Menjalin kedekatan dengan anak adalah tugas setiap orangtua. Hal ini sangat penting dipahami, sebab ketika seorang anak tidak memiliki kedekatan dengan orangtuanya, maka dia akan tumbuh menjadi pribadi yang kurang kasih sayang dan tidak peka dengan kondisi orangtuanya. Misalnya saat orangtua sedang sakit, sikap anak bisa saja acuh tak acuh, tak peduli alias masa bodoh.
Tak hanya itu, masih ada sederet dampak negatif yang akan ditimbulkan ketika anak tidak memiliki kedekatan dan ikatan batin dengan orangtuanya. Misalnya, anak akan mudah terpengaruh pergaulan di luar rumah. Dia akan lebih percaya dengan ucapan teman-temannya daripada ucapan orangtuanya sendiri. Hal ini tentu sangat berbahaya, sebab bila anak terpengaruh pergaulan yang tidak baik, maka segala nasihat orangtua tak akan mempan baginya.
Dalam buku berjudul Ayah Pintar, Ayah Idaman (2014) Miko Sechona menjelaskan, teman terbaik dan terdekat di saat anak masih berusia dini adalah orangtuanya. Ya, memang orangtualah yang seharusnya paling dekat, bukan orang lain. Namun, apakah hal itu sudah bisa dilakukan oleh semua orang tua atau seorang ayah? Pertanyaan ini muncul, karena dalam realitasnya, tidak seluruhnya dari para ayah bisa menjadi teman terdekat untuk anak-anaknya.
Seandainya semua ayah bisa menjadi teman (partner) terbaik bagi anak-anaknya, maka hal tersebut menjadi sinyal baik bagi anak dan sang ayah. Sebab, teman yang baik tidak akan pernah menunjukkan jalan yang salah. Tentu, tidak mungkin pula mengarahkan pada hal-hal yang cenderung merugikan, justru akan selalu berusaha mengarahkan ke jalan cahaya yang mencerahkan masa depan (Ayah Pintar, Ayah Idaman, halaman 106).
Tentu saja ada yang perlu digarisbawahi di sini, bahwa untuk menjadi orangtua (ayah maupun ibu) yang baik, harus membekali diri dengan ilmu pengetahuan atau wawasan yang memadai. Tanpa wawasan yang luas, bisa saja orangtua mengarahkan hal buruk kepada anaknya.
Selain itu, orangtua juga harus menyadari bahwa karakter serta potensi setiap anak itu berbeda. Jangan sampai orangtua memaksakan kehendak pada si anak. Terlebih bila anak tidak memiliki minat terhadap hal yang diperintahkan oleh orangtuanya. Misalnya, anak tidak bakat menjadi seorang guru, tapi orangtuanya memaksakan anak agar menjadi guru. Ini hanya sebuah perumpamaan saja.
Buku berjudul Ayah Pintar, Ayah Idaman karya Miko Sechona ini dapat dijadikan sebagai tambahan wawasan yang berharga bagi orangtua dalam mendidik putra-putrinya di rumah.
***
Tag
Baca Juga
-
Bahagia di Usia 48 dan Masih Lajang: Rahasia di Balik Berdamai dengan Diri Sendiri
-
Dari Batagor Bang Agus Hingga Pindang Bandeng: Menelusuri Ragam Kuliner di Jakarta
-
Review Buku Fobia Cewek: Kumpulan Kisah Lucu dari Pesantren hingga Jadi Penulis
-
Cinta Itu Fitrah, Tapi Sudahkah Kamu Menaruhnya di Tempat yang Tepat?
-
Berhenti Takut Merasa Sepi! Ini Rahasia Mengubah Kesendirian Menjadi Penyembuhan Diri
Artikel Terkait
Ulasan
-
"The Rock from the Sky" dan Pelajaran tentang Berani Menghadapi Perubahan
-
Maju: Jejak Pahit Si Kembang Gula, Film Anak Nggak Harus Kekanak-kanakan
-
Review Deep Water: Kendati Klise, Film Serangan Hiu Selalu Seru Ditonton!
-
Tokyo Schoolgirl Karya Osamu Dazai: Potret Kecemasan Remaja yang Mengusik
-
The Manipulated: Ketika Pria Lugu Melawan Konspirasi Kejam, Penuh Aksi dan Kritik Sosial
Terkini
-
Saat Jas Putih Diuji: Selelah-lelahnya Tenaga Kesehatan, Tetap Lebih Melelahkan Jadi Pasien
-
Harga Alat Medis Empat Kali Lipat, Bisakah Layanan Kesehatan Tetap Murah?
-
Bencana dari Hal Sepele: Bahaya Buang Puntung Rokok Sembarangan di Musim Kemarau
-
Fenomena AI Slop: Mengapa Poster UMKM Makin Seragam dan Bikin Kita Bosan?
-
Jangan Salahkan Attitude! Ini Alasan Logis Kenapa Gen Z Susah Cari Kerja