Hikmawan Firdaus | Budi Prathama
Ilustrasi pesantren (Pexel/Abdullah_Romman_)
Budi Prathama

Akhir-akhir ini, berita soal dunia pendidikan rasanya makin bikin kening berkerut. Ada siswa mengeroyok guru, bullying yang awalnya bercanda tapi berakhir trauma, sampai umpatan kasar yang dipakai seperti salam pembuka. Kalau dulu kata “tolong” dan “maaf” masih lumrah di sekolah, sekarang sepertinya kalah pamor dari kata-kata yang tak pantas ditiru. Data KPAI 2023 bahkan mengonfirmasi kecurigaan banyak orang: kekerasan di sekolah memang bukan perasaan lebay netizen semata, tapi masalah nyata yang sedang kita hadapi bersama.

Masalahnya, kita sering kebingungan mencari kambing hitam. Kurikulum disalahkan, guru dianggap kurang tegas, orang tua dituduh lepas tangan, media sosial diposisikan sebagai biang kerok. Padahal, bisa jadi masalahnya lebih mendasar: kita terlalu lama sibuk mengejar nilai rapor, ranking, dan prestasi akademik, tapi lupa memastikan apakah anak-anak kita tumbuh sebagai manusia yang tahu batas, punya empati, dan bisa menahan diri.

Bung Hatta pernah bilang, ketidakjujuran itu sulit diperbaiki. Dalam konteks hari ini, ketidakjujuran terhadap nilai kemanusiaan mungkin sama bahayanya. Kita tahu kekerasan itu salah, bullying itu merusak, tapi sering pura-pura kaget ketika itu benar-benar terjadi. Sekolah yang seharusnya jadi ruang aman malah kadang berubah jadi arena uji nyali: siapa paling kuat, paling keras, dan paling berani melawan otoritas.

Di sinilah kita perlu jujur mengakui satu hal: pendidikan karakter di sekolah umum sering berhenti sebagai slogan. Ia hadir di visi-misi, terpampang di spanduk, bahkan jadi mata pelajaran. Tapi dalam praktiknya, pendidikan karakter kalah jam terbang dibanding matematika atau IPA. Dua jam seminggu jelas tidak cukup untuk melatih empati, kesabaran, dan adab—hal-hal yang justru menentukan cara seseorang memperlakukan orang lain.

Lalu, adakah model pendidikan yang sejak awal memang serius soal urusan karakter? Pesantren sering disebut-sebut sebagai jawabannya. Bukan karena pesantren tanpa masalah, tapi karena sistemnya sejak awal dirancang sebagai ekosistem hidup, bukan sekadar ruang belajar. Di pesantren, pendidikan tidak berhenti ketika bel sekolah berbunyi. Ia berlanjut 24 jam, dari bangun tidur sampai kembali ke kasur.

Pesantren mengajarkan satu hal penting yang mulai langka: hidup bersama. Santri belajar berbagi ruang, waktu, dan emosi. Mereka antre mandi, makan bareng, belajar menahan diri saat kesal, dan menyelesaikan konflik tanpa harus viral dulu di media sosial. Hubungan antara santri dan kiai atau ustadz pun dibangun dengan fondasi ta’dzim—rasa hormat yang bukan basa-basi, tapi ditanamkan lewat kebiasaan.

Pembatasan gadget di pesantren sering disalahpahami sebagai sikap anti-zaman. Padahal, bisa jadi itu justru upaya menciptakan ruang sunyi agar santri belajar fokus dan mengenal dirinya sendiri. Di saat dunia luar sibuk dengan notifikasi, pesantren memberi jeda. Dan jeda ini penting untuk melatih apa yang jarang dilatih di sekolah formal: kendali diri.

Pendidikan akhlak di pesantren juga tidak berhenti di teori. Santri tidak hanya diberi tahu bahwa bullying itu dosa, tapi hidup dalam sistem yang secara aktif mencegahnya. Ada pengawasan teman sebaya, ada figur otoritas yang hadir, dan ada budaya saling mengingatkan. Nilai seperti tanggung jawab, kasih sayang, dan cinta damai tidak diajarkan lewat seminar motivasi, melainkan lewat rutinitas yang kadang melelahkan tapi membentuk kebiasaan.

Tentu, pesantren bukan solusi instan untuk semua masalah pendidikan nasional. Tapi menutup mata dari praktik baik yang sudah terbukti bertahan ratusan tahun jelas bukan pilihan bijak. Pesantren bisa dilihat sebagai laboratorium hidup pendidikan karakter. Bukan untuk ditiru mentah-mentah, melainkan dipelajari dan disesuaikan.

Pepatah Arab bilang, syubbnul yaum rijlul ghad—pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Kalau hari ini kita masih sibuk memperdebatkan nilai ujian sambil mengabaikan adab, jangan heran kalau masa depan dipenuhi orang pintar tapi minim empati. Mungkin sudah saatnya pendidikan karakter berhenti jadi pelengkap, dan mulai kita perlakukan sebagai inti. Dan di titik itulah, pesantren diam-diam menawarkan pelajaran penting yang selama ini kita abaikan.