Hernawan | Nida Aulia
Ilustrasi gaya hidup minimalis (Pexels/dada _design)
Nida Aulia

Minimalist lifestyle atau gaya hidup minimalis adalah gaya hidup yang sederhana, menghilangkan hal-hal dalam hidup yang tidak memberi manfaat, dan hidup hanya dengan apa yang kita butuhkan.

Gaya hidup minimalis ditandai dengan sikap dan perilaku anti-konsumerisme. Artinya, orang yang mengadopsi gaya hidup minimalis fokus untuk memiliki sedikit barang. Gaya hidup dengan konsumsi rendah seperti ini dapat membantu kita dalam mengurangi barang-barang yang tidak perlu.

Mengonsumsi hanya apa yang dibutuhkan berpotensi menghasilkan jejak karbon yang lebih rendah menurut jurnal WIREs Climate Change. Mengurangi barang-barang yang tidak perlu di rumah, kita dapat membantu mengurangi jejak karbon yang bertanggung jawab atas emisi gas rumah kaca yang besar. 

Peningkatan jejak karbon merupakan masalah lingkungan yang serius, yang berkaitan dengan konsumsi listrik dan gas. Menyadur dari WIREs Climate Change, jejak karbon yang dihasilkan dari produk-produk rumah tangga sebanyak 20%.

Selain pengurangan jejak karbon, gaya hidup minimalis juga memiliki banyak manfaat lainnya untuk lingkungan, seperti penghematan sumber daya, daur ulang, dan pengurangan limbah.

Mengurangi barang-barang yang tidak perlu ternyata juga dapat membantu kita mengurangi gangguan pikiran yang tidak penting dan mengubah proses kognitif kita untuk fokus pada hal-hal yang penting.

Menyadur dari jurnal PubMed Central, gaya hidup minimalis memiliki banyak kelebihan untuk kesehatan mental kita, seperti meningkatkan kebahagiaan dan membuat kita tidak menyibukkan pikiran dengan hal-hal yang tidak penting.

Tidak menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak penting memungkinkan kita untuk berkonsentrasi pada apa yang menjadi prioritas. Pada gilirannya, akan meningkatkan fokus dan produktivitas sehingga mengurangi stres dan menjaga kehidupan bebas dari kekacauan hidup.

Dalam survei yang dilakukan oleh Kang dan kawan-kawan pada tahun 2021 terhadap 1040 orang, ditemukan bahwa orang-orang yang menganut gaya hidup minimalis memiliki kesejahteraan yang lebih tinggi, kebahagiaan yang lebih tinggi, dan tingkat depresi yang lebih rendah dibandingkan dengan populasi umum.

Didukung dengan studi kualitatif pada tahun 2020 yang dilakukan oleh Lloyd dan Pennington terhadap 10 orang penganut gaya hidup minimalis, menemukan bahwa mereka mengalami kesejahteraan yang lebih baik setelah mengadopsi minimalist lifestyle.

Menurut jurnal WIREs Climate Change, gaya hidup minimalis dapat membantu mengurangi tingkat kekacauan hidup, yang pada gilirannya dapat mengurangi tingkat penundaan pekerjaan dan menurunkan tingkat hormon kortisol dalam tubuh. Sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan secara keseluruhan.

Gaya hidup minimalis sudah seharusnya menjadi kebutuhan saat ini dan harus dipromosikan secara global karena memiliki dampak positif dari sudut pandang individu maupun lingkungan.

Menyadur dari jurnal PubMed Central, orang-orang yang menjalani gaya hidup minimalis diketahui menunjukkan kepedulian yang kuat terhadap lingkungan, karena mereka melihatnya sebagai cara yang paling ampuh untuk memberantas masalah lingkungan. Mereka juga percaya bahwa gaya hidup tersebut memberikan banyak manfaat terhadap diri mereka sendiri, termasuk kebahagiaan, kepuasan hidup, makna, dan hubungan pribadi yang lebih baik.

Pada akhirnya, gaya hidup minimalis ikut serta berkontribusi dalam memperbaiki kerusakan lingkungan dan menguntungkan diri kita yang mengadopsi gaya hidup ini. 

Gaya hidup minimalis adalah pilihan gaya hidup ramah lingkungan, karena sejumlah manfaat lingkungan dapat diambil tanpa berdampak negatif terhadap kehidupan kita. Malah kita akan mendapatkan banyak dampak positif bagi diri kita, terutama kesehatan mental. Selain itu, yang terpenting adalah menerapkan gaya hidup minimalis artinya kita ikut menjaga bumi dari berbagai kerusakan.