Nama pahlawan Radjiman Wedyodiningrat mungkin tak sepopuler dengan deretan nama-nama, seperti Ir. Soekarno, Muhammad Hatta, Jenderal Sudirman, dan pahlawan bangsa lainnya. Namun, peran Radjiman terhadap kemerdekaan Indonesia juga tidaklah boleh disepelekan. Selain beliau dikenal sebagai dokter yang profesional dan andal, beliau juga banyak aktif dalam pergerakan nasional untuk merebut kemerdekaan.
Radjiman Wedyodiningrat lahir pada tanggal 21 April 2021 di Yogyakarta. Ayahnya, Sutrodono meninggal saat Radjiman masih kecil. Akhirnya, Radjiman pun dijadikan anak angkat oleh dokter Wahidin Sudirohusodo, beliau dididik dan dibesarkan secara layak dalam pengasuhan anak angkatnya itu.
Nasib Radjiman dalam memperoleh pendidikan, bisa dikatakan baik. Setelah tamat belajar di sekolah dasar Belanda (Europeesche Lagere School, 1893), beliau pun melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi dan meraih kelulusan sebagai dokter jiwa pada tahun 1898.
Radjiman yang kedudukannya sebagai dokter jiwa kala itu, membuat beliau dapat bekerja di beberapa tempat, diantaranya Banyumas, Purworejo, Semarang, dan Madiun. Selanjutnya, beliau kembali melanjutkan pelajaran dan menjadi pembantu guru (assistant-leeraar) di STOVIA di Batavia sampai ia lulus sebagai Indisch Arts pada tahun 1904. Dua tahun setelah itu, Radjiman kembali bekerja di Sragen, Surakarta, dan di rumah sakit jiwa Lawang, Jawa Timur.
Tidak sampai di situ, Radjiman pun bertekad kuat menjadi dokter andal dengan pergi ke Belanda dalam rangka meneruskan pendidikan di sekolah dokter tinggi di Amsterdam hingga mencapai gelar Arts pada tahun 1910.
Dengan itu, posisi Radjiman sudah setaraf dengan dokter-dokter lain yang juga lulusan universitas bangsa Belanda. Padahal, hal yang sangat sulit dicapai oleh anak pribumi, jika tidak sunngguh-sungguh cemerlang kecakapan dan kepandaiannya.
Dalam pergerakan nasional kemerdekaan, Radjiman adalah anggota organisasi Budi Utomo yang berdiri sejak 1908 itu, kemudian menjadi Parindra setelah berfusi dengan PBI pada akhir tahun 1935. Beliau sering kali menjabat sebagai wakil ketua Pengurus Besar Budi Otomo (1914-1922).
Saat pemerintah Hindia Belanda membentuk dan membuka Volkstraad pada tahun 1918, Radjiman diangkat sebagai salah satu anggotanya dan beberapa sering kali menerima jabatan sebagai anggota selama 1918-1931.
Selanjutnya, ketika pergerakan nasional mulai mengenal Studieclub di berbagai tempat, salah satunya di Sala yang dikenal dengan nama Algemeene Studieclub dan Indonesische Studieclub. Posisi Radjiman di organisasi itu untuk memimpin penerbitan, yakni majalah tengah bulanan 'Timbul' (1926-1930).
Ketika Jepang menduduki Indonesia, sistem penjajahan mengalami perbedaan sewaktu Belanda. Karakter Jepang makin agresif dan ganas dalam melakukan tindakan yang tidak manusiawi. Sehingga waktu itu juga, taktik Soekarno untuk merubah cara perlawanan dengan bersikan 'Kooperasi' atau bekerjasama dengan Jepang. Padahal, waktu penjajahan Belanda, Soekarno sangat menolak dengan bekerjasama dengan pemerintahan Belanda.
Saat Jepang terdesak melawan sekutu dalam Perang Dunia II, kala itu juga Jepang akan menepati janjinya akan memberikan kemerdekaan pada bangsa Indonesia. Akhirnya, dibentuk Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dengan Radjiman sebagai ketuanya. Ketika dalam sidang BPUPKI memusyawarahkan mengenai dasar negara Indonesia.
Sehingga peran BPUPKI dalam bangsa ini tidaklah boleh dilupakan, karena melalui sidang BPUPKI, hari lahir Pancasila ditetapkan yakni 1 Juni 1945.
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaanya pada tanggal 17 Agustus 1945, beliau kembali menempati posisi penting. Radjiman diangkat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) Republik Indonesia Serikat (RIS) yang berbentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada tanggal 17 Agustus 1950.
Di samping itu pula, Radjiman juga masik sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Namun, beliau tidak bisa mengabdikan dirinya lama di DPR RI, dua tahun berikutnya beliau meninggal karena usia lanjut pada tanggal 20 September 1952.
Referensi:
Prasetya, Johan. "Pahlawan-Pahlawan Bangsa yang Terlupakan." Penerbit Saufa.
Baca Juga
-
Perselingkuhan Artis dan Standar Ganda: Mengapa Kita Gemar Melempar Batu Lewat Jempol?
-
Media Ngebut, Kebenaran Terengah-engah
-
Kierkegaard dan Eksistensialisme: Menemukan Makna Hidup di Dunia yang Berisik
-
Standar TikTok: Katalog Hidup Mewah yang Bikin Kita Miskin Mental
-
Ketika Rumah Tak Lagi Ramah: Anak yang Tumbuh di Tengah Riuh KDRT
Artikel Terkait
Ulasan
-
Novel Lights Into You: Tentang Luka dan Pilihan untuk Bertahan
-
Buku If All the World Were: Refleksi Lembut Soal Kepergian Orang Terkasih
-
Novel Sendiri: Perjalanan untuk Menerima Kehilangan
-
Teror Psikologis Tergila dan Bikin Traumatis, Sinopsis Film 'Send Help'
-
Buku No Hard Feelings: Cara Mengelola Emosi di Tempat Kerja
Terkini
-
IM MONSTA X Umumkan Tanggal Wajib Militer, Tetap Ikut Konser Seoul 2026
-
4 Cleanser Alpha Arbutin untuk Wajah Bersih dan Cerah Maksimal Bebas Kusam
-
Anti Delay! 5 Mouse Gaming Wireless 100 Ribuan Paling Worth It
-
Park Jung Min dan Kenjiro Tsuda Naratori Teaser Mini Album Baru ENHYPEN
-
4 Inspirasi Daily Outfit Lu Yu Xiao untuk Tampilan yang Manis dan Sopan!