Ayah, setelah ibu, adalah sosok orangtua yang harus dihormati dalam kehidupan ini. Sebagai imam atau pemimpin keluarga, tentu tanggung jawab yang ia pikul sangatlah besar. Misalnya, menafkahi keluarga, mendidik anak-anaknya agar mengerti tentang ajaran agama yang benar, dan lain sebagainya.
Bicara tentang kisah perjuangan ayah dalam sebuah rumah tangga, ada sebuah buku menarik dan sarat renungan, yakni buku berjudul Super Father yang ditulis oleh Amanda Ratih Pratiwi dan tim Forum Lingkar Pena (FLP) Bekasi. Buku ini merangkum kisah-kisah tentang sosok ayah yang memiliki jasa besar dalam hidup ini.
Salah satu kisah yang layak disimak berjudul Ayahku Pahlawanku karya Alivianda. Dalam tulisan tersebut Alivianda sangat bersyukur lahir dari keluarga baik-baik dan mempunyai seorang bapak yang hebat. Meski hanya anak seorang petani, cara berpikirnya sangat jauh ke depan.
Bapak atau ayah lahir tahun 1938 di sebuah kampung di Tangerang, Banten dan termasuk cucu kesayangan Rd. Kimas Hasyim, seorang bangsawan keturunan Raja Sumedang yang konon pada zaman perang mempunyai kesaktian yang digunakannya untuk melawan penjajah.
Meski masih keturunan bangsawan dan berhak menggunakan gelar raden, ayah tak pernah menggunakan gelar itu. Bagi ayah, bukan gelar radennya yang penting. Kualitas pribadilah yang membuat seseorang mempunyai nilai lebih tinggi dibandingkan orang lainnya.
Waktu itu, di kampung masih jarang orang yang mampu bersekolah tinggi. Begitu juga dengan ayah. Sebagai anak petani miskin, ayah harus bekerja ekstrakeras untuk bisa memperoleh yang diinginkannya. Keadaan memaksa ayah untuk bekerja di luar batas kekuatan fisiknya sejak kecil.
Mencangkul sawah dan ladang sudah menjadi kewajibannya sehari-hari. Mengangkat barang yang beratnya melebihi berat tubuhnya sendiri pun bukan hal yang asing (kelak, efek dari seringnya mengangkat beban terlalu berat inilah yang menggerogoti kesehatannya di masa tua).
Dengan kemiskinan yang menghimpit keluarganya, ayah sama sekali tak bisa berharap mendapatkan biaya sekolah dari kakek. Hanya karena begitu mencintai ilmu pengetahuan dan tak ingin memelihara kebodohan, dengan tekad yang sangat kuat ayah berusaha bersekolah dengan mencari biaya sendiri.
Kisah-kisah tentang sosok ayah dalam buku yang ditulis oleh para penulis dengan latar kehidupan beragam ini layak dibaca dan dijadikan sebagai renungan bersama. Semoga setelah membaca kisah-kisah mereka, para pembaca dapat lebih menghargai dan menghormati kedua orangtua.
Baca Juga
-
Bedah Buku 'Sebilah Lidah': Ketika Puisi Menelanjangi Sisi Gelap Manusia Modern
-
Lika-liku Menjadi Tukang Ojek Online: Catatan Harian Bang Ojol
-
Unpopular Opinion: Kita Butuh Cancel Culture yang Lebih Kejam untuk Figur Publik Bermasalah
-
Self Reward sebagai Bentuk Perayaan atau Pemborosan?
-
Fenomena 'Beli Teman' dan Jasa Teman Jalan: Solusi Kesepian atau Modus Terselubung?
Artikel Terkait
-
Sister Goals yang Kompak Abis, 5 Momen Kebersamaan Azhari Bersaudara di Amerika
-
Jalan Kaki Bareng Anak saat Lebaran, Penampilan Duta Sheila On 7 Dipuji: Nggak Ada yang Berubah!
-
Panen Berkah, Pasar Gembrong Diserbu Warga yang Ingin Belanjakan Uang THR
-
8 Fakta Hepatitis Akut Misterius pada Anak yang Dikaitkan dengan Vaksin Covid-19, Waspadai Sejak Dini!
Ulasan
-
Belajar Menghargai Pengorbanan Orang Tua dalam Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu
-
Bedah Lagu "Rayuan Perempuan Gila": Relate Banget Buat Kamu yang Punya Trust Issue
-
Review The Intern: Drama Komedi Manis tentang Kehidupan Dunia Kerja Modern!
-
Misi Alexis Menyelamatkan Ingatan Kakeknya di Novel Mist-Bound
-
Review A Love Other Than Yours: Pahitnya Realita Hubungan Jangka Panjang
Terkini
-
Strategi Politik Kebisingan: Mengapa Isu Sengaja Dibiarkan Tumpang Tindih?
-
Piala Asia 2027 Resmi Diundur, Untung atau Buntung bagi Timnas Indonesia?
-
Shiba Inu Rooms Diadaptasi Jadi Anime TV, Komedi Siswi SMA dan Arwah Anjing
-
4 Pelembap Beta Glucan Jaga Skin Barrier dan Kulit Lembap, Cuma Rp80 Ribuan
-
Meterai Rp10 Ribu: Saat Transaksi Warga Sekalipun Tak Luput dari Pajak