Dalam budaya Jepang, dikenal istilah Shukatsu yang artinya mahasiswa tingkat akhir aktif berburu pekerjaan. Bagi mereka, Shukatsu sangatlah penting sebab akan menentukan masa depan mereka. Di musim ini banyak mahasiswa yang tidak segan untuk berjibaku untuk mendapatkan kesempatan bekerja di perusahaan sebelum mereka lulus. Nah, dilansir dari Fun-japan, keterangan lengkap mengenai budaya Shukatsu bisa kamu temukan di bawah ini.
Musim Panas Adalah Musim Shukatsu
Setiap tahun mulai dari Maret sampai musim panas, kamu akan melihat banyak anak muda yang mengenakan pakaian formal berupa jas hitam yang rapi. Mereka akan memenuhi stasiun kereta, kawasan perkantoran, dan tempat-tempat lainnya di Jepang. Nah, anak muda berpakaian jas hitam rapi ini adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang berburu pekerjaan di musim Shukatsu. Di musim ini mereka aktif mencari pekerjaan, ikut wawancara kerja, dan berharap perusahaan yang diinginkan bersedia menerima mereka bekerja.
Setelan jas hitam yang mereka kenakan disebut dengan setelan jas rekrutmen. Selama masa Shukatsu mereka juga akan mewarnai rambut mereka dengan warna hitam. Ini bukanlah sebuah keharusan. Hanya saja ini adalah usaha untuk menampilkan kesan cerdas, rapi, dan bersih. Apabila pelamar berpenampilan berbeda, manajer perusahaan mungkin saja akan meragukan keseriusan mereka untuk bekerja di perusahaan.
Munculnya Istilah Shukatsu Make Up
Secara umum, orang Jepang memang mengutamakan penampilan. Jadi, tidak heran apabila mereka berusaha tampil lebih baik saat musim Shukatsu. Selain itu, para mahasiswa dan mahasiswi yang berburu pekerjaan mengenakan riasan wajah yang khas yang kemudian dikenal dengan Shukatsu Make up. Look riasan ini menampilkan kesan yang cerdas, bersih, dan segar. Bahkan saking inginnya tampil bagus, mereka rela membayar mahal jasa juru foto untuk menghasilkan foto profil terbaik.
Email Doa Dalam Budaya Shukatsu
Di Jepang, perusahaan yang menolak aplikasi mahasiswa akan mengirimkan email yang disebut Email Doa. Email tersebut sebetulnya berisi pemberitahuan bahwa pelamar tidak memenuhi kriteria calon karyawan yang dibutuhkan. Kenapa bisa disebut Email Doa, alasannya adalah karena di dalam isi email tersebut akan terselip doa dan harapan agar pelamar mendapatkan masa depan yang lebih baik.
Alasan Mengapa Perlu Banyak Usaha Untuk Mendapatkan Pekerjaan
Proses mencari pekerjaan di Jepang itu melelahkan. Pelamar harus melalui serangkaian prosedur mulai dari mengisi aplikasi, wawancara, tes kemampuan, dll. Semua itu membutuhkan waktu dan tenaga.
Alasan mengapa mereka bersedia untuk mencurahkan tenaga dan waktunya demi mendapatkan pekerjaan adalah karena adanya kepercayaan bahwa penempatan kerja ditentukan saat masih kuliah. Selain itu, di Jepang gagasan pekerjaan seumur hidup masih mengakar kuat. Jadi, apabila mereka beruntung mendapatkan pekerjaan di perusahaan bonafid, masa depan mereka setidaknya terjamin.
Di masa modern seperti sekarang ini, perusahaan membuat kebijakan baru di mana mahasiswa boleh berburu pekerjaan kapan saat. Selain itu, ada kecenderungan gen Z memiliki minat yang kurang untuk bekerja di perusahaan dalam waktu yang lama. Nah, secara tidak langsung kebijakan ini menimbulkan kesadaran budaya Shukatsu yang baru di mana mahasiswa tidak mengenakan ‘seragam’ khas Shukatsu lengkap dengan riasannya.
Nah, itulah ulasan singkat tentang budaya Shukatsu yang ada di Jepang. Bagaimana pendapatmu tentang munculnya budaya tersebut?
Baca Juga
-
6 Fakta Menarik Perfect Crown yang akan Segera Tayang
-
Frieren: Beyond Journey's End Season 2, Musim yang Lebih Emosional dan Sepi
-
Deretan Anime Yang Tayang Bulan Maret 2026, Wajib Dinantikan!
-
5 Fakta Zom 100: Bucket List of the Dead yang Bikin Penasaran Penggemar
-
4 Rekomendasi Anime untuk Kamu yang Menyukai Cerita Bertema Zombie
Artikel Terkait
Ulasan
-
Mengulik Petrova Line, Garis Ancaman Kiamat dalam Film Project Hail Mary
-
Hitung Mundur Mimpi Buruk dalam Something Very Bad is Going to Happen
-
Taman Ngronggo Kediri: Ruang Singgah untuk Tertawa dan Menenangkan Diri
-
Trauma dan Beban Mental yang Ditularkan Lewat Film Grave of the Fireflies
-
Andai Kita Bisa Kembali ke Masa Kecil: Pahitnya Jadi Dewasa di Lima Cerita
Terkini
-
Pendidikan sebagai Hak Universal atau Privilege Terselubung?
-
Suara Siswa Sekolah Rakyat: Sekolah Gratis Beneran Tanpa Biaya Tersembunyi?
-
Sinopsis Doctor on the Edge, Drama Medis Terbaru Lee Jae Wook dan Shin Ye Eun
-
Perpustakaan di Era Digital: Masih Relevan untuk Belajar?
-
Ramai Kritik, Sepi Perubahan: Mengapa Menjatuhkan Kekuasaan Tak Cukup?