Pagi itu sinar matahari terasa hangat dan angin berembus pelan seolah sedang menghiburku. Perlahan kulangkahkan kaki menuju sebuah tempat yang jauh dari hiruk pikuk.
Duduk terdiam memandangi langit pagi yang dihiasi awan. Headset sudah terpasang di telinga, bersiap ikut merayakan sebuah momen besar dalam hidupku: Melepaskanmu.
Pelan, angin menabrak tubuhku. Suara-suara musik dengan alunan lirik menyayat hati sudah memenuhi telingaku. Kupejamkan mata-- Lalu air mataku menetes. Saat itu kuakui, wajahmu terbayang dalam gelap. Diam-diam mencuri bahagiaku lagi yang sudah kutumpuk sedemikian rupa.
Aku teringat senyummu, dan tawa-tawa yang sudah kita bagi bersama. Kembali terkenang perjalanan sulit yang kulalui bersamamu, tetapi tetap terasa menyenangkan. Di mana lagi aku menemukan sebuah senyum yang mampu meredakan badai apa pun dalam hati, jika bukan darimu?
Tentu saja sulit bertahan dalam waktu lama, tetapi tetap saja kuupayakan meski berkali-kali terjatuh. Aku terus bangkit, dengan alasan yang terkesan dibuat-buat sedemikian sedihnya jika bukan kamu orangnya. Aku bertekad bertahan sampai merasa lelah kemudian menyerah. Hingga aku tersadar, mungkin tidak akan lelah apalagi menyerah.
Lalu, aku menemukan sebuah jalan keluar yang selama ini aku singkirkan jauh-jauh: Merelakan.
Kini aku memahami jika dalam hidup, hal-hal seperti senyummu tidak bisa bertahan selamanya. Meski sangat ingin, meski berupaya sekuat tenaga. Jika bukan menjadi hak milik, memang akan tetap terlepas. Sayangnya dari sekian banyak hal yang aku miliki di dunia ini, ternyata kamu yang harus terlepas dari kehidupanku.
Maka, perayaan merelakan adalah dengan menemukan makna dirimu yang selama ini tertutup egoku yang katanya terlalu mencintaimu.
Aku menyadari, di balik segala jatuh bangun bersamamu, sebenarnya sangat menyenangkan bertemu kamu di dunia ini.
Aku pun tersenyum, membuka mata dan mengelus pipiku yang sedang menampilkan jejak air mata mengering. Menarik napas lalu mengembuskannya perlahan, kali ini berupaya kuat dalam hal mengenangmu dalam hidupku.
Sangat menyenangkan bertemu kamu di dunia ini. Terima kasih sudah menjadi menyenangkan di duniaku yang kacau balau.
Aku pamit, melangkah tanpamu.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Dari Isano Mbias untuk Indonesia: BRI Dukung Petani Lokal Berdaya, Swasembada Pangan Terjaga
-
Menemukan Makna Hidup dalam Buku Hidupku Kenapa Gini-Gini Aja
-
Panen Untung Didukung BRI, Petani Kelengkeng Tuban Sukses Kembangkan New Kristal
-
Perjalanan Desa Jeruk Semboro di Klasterku Hidupku, Awal Diremehkan hingga Hasil Luar Biasa
-
Klaster Usaha Jamur DJ Binaan BRI Sukses Berdayakan Ibu-ibu di Banjarmasin
Sastra
Terkini
-
Review Novel 'Entrok': Perjalanan Perempuan dalam Ketidakadilan Sosial
-
Lebaran Usai, Dompet Nangis? Waspada Jebakan Pinjol yang Mengintai!
-
Mark NCT Wujudkan Mimpi Jadi Bintang di Teaser Terbaru Album The Firstfruit
-
Review Film All We Imagine as Light: Kesunyian di Tengah Hiruk-pikuk Mumbai
-
Generasi Unggul: Warisan Ki Hajar Dewantara, Mimpi Indonesia Emas 2045?