Dunia berubah dengan sangat cepat. Media teknologi dan informasi di era digital membuat banyak orang dengan mudah belajar apa saja lewat media sosial. Jika dulu kita harus menghadiri majelis taklim untuk belajar agama, sekarang lewat media sosial mudah dijumpai ustaz atau kiai menyampaikan ilmu-ilmu agama, termasuk Tafsir Al-Quran.
Namun begitu, kita juga harus selektif memilih guru di era digital. Tidak sekadar “berlabel” ustaz, tetapi kita juga harus tahu sanad keilmuan orang tersebut. Jangan sampai apa yang disampaikannya menyesatkan banyak orang.
Lewat buku Tafsir Al-Quran di Medsos, Profesor Nadirsyah Hosen membahas berbagai topik berdasarkan ayat-ayat Al-Quran yang sering jadi perbincangan di media sosial. Dari masalah agama, hingga sosial-politik yang akhir-akhir ini banyak mencuat.
Sebagaimana diketahui, belakangan ini banyak sekali polemik terjadi yang semula bergulir lewat media sosial. Apalagi menjelang pemilihan umum atau pemilihan kepala daerah (Pilkada). Banyak hal yang menjadi perbincangan dan perdebatan yang tak jarang membuat persahabatan retak, hubungan silaturahim jadi renggang, bahkan putus. Sebuah perkara yang harus dicarikan solusinya.
Nadirsyah Hosen (2017) menjelaskan, bahwa dirinya sering membahas ayat-ayat suci Al-Quran di berbagai forum diskusi. Sehingga, dari sinilah diketahui bahwa selama ini, banyak orang yang hanya mengandalkan terjemahan Al-Quran dan sumber-sumber internet yang tidak akurat ketika menyimpulkan sebuah permasalahan. Sehingga, perdebatan demi perdebatan tak bisa dielakkan, bahkan ada yang saling klaim bahwa dirinyalah yang paling benar.
Masalah yang cukup krusial adalah masalah bagaimana kriteria memilih pemimpin, larangan non-Muslim dan kaum perempuan jadi pemimpin, dan perihal memaki-maki sesembahan orang lain. Nadirsyah menjelaskan, bahwa untuk memahami suatu ayat, kita tak hanya menyimpulkan berdasarkan Al-Quran terjemah saja, tetapi perlu menelaah dan mengkaji kitab-kitab tafsir klasik dan modern untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Dengan begitu, pikiran kita akan lebih terbuka, dan tidak gampang menyalahkan orang lain (hlm. 70).
Selain membahas permasalahan yang terjadi di media sosial, dalam buku 280 halaman ini, pembaca juga akan mengetahui tentang bagaimana rahasia menghayati dan memahami ayat suci Al-Quran dengan baik berdasarkan sumber-sumber terpercaya. (*)
Baca Juga
Artikel Terkait
Ulasan
-
About 7 Memories: Sebuah Potret Persaudaraan Toksik yang Menghancurkan Jiwa
-
Bisakah Komedi Menggantikan Buku Sejarah? Ini Pendapat Saya Setelah Menonton Serial Larry David
-
Review Film Minions & Monsters: Mendobrak Batasan Komedi Lewat Mantra Kuno
-
Cantik tapi Kelam: Merasakan Perihnya Luka Sejarah Lewat Kebaya Merah di Tebing Kanal
-
Single Mom Melawan Stigma Janda Lemah: Bagaimana Irene Mengubah Luka Menjadi Kekuatan?
Terkini
-
Budget Cuma Rp30 Ribuan? Ini 4 Sunscreen Cica Murah untuk Kulit Berjerawat
-
Harry Kane CS Harus Waspada, RD Kongo Punya Ambisi Lolos Babak 16 Besar
-
Membongkar Borok Kerja Kelompok yang Cuma Bikin Jinak Si Pemalas
-
Pertemanan di Era Media Sosial: Dekat Secara Online, Jauh di Dunia Nyata
-
Takluk dari Meksiko, Ekuador Gagal Ulang Sejarah Indah 20 Tahun Silam