“Ngapain jauh-jauh kalau desaku sendiri surga yang belum dijual?” katanya. “Dijual bukan berarti dieksploitasi ya, tapi ditunjukan untuk dilihat, dinikmati, dijaga,” lanjutnya.
Begitulah jawaban dari pria kelahiran Les, 11 Februari 1987 yang dikenal dengan nama Nyoman Nadiana atau lebih akrab disapa Don Rare, ketika ditanya alasannya kembali ke kampung halaman.
Sebelum menjadi motor penggerak Desa Les, Bli Nyoman bekerja sebagai pemandu wisata di kawasan Bali Selatan yang khas dengan aroma pantai dan persaingan antar pejuang rupiah di kawasan Kuta. Hingga akhirnya dia menyadari kampungnya di Bali Utara merupakan ladang yang potensial untuk digarap.
Desa Les, sebuah desa tua Bali Mula yang terletak di Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali Utara, memiliki alam yang memesona. Berbagai destinasi wisata ada di desa ini. Air Terjun “Yeh Mampeh” yang jalurnya seperti membelah perbukitan, pura, wisata bahari, wisata pembuatan garam tradisional, serta produk-produk lokal lainnya yang ada di Desa Les menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk berkunjung kembali.
Bli Nyoman berpikir, daripada berebut piring nasi di kawasan Bali Selatan, mengapa tidak menggarap tanah kelahirannya sendiri sebagai ladang rezeki.
Sejak dulu ketika bekerja di wilayah selatan, Bli Nyoman melabeli dirinya dengan branding “3P” yaitu “Pedagang, Pemandu, Pejalan,” yang bukan sekadar tagline tapi merupakan gaya hidup, jadwal yang padat, dan semangat yang membara.
Dia hobi berkelana ke semua penjuru arah mata angin untuk menemukan semua hal tentang hidup dan kehidupan lewat cerita-cerita. Tak heran, jika di laman Facebook-nya ia tampak begitu dinamis. Hari ini dia berjongkok di rumah salah satu warga yang sedang menyuling arak di Desa Les. Besok story yang dia unggah dirinya sudah berada di Thailand.
Tidak ada yang tahu pasti mengapa dia di sana. Apakah membawa turis, jualan gula juruh, atau jalan-jalan sambil mempelajari strategi promosi wisata sekaligus mempromosikan garam Les produksi sang ayah.
Berbekal latar belakang sebagai pemandu wisata, hal itu mendorongnya menjadi motor penggerak pariwisata berbasis komunitas. Bli Don Rare begitu aktif dan lincah, selalu saja ada gebrakan yang dia lakukan untuk mengembangkan potensi lokal Desa Les.
Mulai dari membantu pengusaha-pengusaha kecil di desa itu untuk memasarkan produk-produk lokal mereka, mulai dari gula juruh, minyak kelapa, garam, arak lokal, hingga hasil kerajinan dari Desa Les. Ia akan bergerak sendiri dengan sepeda motornya melayani pesanan produk lokal Desa Les dari seluruh Bali, bahkan hingga Lombok dan Banyuwangi.
Visi besarnya adalah membangkitkan desa lewat anak muda dan rasa bangga akan kampung halaman. Ia ingin memperkenalkan produk-produk mereka ke seluruh Bali, bahkan kalau bisa ke seluruh dunia.
Ambisinya adalah memperkenalkan semua potensi yang dimiliki Desa Les kepada semua orang, baik yang sudah berkunjung maupun yang belum sempat berkunjung. Untuk itu, ia juga mengembangkan secara mandiri satu paket tour untuk wisatawan yang ia beri nama Tourdeles Bali.
Tourdeles Bali
Konsep paket Tourdeles Bali menawarkan pengalaman wisata alam di Desa Les, Bali Utara, dengan fasilitas antar jemput ke tempat wisata menggunakan sepeda motor bersama pemandu wisata lokal. Kemudian para wisatawan diajak untuk jalan kaki, menyusuri jalan, rumah-rumah penduduk, menyusuri pantai, dan bukit, melihat bagaimana nelayan mendaratkan perahu, serta bagaimana proses pembuatan garam tradisional. Tak lupa juga sajian kopi dan singkong rebus tradisional, serta suvenir khas dari suku setempat.
Jika biasanya para wisatawan ditawarkan tempat-tempat besar yang sudah terkenal, Tourdeles membawa para turis ke tempat tidak biasa yang belum terkenal, namun pengalaman yang ditawarkan bisa dikatakan mahal.
Banyak usaha yang dibangun secara besar namun kemudian perlahan mulai surut dan bangkrut. Don Rare memulainya dengan pariwisata kecil-kecilan yang bisa saja bertumbuh menjadi bisnis yang besar.
Dia memperkenalkan sebuah proses sebagai paket wisatanya, contohnya bagaimana proses pembuatan garam di Les. Selain menjual produknya, para wisatawan menikmati proses pembuatan garam. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Turis dapat pengalaman, warga dapat imbalan, produk bisa dikenal.
Dukungan Astra untuk Pertahankan Warisan Garam Tradisional
Berkunjung ke ladang garam sumber foto: Don Rare
“Para petani garam tetap bekerja. Mereka datang pagi-pagi sekali tanpa perlu disuruh. Tanpa perlu slogan. Tanpa perlu menjadi viral. Mereka hanya melakukan apa yang telah dilakukan leluhur mereka selama berabad-abad: mengubah laut menjadi garam, dan mengubah kesabaran menjadi penghidupan. Dan selama masih ada orang-orang yang bersedia menunggu matahari sambil menjaga tradisi itu, saya percaya musim garam di Desa Les belum akan benar-benar berakhir,” ucap Don Rare.
Di tengah berkurangnya jumlah petani garam, sangat penting dilakukan upaya pelestarian dan pengembangan agar tradisi ini tetap bertahan. Program Desa Sejahtera Astra menjadi bentuk dukungan nyata untuk menjaga keberlangsungan produksi garam sekaligus meningkatkan nilai ekonominya.
Selain garam palungan, masyarakat juga mulai mengembangkan berbagai inovasi produk garam menggunakan metode bio membran, sehingga garam tradisional tidak hanya bertahan tetapi juga berkembang menjadi produk unggulan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dengan pembinaan dan promosi yang menarik serta berkelanjutan, diharapkan dapat menarik minat generasi muda untuk ikut terlibat dalam usaha garam tradisional sehingga warisan tersebut tetap lestari di masa depan.
Desa Les sebagai salah satu Desa Sejahtera Astra didampingi lewat empat fokus utama yang dekat dengan kehidupan masyarakat: kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan yang akan jadi warisan bagi penerus. Desa Sejahtera Astra bukan sekadar tempat untuk dikunjungi, tapi sebagai bukti bahwa yang sedang dibangun bukan hanya wisata, melainkan ekosistem hidup masyarakatnya.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Bli Nyoman, Sosok Penggerak Desa Sejahtera Astra di Desa Les, Buleleng Bali
-
Cerdas! Begini Langkah Kang Edai Mengubah Desa Kemiren Jadi Naik Kelas
-
Potensi Jadi Aksi: Cerita Kang Edai Dari Desa Sejahtera Astra Kemiren
-
Desa Kemiren: Menjaga Budaya, Menguatkan Warga dan Mengembangkan Pariwisata
-
From Zero to Hero, Kisah Kang Edai Bawa Budaya Osing Mendunia
News
-
Wajah Baru Pasar Godean Usai Relokasi, Pedagang Masih Perlu Beradaptasi
-
Cerdas! Begini Langkah Kang Edai Mengubah Desa Kemiren Jadi Naik Kelas
-
Lomba Menghias Pasar Godean HUT ke-81 RI, Jadi Wujud Syukur Pedagang
-
Potensi Jadi Aksi: Cerita Kang Edai Dari Desa Sejahtera Astra Kemiren
-
UPH Festival 2026 Bekali Hampir 7.000 Mahasiswa Baru Temukan Jati Diri dan Panggilan sebagai Menemu
Terkini
-
Ulasan Red Swan: Kisah Kehidupan Elite yang Dibangun dari Perebutan Kuasa
-
Intens Tapi Groovy, NCT 127 Ungkap Pesan dan Energi Positif di Album BLINGY
-
Bli Nyoman, Sosok Penggerak Desa Sejahtera Astra di Desa Les, Buleleng Bali
-
Sukses Besar! Tim Produksi Ungkap Keinginan Buat Sekuel The Breakfast Club
-
Berburu Keripik Belut di Antara Beton Megah Pasar Godean