Buku dengan judul Fikih Tour dan Travel yang ditulis oleh A. Qusyairi Ismail terbitan Pustaka Sidogiri 1434 Hijriyah ini adalah salah satu karya yang kecil bentuknya, tetapi besar manfaatnya.
Selama kaki manusia berpijak di atas bumi, maka bepergian adalah aktivitas yang tidak bisa dihindari. Dalam rangka memenuhi segala tuntutan hidup, safar (perjalanan) adalah kelaziman yang harus dijalani. Memang, sejatinya hidup adalah sebuah perantauan tiada akhir.
Hal yang kemudian tidak bisa dipisahkan dari perjalanan dan perantauan adalah kepayahan, kecapaian, keletihan dan segala sesuatu yang menyulitkan. Dari itu, Islam hadir untuk memberi kemudahan pada semua hamba dengan memberikan beberapa dispensasi hukum kepada para musafir, di antaranya adalah dengan mensyariatkan salat jamak dan qasar.
Islam juga telah mengatur tata krama dalam perjalanan, mulai dari tata krama sebelum berangkat perjalanan, di tengah perjalanan hingga pulang menuju kampung halaman kembali. Dalam perjalanan, tata krama atau adab seseorang dipertaruhkan, apabila adab dan tata krama seseorang dalam perjalanan tetap konsisten mengikuti apa yang telah diajarkan oleh Islam, berarti orang tersebut benar-benar memiliki budi pekerti luhur dan tata krama yang tinggi. Sebab, meskipun dalam kondisi sulit dan payah ia masih konsisten melakukan kewajibannya, dan tidak banyak orang yang bisa.
Karena itu, di bagian pertama dalam buku ini menyajikan adab-adab perjalanan. Disusul kemudian doa-doa dalam perjalanan, mulai dari berangkat hingga pulang kembali ke rumah asal.
Ulasan di dalam buku ini sangatlah simpel, singkat dan padat serta mudah dimengerti. Maka, layak jika buku ini dijadikan buku saku yang bisa dibawa dengan mudah sebagai teman perjalanan, dan bukan menjadi buku ilmiah yang layak dijadikan referensi.
Dari buku ini kita menjadi tahu bahwa tata krama bepergian itu harus terlebih dulu melunasi segala sesuatu yang menjadi tanggungan, seperti hutang, nafkah, barang titipan dan lain-lain, harus mohon izin kepada orang tua, minta saran kepada orang yang berpengalaman dan berilmu luas, berpamitan kepada keluarga, teman dan tetangga, dan lain sebagainya.
Buku ini juga dilengkapi dengan doa-doa dalam perjalanan, seperti doa keluar dari rumah, naik kendaraan, melihat sebuah desa, singgah di suatu tempat, pulang dari bepergian, ketika memasuki rumah, dan doa kepada orang yang baru datang dari perjalanan.
Baca Juga
-
Kisah Cinta, Kutu Buku, dan Petualangan Surealis: Review Jagat Rajawali Karya Eko Darmoko
-
Honor Pad X10 Mini Mengandalkan Layar 90 Hz, Bodi Metal, dan Baterai untuk Aktivitas Seharian
-
Tecno Spark 50S 5G Resmi Meluncur, Ponsel Terjangkau dengan Fitur FreeLink yang Menarik
-
Huawei FreeClip 2 Dual Color Rilis: TWS Unik dengan Desain Jepit Telinga dan Baterai Awet
-
Dompet Ayah Sepatu Ibu: Novel yang Membuat Saya Lebih Menghargai Perjuangan Orang Tua
Artikel Terkait
Ulasan
-
Gadis Minimarket: Satir Jenius Pegawai Toko Melawan Stigma Sosial
-
Melawan Trauma Body Shaming dalam Novel The Boy I Knew From YouTube
-
Ulasan Film The Imaginary: Ketika Imajinasi Menjadi Tempat untuk Bertahan
-
Petualangan Mahasiswa Menyelamatkan Nusantara dalam Novel Melangkah
-
Merawat Ingatan tentang Tanah Melayu dalam Kenangan-Kenanganku di Malaya
Terkini
-
Darurat Spyware di Indonesia: Saat Penyadapan Ilegal Makin Mudah Mengintai
-
Ironi Wajib Organisasi: Hak Sukarela yang Dipaksa oleh Birokrasi Kampus
-
4 Tone Up Cream SPF 30 Sat-set Bikin Wajah Cerah, Fresh, dan Terlindungi
-
Gaji Terbatas, Pengeluaran Terus Berjalan: Bisakah Downgrade Lifestyle Jadi Solusi?
-
Career Cushioning: Solusi Cerdas Hadapi Layoff atau Pemicu Burnout Baru?