Mohammad Natsir, salah satu pemimpin atau ketua Partai Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi) dikenal sebagai sosok yang legendaris, karena pengaruhnya amat besar di partai tersebut. Dirinya dikenal sebagai tokoh intelek, jago dan fasih bicara soal-soal agama, serta ia terkenal alim. Sehingga tidak heran jika Mohammad Natsir selalu terpilih sebagai ketua saat muktamar partai Masyumi.
Menurut buku yang ditulis Johan Prasetya, "Pahlawan-Pahlawan Bangsa yang Terlupakan", Mohammad Natsir dilahirkan di kampung Jembatan Berukir, sekarang kota ini masuk dalam wilayah kecamatan Lembah Gumanti, kabupaten Solok, provinsi Sumatera Barat.
Ayahnya bernama Mohammad Idris yang merupakan juru tulis di kantor Kontroler di Maninjau, dan kemudian menjadi sipir di Bekeru (Sulawesi Selatan). Sedangkan ibunya bernama Khadijah hanya seorang ibu rumah tangga.
Masa pendidikan Mohammad Natsir bermula di Hollands Inlandsche School (HIS) Adabiyah Padang, tetapi bertahan hanya beberapa bulan saja. Selanjutnya, ia pindah ke HIS Pemerintah di Solok yang dilalui hanya tiga tahun. Terakhir, Mohammad Natsir berhasil menyelesaikan pendidikannya di HIS Padang pada tahun 1923.
Tidak berhenti sampai di situ, Mohammad Natsir kembali melanjutkan pendidikan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO)-sekarang setingkat SMP-di Padang. Di MULO, Natsir mendapat beasiswa dua puluh ribu rupiah setiap bulan dari pemerintah Belanda. Setelah tamat di MULO, ia kembali melanjutkan pendidikan di Algemeene Middelbare School (AMS) di Bandung dan berhasil lulus tahun 1930 dengan prestasi yang mengesankan.
Selama belajar di AMS, Mohammad Natsir mulai aktif berorganisasi dan banyak belajar kepada tokoh-tokoh agama dan pemikir bangsa. Natsir aktif menjadi anggota di Jong Islamieten Bond (JIB) cabang Bandung. Di JIB, ia bertemu tokoh gerakan politik, seperti Haji Agus Salim, H.O.S Tjokroaminoto, dan Syekh Ahmad Syurkati. Selain itu, Natsir juga banyak belajar dari Ustadz Ahmad Hassan, ulama yang dikenal berpaham radikal dari organisasi Persatuan Islam (PERSIS).
Peran dan perjuangan Mohammad Natsir untuk meraih kemerdekaan dan setelah kemerdekaan juga tidak boleh diragukan, prestasinya sebagai tokoh agama dan jurnalis amat dikenal. Mohammad Natsir banyak memberikan pelajaran agama di beberapa sekolah menengah, seperti sekolah MULO Javastraat di Bandung dan sekolah guru di Gunung Sahari.
Mohammad Natsir juga merintis sekolah dengan sebutan Pendidikan Islam (Pendis) pada tahun 1930, dengan tujuan ingin membangun pendidikan sesuai dengan hakikat ajaran islam, tapi bercorak modern. Enam tahun kemudian, tepat Maret 1936, Mohammad Natsir mendirikan Pesantren PERSIS di Bandung.
Selain kiprahnya di dunia pendidikan, Mohammad Natsir juga tokoh populer di panggung politik. Tahun 1938, Mohammad Natsir menjadi anggota Partai Islam Indonesia (PII) cabang Bandung. Hingga akhirnya, tahun 1940-1942, Mohammad Natsir berhasil menjadi ketua PII Bandung.
Pada masa pendudukan Jepang, terjadi kebijakan untuk merangkul golongan Islam, sehingga dibentuk Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI). Seiring dengan perkembangannya, pada tanggal 7 November 1945 MIAI berubah menjadi Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi).
Pada Muktamar IV di Yogyakarta 15-19 Desember 1949, Mohammad Natsir terpilih menjadi Ketua Pimpinan Pusat Partai Islam Masyumi. Pada pemilu 1955, Masyumi di bawah kepemimpinan Mohammad Natsir tampil sebagai Partai besar di Indonesia. Salah satu keunggulan partai ini karena memiliki kelompok tink tank yang bisa diandalkan, yaitu gabungan tokoh-tokoh muslim yang berpendidikan Barat, tetapi berlatar belakang pesantren.
Usai Indonesia merdeka, Mohammad Natsir menjadi Menteri Penerangan dalam kabinet Sutan Sjahrir. Presiden Soekarno pernah tidak mau menandatangani sesuatu keterangan pemerintah jika bukan Mohammad Natsir yang menyusunnya.
Di akhir masa-masa kariernya, Mohammad Natsir pernah masuk penjara karena membentuk Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada era Demokrasi Terpimpin tahun 1958. Nanti pada tahun 1966, Mohammad Natsir dibebaskan pada masa Orde Baru.
Munculnya Orde Baru, justru tak membuat Mohammad Natsir mendapatkan angin segar, ia tak mendapat tempat dan kedudukan di pemerintahan, padahal kemampuannya tak perlu diragukan. Meski begitu, sikap kritis Mohammad Natsir tetap digencarkan. Ia tak sungkan memberikan kritik tajam pada hal yang mendasar kepada pemerintah Orde Baru.
Akibatnya, Mohammad Natsir dicekal ke luar negeri tanpa proses pengadilan. Pencekalan itu pun berlangsung hingga ia meninggal. Mohammad Natsir meninggal pada tanggal 6 Februari 1993, dengan usia 85 tahun.
Baca Juga
-
Menonton Sirkus Kemiskinan: Sisi Gelap Konten Sedekah di Media Sosial
-
Pesantren dan Masa Depan Karakter Bangsa: Jangan-jangan Ini Jawabannya
-
Dompet Kelas Menengah Lagi Kering, Alarm Bahaya Buat Ekonomi?
-
Prabowo, Reformasi yang Capek, dan Mimpi Orde Transformasi
-
Tertimpa Kasus Bukan Kiamat: Cara Perusahaan Bangkit dari Krisis
Artikel Terkait
-
Trailer Comeback 'Proof' Dirilis, Detail Album Baru BTS Terungkap: Merangkum Sejarah BTS
-
Berkunjung ke Istano Basa Pagaruyung yang Megah di Tanah Datar
-
Jarang Diketahui, Ternyata Ini Alasan Opor Ayam dan Ketupat Jadi Makanan Wajib saat Lebaran
-
Mengenal Abdul Wahid Hasyim, Salah Satu Anggota BPUPKI dari Perwakilan NU
Ulasan
-
Bia dan Kapak Batu: Kisah Inspiratif Perempuan Papua di Tengah Arus Zaman
-
'Berpikir dan Bertindak Kreatif for Gen Z': Senjata Bertahan di Era Digital
-
Esensi Lagu 'Dance No More' Milik Harry Styles Punya Makna Lebih Energik
-
Ketika Chat Mesra Ternyata Salah Sasaran: Manisnya Sweety Anatomi
-
Gentala Arasy, Simbol Kejayaan Islam Kebanggaan Negeri Sepucuk Jambi
Terkini
-
Percabulan di Pati: Pak, Anjing Saya Saja Tidak Seperti Itu
-
Ketika Rupiah Melemah, Kelas Menengah Dipaksa Bertahan Lebih Keras
-
Bikin Khawatir di Baeksang, Ini Alasan Mata Choo Young Woo Ditutup Perban
-
4 Sunscreen SPF 35 Proteksi Kulit dari Sinar UV, Harga Ekonomis Rp30 Ribuan
-
Intip Peran Lee Jun Young di Reborn Rookie, Mantan Atlet yang Bertukar Jiwa