Eko Saputra
Eko Saputra
Ilustrasi Suasana di Jalan. (pixabay.com//3612474)

Menurut pengamatanku, bukan hanya hujan dan kemarau yang memiliki musim. Hal-hal yang lain juga punya musimnya masing-masing. Seperti musim layang-layang, musim rambutan, atau musim pencurian sepeda motor. Belakangan ini, daerah tempatku tinggal sedang mendapati musim kecelakaan.

Pertama, kudengar berita sebuah mobil pick-up bertabrakan dengan sepeda motor. Motornya hancur, mobilnya menyasar kedai kopi di pinggir jalan. Kalau sudah ada berita kecelakaan terdengar di telinga, tinggal menunggu waktu kapan kecelakaan kedua, ketiga, dan seterusnya terjadi. Aku yakin akan hal itu, dan dugaanku tidak pernah salah sekali pun. 

Kecelakaan kedua terjadi malam kemarin. Sopir truk yang diduga mengantuk melaju kencang di jalanan yang sepi. Sepi sekali, karena hari sudah larut malam. Tapi sial bagi pengendara sepeda motor dari arah berlawanan yang baru pulang kerja karena lembur itu. Mereka beradu muka. Tak perlu diceritakan siapa yang menang.

Dan baru pagi ini kudengar lagi kecelakaan yang ketiga. Mirisnya mereka anak-anak sekolah yang gagal dididik oleh orang tua dan guru mereka. Mereka tidak mengerti apakah sepeda motor boleh ditumpangi empat orang atau tidak. Apakah di jalan raya yang ramai aksi standing dan kebut-kebutan merupakan hal berbahaya atau tidak. Mereka tidak memikirkannya. Yang jelas, hal yang mereka lakukan itu sepertinya tampak keren dan berani.

Malang bagi mereka. Pagi adalah waktu di mana jalan raya sedang ramai-ramainya. Bukan hanya karena anak-anak sekolah, tapi juga orang-orang dewasa yang berangkat kerja. Pagi itu, sebuah sedan hitam melaju kencang seperti kesetanan.

Pengendaranya pegawai kantor yang hampir terlambat. Ia pasti memikirkan kata-kata apa lagi yang bakal keluar dari mulut atasannya. Sehingga tidak sempat memikirkan keselamatan. Ternyata bukan hanya narkoba yang merusak pikiran, pekerjaan dan jabatan kadang-kadang bisa lebih buruk.

Tepat di persimpangan, empat anak sekolahan dan pegawai kantor itu bertabrakan dan mendapati malangnya masing-masing. Jangan tanya berapa lama kemacetan yang berhasil mereka buat. Berapa banyak darah yang tumpah. Atau seberapa parah kerusakan yang terjadi.

Orang-orang mungkin mengambil hikmah dari kejadian buruk ini. Tapi jangan minta aku untuk melakukannya. Aku akan sangat kesulitan mengambil pelajaran atas peristiwa ini karena pikiranku sedang kacau.

Anak-anak sekolahan itu tak lain adalah teman-temanku. Aku menyesal meminjamkan sepeda motorku pada mereka yang mau menjemput PR ke rumah. Dan si pengendara sedan hitam itu adalah tetanggaku sendiri. Tak usah dibayangkan betapa ironisnya kecelakaan ketiga yang—secara tidak langsung itu—menimpaku.

Aku mendapatkan kabar buruk itu dari salah satu guru yang kebetulan menyaksikannya (tentu guru ini terlambat). Tak ambil tempo, aku dan wali kelasku lantas bergegas ke rumah sakit tempat ambulans membawa mereka. Wali kelasku menyetir mobil sama kesetanannya.

Di jalanan, tak terhitung lagi sudah berapa kecelakaan lainnya terjadi. Sejak yang ketiga tadi, aku tidak minat lagi menghitungnya. Ada pengendara perempuan muda yang remnya tidak berfungsi sehingga menabrak bagian belakang mobil taksi saat di lampu merah.

Ada ibu-ibu yang belok tidak sesuai lampu sein sehingga bersenggolan dengan pengendara lain. Ada pula pengemudi mobil yang menabrak seekor kambing yang sedang menyeberang jalan, meski pun kambing itu berjalan di zebracross. Dan kecelakaan kecil lainnya.

Perjalanan ke rumah sakit memakan waktu kurang lebih seperempat jam, itu sudah yang paling cepat. Kami bergegas masuk. Namun, alangkah terkejutnya aku dan guruku ketika pihak rumah sakit mengatakan bahwa sejak pagi tadi tak ada pasien yang datang.

*Delapan menit kemudian, kami mendapati kabar bahwa dua ambulans yang membawa tetangga dan teman-temanku itu mengalami kecelakaan.

Pekanbaru, 2020

Komentar