadikan rutinitas harian seperti menyeduh kopi maupun membatik sebagai magnet wisata justru ditertawakan. Tetangga mencibir serta meragukan bagaimana kebiasaan usang bisa mengisi perut mereka.
Namun, Edy tak surut langkah. Ia mendatangi satu ampok atau teras ke ampok lainnya, duduk bersila mendengarkan keluh kesah para sesepuh sembari menanamkan visinya. Melalui Kelompok Sadar Wisata Kencana yang ia bentuk, Edy sadar bahwa pelestarian budaya tak akan bertahan lama dengan perut yang lapar. Budaya harus bisa meneteskan kesejahteraan di meja makan warga.
Keteguhan hati itu akhirnya menemukan katalisatornya. Pada tahun 2024, semesta seolah menjawab perjuangan Edy ketika PT Astra International Tbk hadir membawa intervensi melalui program Desa Sejahtera Astra. Pendekatan ini bukanlah sekadar donasi amal yang menguap sekejap, melainkan sebuah rekayasa sosial dan ekonomi yang berakar kuat pada kewirausahaan. Astra menyuntikkan pendampingan manajerial, puluhan paket perlengkapan homestay, unit komposter, hingga membangun amfiteater megah untuk pementasan seni.
Sinergi yang sistematis ini memantik kebangkitan tiga poros ekonomi yang memutar kembali roda kehidupan Kemiren.
Poros pertama bermula dari selembar kain mori. Motif sakral Gajah Oling yang merupakan sebuah pasemon dengan makna ajakan untuk selalu mengingat kebesaran Tuhan dulunya hanya dikeluarkan sebagai penolak bala atau pelindung bayi di kala senja. Kini, tanpa mencabut nilai spiritualnya, kriya batik ini direvitalisasi. Jemari lincah perempuan Osing yang biasanya menganggur usai musim tanam kini mahir menorehkan malam di atas kain. Karya mereka dipajang bangga di Pojok UMKM untuk menjadi buruan wisatawan sekaligus menghadirkan kemandirian finansial bagi banyak keluarga.
Poros kedua lahir dari kepulan asap dapur tembikar. Tradisi menyangrai kopi robusta dan arabika di atas tungku kayu tak lagi sekadar rutinitas harian. Filosofi luhur Sak Corot Dadi Seduluran yang berarti Sekali Seduh Kita Bersaudara dielevasi menjadi atraksi memukau lewat Festival Ngopi Sepuluh Ewu. Dalam semalam, jalanan desa berubah menjadi ruang tamu raksasa tempat sepuluh ribu cangkir kopi pusaka disajikan gratis tanpa sekat sosial. Keramahtamahan tulus ini memicu efek ekonomi yang luar biasa. Wisatawan yang datang berbelanja memborong Kopi Osing kemasan, menyewa homestay, dan menggunakan jasa pemandu lokal.
Poros ketiga sekaligus yang paling menyentuh hati memancar dari kehangatan kuliner pusaka bernama Pecel Pitik. Urap ayam kampung berbalut kelapa parut pedas ini dulunya amat eksklusif karena hanya disajikan untuk ritual Tumpeng Sewu atau tamu kehormatan. Reposisi cerdas yang dilakukan Edy dan Astra mengubah hidangan sakral ini menjadi sajian kuliner yang paling diburu pelancong.
Di balik kenikmatan Pecel Pitik inilah sosok lansia seperti Mbah Ning menemukan kembali panggung kehidupannya. Dalam tatanan ekonomi agraris murni, usia senja adalah akhir dari produktivitas. Namun, ekosistem wirausaha ini tidak memandang batas usia. Ketika tubuh rentanya tak lagi kuat mengayun cangkul di sawah, keahlian ingatan dan lidahnya meracik bumbu warisan leluhur mengembalikan martabatnya.
Mbah Ning kini menjadi ujung tombak penyedia kuliner wisata. Senyum keriput di wajahnya bukan semata karena lembaran rupiah, melainkan karena ia tak lagi pasrah menadah belas kasih generasi muda. Wirausaha telah memberinya kemandirian di usia senja.
Kerja keras bertahun silam, cibiran yang ditelan mentah, serta intervensi presisi dari Astra kini membuahkan panen raya. Kemiren berdiri tegak sebagai raksasa desa wisata budaya berkelanjutan. Terdapat lima puluh homestay yang beroperasi profesional dan empat puluh pelaku UMKM yang merajut ekonomi sirkular mandiri. Pendapatan warga penggerak wisata melonjak menembus dua juta rupiah per bulan, berfungsi sebagai sabuk pengaman ekonomi saat panen padi tak menentu.
Keajaiban dari tanah Blambangan ini memantik decak kagum hingga membuahkan kunjungan langsung Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana. Sang Menteri menelusuri jalanan desa, menyaksikan sendiri bagaimana roda kewirausahaan berputar kencang tanpa sedikit pun melacurkan nilai luhur Suku Osing.
Berbagai suara sumbang di masa lalu kini telah terkubur, berganti menjadi untaian senyum terima kasih dari ratusan keluarga. Edy Saputro dan masyarakat Kemiren telah membuktikan bahwa menjadi modern dan sejahtera tidak mensyaratkan seseorang untuk memenggal akar tradisinya.
Di setiap alunan gejog lesung yang menggema di fajar hari, tersimpan pesan abadi bahwa warisan yang sesungguhnya jauh lebih berharga dari emas permata. Warisan tersebut adalah kemandirian ekonomi, rasa persaudaraan, dan konsistensi untuk merawat kehidupan yang akan terus bernapas hingga akhir zaman.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Budaya Jadi Kunci: Bagaimana Kang Edai Bawa Desa Kemiren Bertumbuh?
-
Dari Posyandu ke Pariwisata: Bagaimana Kesehatan Jadi Pondasi Desa Wisata Les Buleleng
-
Kala Hati Mengajak Pulang: Perjalanan Nyoman Nadiana Membangun Desa Les
-
Nyoman Nadiana: Sosok di Balik Kebangkitan Garam Tradisional Bali yang Tembus Pasar Modern
-
Dari Kemiren untuk Kemiren: Kiprah Kang Edai Bersama Astra
Kolom
-
Eksploitasi Rasa Iba: Kenali Sadfishing sebagai Modus Baru Penipuan Digital
-
Beli Barang Murah di Online Shop: Solusi Hemat atau Malah Bikin Boncos?
-
Parkir Ngepruk di Solo: Mengapa Masalah Parkir Liar Tak Akan Hilang Hanya dengan Dibina
-
Pemerintah Gagap Komunikasi: Bikin Aturan Dulu, Gaduh Kemudian
-
Memaknai Kemerdekaan di Dunia Kerja: Mengapa Gen Z Lebih Memilih 'Work-Life Balance'?
Terkini
-
Review Bumi Manusia: Kisah Minke Melawan Ketidakadilan di Masa Kolonial
-
Kasus Pertanahan Capai 56.844, Mengapa Masyarakat Perlu Melek Soal Tanah?
-
Teropong Pendidikan Kita: Membaca Wajah Pendidikan Indonesia 2006-2007
-
Bukan Ducati! Ancaman Aprilia Juatru Datang dari Tim Satelitnya Sendiri
-
Dont Say Good Luck: Kisah Remaja Dihadapkan Antara Mimpi atau Keluarga