Al-Farabi, sejak kecil memiliki kecerdasan di atas rata-rata dan mempunyai bakat mumpuni untuk menguasai hampir setiap ilmu yang dipelajari. Al-farabi dengan nama asli Abu Nashr Muhammad bin Muhammad bin Tarkhan bin Auzalagh al-Farabi lahir sekitar tahun 890 di Wasij sebuah kampung di Kota Farab, Transoxiana, Turkestan (Ortar, Kazakhstan).
Dalam buku Tujuh Filsuf Muslim karangan Ahmad Zainul Hamdi, Al-Farabi berasal dari keluarga bangsawan-militer Turki. Di Kota Farab yang dimana mayoritas mengikuti madzhab Syafi’iah, beliau memulai Pendidikan dasarnya. Dimasa Pendidikannya ini Al-Farabi belajar Ilmu Agama, Sastra, dan Matematika.
Masih bersandar pada buku yang sama, usai pendidikannya di kota Farab, Al-Farabi melanjutkan pendidikannya ke Bukhara, daerah ini merupakan pusat intelektual pada Dinasti Samaniah di bawah kepemimpinan Nashr bin Ahmad (847-892). Dinasti ini merupakan embrio bagi budaya Persia dalam Islam. Di kota Bukhara Al-Farabi belajar banyak tentang ilmu-ilmu salah satunya belajar di bidang musik, dan ia buktikan dengan karyanya yang berjudul Kitab al-musiqa al-kabir (936).
Setelah itu, Al-Farabi hijrah ke Merv untuk belajar logika Aristotelian dan ilmu filsafat. Guru utamanya yaitu seorang Kristen bernama Yuhanna bin Hailan. Dibawah bimbingannya, Al-Farabi membaca teks-teks dasar logika Aristotelian, termasuk Analitica Posteriora yang belum pernah dipelajari oleh seorang muslim manapun. Dari sini kita tahu bahwa Al-Farabi telah menguasai Bahasa Yunani karena buku-buku Aristoteles tersebut baru diterjemahkan kedalam Bahasa Arab setelah Al-Farabi mempelajarinya dalam Bahasa Yunani langsung.
Bersama gurunya ia berangkat ke Bagdad untuk lebih memperdalam filsafat. Di Bagdad, ia menemui Matta bin Yunus, seorang filsuf Nestorian. Matta merupakan filsuf dengan reputasi yang sangat tinggi dalam kajian filsafat sehingga mampu menarik banyak orang untuk belajar tentang logika Aristotelian dan Al-Farabi pun ikut bergabung menjadi murid Matta. Namun, dengan kecerdasannya Al-Farabi sanggup mengatasi reputasi Matta dalam bidang logika.
Sebab situasi politik Bagdad yang memburuk, Al-Farabi singgah ke Damaskus pada akhir tahun 942. Di sini ia mendapat perlindungan dari putera mahkota Siria Saif ad-Daulah, karena terkesan dengan kemampuan Al-Farabi dalam bidang filsafat, musik, dan ahli dalam Bahasa. Meski begitu, Al-Farabi tetap hidup dengan sederhana, waktu siang hari digunakan untuk bekerja sebagai penjaga kebun dan malam harinya ia gunakan untuk membaca serta melis karya-karya filsafat. Sementara masa tuanya dihabiskan untuk bergumul pada filsafatnya. Kemudian pada buan Desember 950, Al-Farabi tutup usia di umur delapan puluh tahun.
Baca Juga
-
Prediksi Skor Inggris vs Senegal: Ambisi Berebut Tiket Perempat Final
-
Postingan Jokowi tentang Hari Dokter Nasional Disorot, Kucing Oren Bikin Salfok
-
Fakta Unik Film ''Ngeri-Ngeri Sedap', Salah Satunya Didominasi Para Komika
-
3 Manfaat Luar Biasa dari Membaca Buku, Salah Satunya dapat Berpikir Kritis
-
Kaesang Pangarep Siap Maju Ketum PSSI, Warganet: Gaspol!
Artikel Terkait
Ulasan
-
Nice to Eat You: Belajar Bahasa Lewat Kisah yang Unik
-
Ulasan Let Me Be Your Knight: Mengurai Burnout dan Sisi Rapuh Idol K-Pop
-
Uang Jadi Tolak Ukur Memperlakukan Manusia di Buku Crazy Rich Asians
-
Mengenal Luka yang Tak Terlihat & Harapan untuk Pulih dalam Novel Rekindled
-
Malaikat Maut Juga Bisa Galau? Sisi Lain Kematian di Novel Setelah Melompat Aku Ingin Hidup
Terkini
-
Sinopsis Kokkai, Drama Jepang Dibintangi Takahashi Fumiya dan Tanaka Min
-
Masalah Struktural Tidak Bisa Diselesaikan dengan Nasihat Individual
-
Gaji Stagnan Harga Barang Naik, Masihkah Orek Tempe Worth It Jadi Penyelamat?
-
5 Exfoliating Toner Lokal yang Affordable dan Ramah untuk Kulit Sensitif
-
Jangan Lewatkan! ENHYPEN Rilis Jadwal Teaser Single The Sin: Parallel World