Mungkin tak asing terdengar di telinga kita nama Ki Hajar Dewantara. Sosoknya dikenal sebagai bapak pendidikan Indonesia yang termahsyur. Semua tempat adalah guru, di situlah ia berargumen. Namun, kalau ditelisik lebih dalam dasar pendidikan yang telah digoreskan oleh beliau justru tak sesuai dengan kenyataanya. Banyak yang sudah melenceng dari substansi pendidikan sebagaimana telah beliau kemukakan dahulu.
Sesuai buku yang ditulis Johan Prasetya, dengan judul “Pahlawan-Pahlawan Bangsa yang Terlupakan”, Ki Hajar Dewantara dikenal dengan nama Raden Mas Suwardi Suryaningrat pada masa kecilnya. Ia termasuk keturunan bangsawan Paku Alam. Kakeknya adalah Paku Alam III, dan ayahnya Kanjeng Pangeran Suryaningrat.
Meski keturunan priyayi, Ki Hajar Dewantara tidak dapat bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Ia hanya lulus di sekolah Europesche Lagere School (ELS), dan sempat meneruskan sekolah ke pendidikan guru tapi tidak tamat. Tahun 1905, kembali melanjutkan sekolah di dokter Bumi Putra (STOVIA), lagi-lagi nasib diterima beliau bahwa beasiswanya dicabut lantaran tak mampu menyelesaikan ujian kenaikan tingkat.
Walaupun putus sekolah, Ki Hajar Dewantara tidak berputus asa, ia aktif dalam pergerakan nasional dan melakukan perlawanan kepada pemerintah kolonial Belanda yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat pribumi. Perjuangan beliau banyak disalurkan dalam bentuk tulisan dan dimuat oleh banyak media massa, di antaranya media massa Sedya Toma, Midden Java, Oetoesam Hindia, Kaoem Moeda, De Express, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Di sela kesibukannya menulis, ia juga bekerja di apotek Rathkamp, Yogyakarta.
Ki Hajar Dewantara bergabung dengan organisasi Budi Utomo, dan berada dalam divisi propaganda. Pada tahun 1911, ia juga menjadi anggota De Redaksi yang dipimpin oleh Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo. Setahun kemudian, ia pun dikenal dengan Tiga Serangkai dan mendirikan Indische Partij (IP) di Bandung, sebagai organisasi pertama yang bergerak di bidang politik dengan tujuan untuk mencapai Indonesia merdeka.
Dinilai mengancam pemerintahan kolonial Belanda, Indische Partij (IP) tak diberikan badan hukum oleh pemerintah. Bahkan, pemerintah sudah mulai mengawasi gerak-gerik dari tiga tokoh serangkai tersebut. Ki Hajar Dewantara mulai menjalankan programnya dengan Indische Partij, di antaranya menanamkan rasa cinta tanah air, mencegah terjadinya perselisihan antar suku, antara beragama, dan berusaha mendapatkan hak yang sama bagi semua warga Indonesia. Akhirnya, pemerintah kolonial Belanda menangkap Tiga Serangkai dan membuangnya ke Belanda selama enam tahun (1913-1919).
Selepas menjalani masa pengasingan, Ki Hajar Dewantara kembali ke tanah air dan menjadi guru di sekolah yang didirikan oleh Suryopranoto. Tidak lama berselang, Ki Hajar Dewantara mulai mendirikan sekolah yang diberi nama Onderwijs Institut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) pada tanggal 3 Juli 1922.
Pada masa pendudukan Jepang, Ki Hajar Dewantara bersama Soekarno, Muhammad Hatta dan Mas Mansur menjadi anggota PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat). Waktu itu, Ki Hajar Dewantara tetap bersikukuh memperjuangkan nasib bangsanya, ia yakin bahwa kehadiran Jepang di Indonesia bukanlah saudara tua, melainkan juga bangsa yang ingin menancapkan taring jajahannya di bumi ibu pertiwi.
Saat mulai terjadi tanda-tanda kekalahan Jepang dalam perang pasifik, pemerintah Jepang melalui Jenderal Kumakichi Harada mengumumkan terbentuknya Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI) dan setelah BPUPKI menyelesaikan tugasnya untuk menyusun rancangan Undang-Undang Dasar, dibentuklah Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
Ki Hajar Dewantara adalah satu dari enam anggota PPKI. Ia juga tercatat mempunyai andil dalam Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), ia juga terpilih menjadi sebagai Menteri Pengajaran dalam Kabinet Pertama Republik Indonesia. Pada tahun 1946, Ki Hajar Dewantara diangkat menjadi Panitia Penyelidik Pengajaran dan dikenal sebagai peletak dasar pendidikan Indonesia.
Hampir seluruh hidup Ki Hajar Dewantara diabdikan dirinya untuk bangsa Indonesia, jasanya amat berharga dalam mengantar kemerdekaan Republik Indonesia. Pada tanggal 26 April 1959, Ki Hajar Dewantara meninggal dunia di Yogyakarta.
Referensi:
Prasetya, Johan. “Pahlawan-Pahlawan Bangsa yang Terlupakan.” Penerbit Saufa.
Tag
Baca Juga
-
WNA Rasis di Medsos: Bisa Nggak Sih Dijerat Hukum Indonesia?
-
Miskin Itu Bukan Takdir, Tapi Warisan yang Lupa Ditolak
-
Generasi Sigma 2026: Anak Bayi yang Sudah Ditunggu Algoritma
-
Kritik Buka Puasa Mewah: Menghapus Sekat Antara Wagyu dan Nasi Bungkus
-
Gula: Dari Simbol Kebahagiaan Menuju Penanda Kelas Sosial di Era Modern
Artikel Terkait
Ulasan
-
Membaca Gadis Minimarket: Satire Tajam Tentang Standar Ganda Masyarakat
-
Potret Pengungsi Perang Suriah dalam As Long as the Lemon Trees Grow
-
Menanti Tuhan yang Diam: Pergulatan Iman dalam Silence Karya Shusaku Endo
-
Film Marty Supreme: Super Chaos dan Menyesakkan Sepanjang Durasi!
-
Anime Sugar Apple Fairy Tale: Pentingnya Memilih Pemimpin yang Berkualitas
Terkini
-
Potret Generasi Sandwich dan Tekanan Finansial Menjelang Hari Raya
-
4 Milky Toner Mengandung Ceramide yang Ampuh Perkuat Skin Barrier
-
Di Balik Retorika Perang Narkoba: Ketimpangan Hukum dan Celah Struktural
-
Ramadan dan Kesempatan Kedua: Momentum Reset Diri yang Sering Terlupakan
-
4 Sunscreen Glycerin untuk Kulit Kering saat Puasa, Tetap Lembap Seharian!