Bagaimana jadinya jika seorang gadis sederhana yang ramah, tiba-tiba masuk dalam keluarga konglomerat ternama? Apakah bisa menjaga keramahannya dan juga kesederhanaannya? Atau justru akan berubah sikap dan sifat karena pengaruh harta dan kekuasaan yang memewahkan kehidupan barunya?
Tentu, sekelumit pertanyaan tersebut sering menghinggapi benak kita ketika terjadi kondisi seperti itu di kehidupan nyata. Tak jarang, seseorang mampu mempertahankan sifat sederhananya meski masuk dalam lingkungan yang mewah, tapi tak jarang pula banyak yang mengalami perubahan sifat setelah mengecap kemewahan dalam hidup mereka.
Sayangnya, di film House of Gucci, tokoh utama yang diperankan oleh Lady Gaga, mengalami kondisi yang kedua. Patrizia Reggiani (sang tokoh utama yang diperankan oleh Lady Gaga) berubah menjadi seseorang yang oportunis setelah menikah dengan keluarga Gucci dan memegang kerajaan bisnis Gucci.
Semula, Patrizia Reggiani adalah seorang gadis yang sederhana, tapi seiring dengan kemewahan yang didapatkannya setelah menikah, dirinya berubah dan menghalalkan segala cara untuk bisa menguasai aset kerajaan bisnis milik keluarga suaminya tersebut. Pada akhirnya, beragam ambisi tak terbendung dari Patrizia, membuatnya harus melakukan trik, penghianatan, hingga tindakan kriminal yang tentu saja tak patut untuk dijadikan contoh.
Disadur dari laman variety, film House of Gucci ini sendiri terinspirasi dari berbagai peristiwa yang melingkupi keberadaan keluarga Gucci di Italia. Meskipun dibumbui dengan berbagai adegan penyedap, tapi seperti yang saya tuliskan, film ini merupakan sebuah visualisasi adegan yang terinspirasi dari keberadaan keluarga Gucci. Segala intrik yang terjadi, suksesi kepemilikan, hingga adegan-adegan kriminal, disajikan sesuai dengan “kabar berita” yang beredar di masyarakat mengenai keluarga ini.
Secara kualitas dan penerimaan penonton, film berdurasi 2 jam 37 menit yang juga dibintangi oleh Adam Driver dan Al Pacino ini mendapatkan respons cukup baik. Di laman IMDb, film yang rilis pada 24 November 2021 ini mendapatkan rating sebesar 7,1/10 dari 1,6K pengulas. Sementara dari laman Rotten Tomatoes, penerimaan penonton mencapai 88 persen. Sebuah angka yang relatif “aman,” mengingat film ini rilis bersamaan dengan film-film berkualitas seperti Encanto dan juga Resident Evil: Welcome to Raccoon City.
Bagaimana? Tertarik untuk menonton film ini untuk memetik pelajaran dan hikmah yang terkandung di dalamnya?
Tag
Baca Juga
-
Viral! Pendaki Rinjani Bawa Sapi Hidup untuk Logistik, Publik Sebut Tindakan Ini Sudah Keterlaluan
-
Dua Sisi Kebijakan Prabowo: Antara Ambisi Ekonomi dan Matinya Perhatian pada Pendidikan
-
Bongkar Tuntas Final Piala Dunia 2026: Kenapa Tudingan Konspirasi Argentina Mengalah Itu Konyol?
-
Surat Terbuka untuk Ketua DPR: Jangankan Ngopi, ASN Guru Mau Liburan Saja Serba Salah!
-
Bukan Kebetulan! Ternyata Ini Bukti 'Semesta' Sudah Mengatur Spanyol Juara Piala Dunia 2026
Artikel Terkait
Ulasan
-
Ulasan Film Her: Kisah Cinta yang Mengajak Merenungkan Hubungan Manusia dan Teknologi
-
Spider-Man: Brand New Day, Pendewasaan Sang Pahlawan di Tengah Kesepian
-
Pernikahan Arwah: Setting Lokasi dan Tradisi Otentik dengan Nuansa Brutal
-
Ulasan Buku Cukup Jadi Kamu, Seni Menghargai Diri Tanpa Pengakuan Orang Lain
-
The Thursday Murder Club: Ketika Para Pensiunan Menjadi Detektif yang Tak Terduga
Terkini
-
5 HP Murah Baterai 6.000 mAh Awet Dipakai Seharian, Harga Mulai Rp1 Jutaan
-
Prabowo Resmi Naikkan Tukin TNI dan Kemhan, Apa Kabar Perbaikan Nasib Guru?
-
Viral! Pendaki Rinjani Bawa Sapi Hidup untuk Logistik, Publik Sebut Tindakan Ini Sudah Keterlaluan
-
Review Film 12.12: The Day, Perebutan Kekuasaan Oleh Ambisi Militer
-
Invisible Cost Perempuan: Wajah Lain Ketimpangan Gender dalam Ekonomi