Novel sejarah merupakan salah satu sub genre karya sastra yang banyak diminati orang. Hal itu tidak terlepas karena daya tarik novel sejarah itu sendiri. Novel sejarah bisa menjadi momen untuk mengenang keberlangsungan sejarah bagi generasi Z. Meskipun kisah dalam novel tidak sepenuhnya nyata, minimal jadi pengetahuan baru bagi pembaca. Berikut ini rekomendasi novel sejarah dari penulis Indonesia yang harus dibaca.
1. Tetralogi Buru (Pramoedya Ananta Toer)
Pramoedya Ananta Toer merupakan seorang sastrawan besar Indonesia yang telah melahirkan lebih dari 50 karya. Di antara banyaknya Pramoedya, Tetralogi Buru menjadi karya masterpiece. Tetralogi Pulau Buru pun terdiri atas empat bagian yaitu Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan terakhir, Rumah Kaca.
2. Max Havelaar (Multatuli)
Karya Tetralogi Buru yang dibuat Pramoedya sebelumnya pun banyak terinspirasi dari novel sejarah yang lebih tua ini. Banyak orang yang beranggapan jika Max Havelaar hanyalah sebagai karya satir dan penulisnya, Multatuli dianggap tidak sedang memperjuangkan kebebasan sebuah bangsa. Buku tersebut dianggap sebagai sebuah upaya untuk mengembalikan kehormatan kolonialis itu sendiri.
3. Orang-orang Proyek (Ahmad Tohari)
Novel sejarah berkisah tentang idealisme dari seorang insinyur bernama Kabul, toko pekerja proyek jembatan yang berlatar pada masa Orde Baru. Namun, dia menyadari bahwa proyek jembatan itu sudah menjadi bersama akibat budaya korupsi. Hal ini memunculkan keraguan pada Kabul tentang standar mutu jembatan yang sedang dikerjakannya.
4. Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari)
Melalui novel sejarah ini, Ahmad Tohari mengangkat kisah tentang penari ronggeng di sebuah desa kecil bernama Dukuh Paruk. Kisah berawal dari sebuah desa yang miskin akibat kemarau panjang. Namun berkat Ronggeng, aktivitas perekonomian di desa tersebut dapat kembali berjalan. Di lain sisi, kegiatan seni itu justru menjadi pembuka nasib lain yang tak pernah diduga sebelumnya.
5. Laut Bercerita (Leila S. Chudori)
Meski novel ini adalah fiksi, Laut Bercerita menunjukkan kepada pembacanya bahwa negeri ini pernah memasuki masa pemerintahan yang kelam, di tahun 1998. Novel terbagi menjadi dua bagian. Menceritakan sosok Laut Biru, bagian pertama menunjukkan segala kepedihan dan ketakutan sebagai aktivis. Bagian kedua bercerita mengenai sosok keluarga yang kehilangan saudara.
Selain novel itu sejatinya masih ada beberapa novel lain karya penulis Indonesia, namun yang paling familiar dan banyak dibaca orang adalah novel-novel di atas.
Tag
Baca Juga
-
6 Sikap Buruk dari Anak Bungsu, Salah Satunya Suka Caper
-
4 Cara Hidup Hemat Bagi Anak Kos di Kota Malang
-
Sudah Nonton Serial She-Hulk? Ini 5 Hal yang Perlu Kamu Ketahui
-
5 Tanda Kamu Tidak Mendapat Kasih Sayang yang Cukup!
-
Kamu Mesti Paham, 5 Cara Menghadapi Teman Kerja yang Toksik dan Ingin Menjatuhkan
Artikel Terkait
-
Belum Juga Bertanding, Pelatih Vietnam Sudah Keder Kehadiran Suporter Indonesia di Piala AFF U-19 2022
-
Termasuk 4 Penggawa Persis Solo, Ini Daftar Lengkap Pemain Timnas Indonesia di Piala AFF U-19 2022
-
Komunitas Gastronomi Indonesia Beberkan Makanan Masa Silam di Relief Candi Borobudur
-
BMI Gelar Konser Bersuka Ria: Waktunya Bangkit Membangun Indonesia
Ulasan
-
Buku Tetsuya Kawakami: Menemukan Makna Literasi di Toko Buku Tua
-
Perjuangan Haia Meraih Mimpi dan Konflik Poligami dalam Novel Laut Tengah
-
Novel Kuda: Dendam dan Pengkhianatan yang Menembus Zaman
-
Yang Telah Lama Pergi: Persatuan Perompak di Balik Runtuhnya Sriwijaya
-
Ketika Cinta Terbentur Adat: Belajar Ketulusan dari Kisah Layla Majnun
Terkini
-
Ufotable Umumkan Proyek Besar 2026: Update Anime Genshin Impact dan Kelanjutan Film Demon Slayer
-
Ramadan Sebagai Momentum Self-Healing dan Refleksi Diri
-
Ada Mangrove si Benteng Alami: Kenapa Suka Solusi Instan Jangka Pendek?
-
Buka Puasa dengan Buah Kematian
-
Sinopsis Tokeikan no Satsujin, Drama Genre Misteri Dibintangi Oku Tomoya