Tidak semua desa harus memiliki pantai, gunung, atau bentang alam yang spektakuler untuk memiliki alasan membuat orang datang. Di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Jawa Timur, kekuatan itu justru tumbuh dari sesuatu yang telah lama hidup di tengah masyarakat: budaya Osing. Tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi tidak hanya menjadi identitas masyarakat, tetapi perlahan menemukan bentuk baru sebagai daya tarik wisata dan sumber penghidupan.
Di antara aktivitas masyarakat, wisatawan dapat menemukan kuliner khas, kopi, batik, kesenian, hingga kehidupan masyarakat yang masih mempertahankan berbagai tradisi. Dari sinilah muncul sebuah cara pandang yang menarik: sesuatu yang selama ini dianggap sebagai warisan masa lalu ternyata dapat menjadi modal untuk membangun masa depan. Kemiren tidak berusaha menjadi desa lain dengan menghadirkan sesuatu yang bukan miliknya. Sebaliknya, desa ini mencoba menemukan nilai ekonomi dari apa yang sejak awal sudah dimiliki masyarakatnya.
Di balik perubahan cara pandang tersebut terdapat sosok Mohammad Edy Saputro, salah satu penggerak masyarakat Kemiren yang terus mendorong pengembangan potensi lokal. Bagi Edy, kekuatan sebuah desa tidak selalu ditentukan oleh banyaknya sumber daya alam atau besarnya modal yang tersedia. Ada kalanya kekuatan itu justru berada di depan mata dan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Budaya Osing menjadi salah satu kekuatan tersebut. Edy terlibat dalam pengembangan pariwisata dan pemberdayaan masyarakat melalui Pokdarwis Kencana Kemiren, kemudian menjadi Penggerak Desa Sejahtera Astra Kemiren.
Perannya bukan sekadar mengelola kegiatan wisata, tetapi menghubungkan potensi yang dimiliki desa dengan masyarakat yang dapat mengembangkannya. Gagasan tersebut perlahan mengubah cara masyarakat melihat budaya. Budaya tidak hanya menjadi sesuatu yang harus dipertahankan agar tidak hilang, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk menciptakan usaha dan mendapatkan penghasilan. Di titik inilah peran seorang Local Hero menjadi penting: bukan mengambil alih potensi masyarakat, melainkan membantu masyarakat menyadari bahwa mereka sebenarnya memiliki sesuatu yang bernilai.
Perubahan tersebut kemudian terlihat dalam kehidupan ekonomi masyarakat. Budaya Osing tidak hanya diperkenalkan melalui pertunjukan, tetapi dikembangkan menjadi berbagai pengalaman yang dapat dinikmati wisatawan sekaligus membuka kesempatan usaha bagi warga. Wisatawan dapat menginap di homestay milik masyarakat, mencicipi kuliner khas, mengenal proses pembuatan batik, menikmati kopi, hingga mengikuti berbagai kegiatan yang memperkenalkan kehidupan dan tradisi masyarakat Osing.
Setiap aktivitas tersebut menciptakan ruang ekonomi yang berbeda. Sebuah rumah dapat berubah menjadi homestay, keterampilan membatik dapat menjadi produk bernilai jual, kemampuan memasak dapat berkembang menjadi usaha kuliner, sementara pengetahuan tentang sejarah dan budaya dapat menjadi jasa pemandu wisata. Dengan pola seperti ini, manfaat kedatangan wisatawan tidak berhenti pada satu pelaku usaha. Perputaran ekonomi dapat melibatkan pemilik homestay, pelaku UMKM, pemandu, seniman, pengrajin, hingga masyarakat yang menyediakan berbagai kebutuhan wisatawan. Inilah bentuk kewirausahaan yang menarik dari Kemiren: bukan sekadar menciptakan satu usaha yang besar, tetapi membangun ekosistem usaha yang memungkinkan banyak warga tumbuh dari potensi yang sama.
Perkembangan tersebut juga menunjukkan bahwa kewirausahaan desa tidak selalu harus dimulai dari modal yang besar. Kreativitas dalam membaca potensi justru dapat menjadi modal awal yang penting. Kopi, batik, makanan tradisional, kerajinan, kesenian, hingga rumah warga dapat memiliki nilai ekonomi ketika dikembangkan dengan cara yang tepat. Teknologi digital juga dapat menjadi jembatan untuk membawa produk lokal keluar dari batas geografis desa. Produk yang sebelumnya hanya dikenal oleh masyarakat sekitar dapat diperkenalkan melalui media sosial, marketplace, maupun berbagai saluran digital lainnya.
Dalam perkembangan DSA Kemiren hingga 2026, sekitar 300 warga telah terjangkau program, dengan sekitar 40 usaha lokal, 40 anggota Pokdarwis, serta sekitar 50 homestay yang menyediakan 92 kamar. Pendapatan rata-rata anggota Pokdarwis juga dilaporkan meningkat dari sekitar Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta per bulan. Angka tersebut bukan sekadar statistik, tetapi menjadi gambaran bahwa ketika potensi desa dikelola secara bersama, dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat. Kewirausahaan akhirnya bukan hanya tentang menjual produk, melainkan tentang menciptakan kesempatan agar masyarakat dapat menjadi pelaku utama dalam pertumbuhan ekonomi desanya sendiri.
Namun, membangun desa tidak cukup hanya dengan meningkatkan pendapatan. Kemajuan ekonomi perlu berjalan berdampingan dengan kualitas hidup masyarakat dan keberlanjutan lingkungan. Melalui Desa Sejahtera Astra, pengembangan Kemiren mencakup empat bidang yang saling berkaitan, yaitu kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan. Pendidikan dapat hadir melalui proses mengenalkan budaya dan keterampilan lokal kepada generasi muda maupun wisatawan, sehingga pengetahuan yang diwariskan tidak berhenti pada satu generasi.
Dalam bidang lingkungan, pengelolaan sampah dan penggunaan komposter menjadi bagian dari upaya menjaga agar perkembangan desa wisata tidak merusak ruang hidup masyarakat. Pada bidang kesehatan, penguatan layanan dan kesadaran kesehatan menjadi bagian dari fondasi kehidupan warga. Sementara kewirausahaan menjadi salah satu penggerak ekonomi melalui UMKM, homestay, pariwisata, produk budaya, dan berbagai aktivitas masyarakat. Keempat bidang tersebut memperlihatkan bahwa konsep kesejahteraan desa memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar peningkatan omzet. Desa yang benar-benar berkembang adalah desa yang mampu membuat masyarakatnya memperoleh penghasilan, mendapatkan pengetahuan, menjaga kesehatan, sekaligus mempertahankan lingkungan tempat mereka hidup.
Pada akhirnya, kisah Mohammad Edy Saputro bukan hanya tentang seorang penggerak yang membantu mengembangkan pariwisata Kemiren. Kisah ini adalah tentang cara melihat sesuatu yang sering kali dianggap biasa menjadi sesuatu yang memiliki nilai. Batik bukan sekadar kain, kopi bukan sekadar minuman, rumah bukan sekadar tempat tinggal, dan tradisi bukan sekadar cerita masa lalu. Ketika semuanya dikelola bersama, hal-hal tersebut dapat menjadi bagian dari rantai ekonomi yang menghidupi masyarakat. Edy menjadi salah satu sosok yang mendorong perubahan cara pandang tersebut, sementara masyarakat menjadi pelaku yang membuat perubahan itu benar-benar hidup.
Dukungan Desa Sejahtera Astra kemudian memperkuat perjalanan tersebut dengan pendekatan yang menyatukan kewirausahaan, pendidikan, kesehatan, dan lingkungan. Kemiren mungkin tidak memiliki pantai atau gunung sebagai daya tarik utamanya, tetapi masyarakatnya memiliki sesuatu yang jauh lebih melekat pada identitas mereka: budaya Osing. Di Kemiren, budaya tidak hanya dijaga agar tetap hidup sebagai warisan leluhur. Budaya diberi ruang untuk menjadi pengetahuan, menjadi pengalaman, menjadi usaha, dan pada akhirnya menjadi jalan bagi masyarakat untuk membangun masa depan mereka sendiri.
Baca Juga
Artikel Terkait
Kolom
-
Matinya Era RPUL: Kenapa Hafalan Nama Pejabat Sudah Tidak Relevan Lagi?
-
Gema Lesung Kemiren: Menenun Asa dan Wirausaha di Jantung Suku Osing
-
Eksploitasi Rasa Iba: Kenali Sadfishing sebagai Modus Baru Penipuan Digital
-
Beli Barang Murah di Online Shop: Solusi Hemat atau Malah Bikin Boncos?
-
Parkir Ngepruk di Solo: Mengapa Masalah Parkir Liar Tak Akan Hilang Hanya dengan Dibina
Terkini
-
Review Bumi Manusia: Kisah Minke Melawan Ketidakadilan di Masa Kolonial
-
Kasus Pertanahan Capai 56.844, Mengapa Masyarakat Perlu Melek Soal Tanah?
-
Teropong Pendidikan Kita: Membaca Wajah Pendidikan Indonesia 2006-2007
-
Bukan Ducati! Ancaman Aprilia Juatru Datang dari Tim Satelitnya Sendiri
-
Dont Say Good Luck: Kisah Remaja Dihadapkan Antara Mimpi atau Keluarga