Salah satu gunung purba di Indonesia, Tangkuban Parahu penjadi destinasi wisata favorit wisatawan saat berkunjung ke Jawa Barat. Dahulunya, gunung dengan tinggi kurang lebih 2.084 meter ini terbentuk dari letusan Gunung Sunda pada tahun 1829 yang berakhir pada 1929. Saat ini Gunung Tangkubang Parahu masih dalam kondisi aktif.
Gunung Tangkuban Parahu terletak dengan jarak 20 Km dari pusat Kota Bandung. Lingkungan yang sejuk dengan pemandangan sekitar terutama deretan kawah-kawah yang indah menjadi daya tarik wisatawan. Mendengar nama Gunung Tangkuban Parahu, kamu pasti ingat dengan salah satu legenda lokal Indonesia, Sangkuriang.
Legenda Sangkuriang
Dahulu kala, hiduplah seorang wanita cantik yang dikenal dengan nama Dayang Sumbi. Kecantikan Dayang Sumbi sampai ke telinga para raja dan bangsawan. Namun hati Dayang Sumbi tidak tergerak. Ia menolak dengan halus pinangan para bangsawan. Alhasil mereka bertengkar hebat antar bangsawan untuk memperebutkan Dayang Sumbi.
Karena hatinya sedih, Dayang Sumbi memutuskan untuk menyendiri di tengah hutan. Ia ditemani seekor anjing bernama si Tumang. Suatu hari, Dayang Sumbi yang sedang menenun, peralatannya terjatuh ke bawah. Ia bergumam, barangsiapa yang mengambilkan peralatan tenunku, akan kujadikan suami kalau pria, dan saudara kalau wanita. Ternyata si Tumang lah yang mengambil peralatan tenun tersebut.
Singkat cerita, Dayang Sumbi menikah dengan si Tumang, yang ternyata merupakan titisan dewa. Ia melahirkan seorang anak bernama Sangkuriang. Sangkuriang tidak mengetahui bahwa Si Tumang adalah ayahnya. Tak mendapatkan buruan pada hari itu, ia memutuskan untuk membunuh si Tumang untuk mendapatkan hatinya. Hati si Tumang dimasak dan mereka makan bersama.
Dayang Sumbi yang mengetahui hati tersebut milik suaminya sangat marah dan memukul Sangkuriang. Tak terima dengan kemarahan ibunya, Sangkuriang memutuskan untuk kabur. Singkat cerita, Dayang Sumbi dianugerahi kecantikan abadi bertemu dengan Sangkuriang yang kian dewasa. Terpesona, Sangkuriang menikahi ibunya, keduanya tidak saling mengenal.
Dayang Sumbi tersadar setelah melihat bekas luka di kepala Sangkuriang. Untuk membatalkan pernikahan, ia menyuruh Sangkuriang mengabulkan permintaannya untuk membendung Sungai Citarum, dan meminta sebuah perahu besar. Dengan bantuan para makluk halus Sangkuriang berhasil mewujudkan permintaan Dayang Sumbi.
Menjelang matahari terbit, Dayang Sumbi meminta bantuan dewa untuk membangunkan ayam berkokok pada malam hari. Sehingga Sangkuriang tak dapat memenuhi permintaannya. Sangkuriang murka dan membuat perahu besar itu dalam keadaan telungkup. Itulah yang sekarang kita kenal dengan nama Gunung Tangkuban Parahu.
Aktivitas seru apa saja yang bisa dilakukan di Gunung Tangkuban Parahu
Pastinya kamu bisa menikmati keindahan kawah-kawah Tangkuban Parahu sambil mengabadikan momen, melihat flora dan fauna endemik, berbelanja oleh-oleh khas, serta bermain outbond bersama keluarga tercinta.
Tarif yang dikenalan untuk mengunjungi Gunung Tangkuban Parahu lumayan murah, cukup membayar sebesar Rp. 20.000 (hari biasa) dan Rp. 30.000 (hari normal). Kamu dapat mengunjungu Gunung Tangkuban Parahu mulai pukul 8 pagi hingga 5 sore.
Bagaimana pembaca? Apakah tertarik melihat keajaiban Gunung Tangkuban Parahu?
Baca Juga
-
Sinopsis Don't Touch My Gang: Kisah Anak Kampung Hadapi Kerasnya Bangkok!
-
Profil Nonnie Pitchakorn, Bintang Baru di Only Friends, Adik Nanon Korapat!
-
Angkat Kisah Kehidupan setelah Kematian, Ini Sinopsis Death is All Around!
-
Relate dengan Guru Muda, Ini Sinopsis Drama Thailand "Thank You Teacher"
-
Sinopsis Serial '6ixtynin9', Dus Mie Instan Berisi Uang yang Berakhir Petaka
Artikel Terkait
-
Tak Sampai Rp2 Juta, Kemensos Tawarkan Kuliah di Poltekesos, Terjangkau Buat Keluarga Prasejahtera
-
Mengenal Masjid Al Jabbar Karya Ridwan Kamil, Utang Pembangunannya Dibongkar Dedi Mulyadi
-
6 Rekomendasi Tempat Wisata Viral di Bandung, Cocok untuk Liburan Keluarga
-
Whoosh Dibanjiri Penumpang! 240 Ribu Orang Pilih Kereta Cepat Selama Libur Lebaran
-
Update Harga Tiket Lembang Park & Zoo Terbaru 2025: Jangan Sampai Kehabisan Tiket!
Ulasan
-
Review Novel 'Kerumunan Terakhir': Viral di Medsos, Sepi di Dunia Nyata
-
Menelaah Film Forrest Gump': Menyentuh atau Cuma Manipulatif?
-
Sate Padang Bundo Kanduang, Rasa Asli Minangkabau yang Menggoda Selera
-
Ulasan Buku Setengah Jalan, Koleksi Esai Komedi untuk Para Calon Komika
-
Ulasan Film Paddington in Peru: Petualangan Seru si Beruang Cokelat!
Terkini
-
Idul Fitri dan Renyahnya Peyek Kacang dalam Tradisi Silaturahmi
-
Film Waktu Maghrib 2: Teror Baru di Desa Giritirto
-
Bertema Olahraga, 9 Karakter Pemain Drama Korea Pump Up the Healthy Love
-
Fenomena Pengangguran pada Sarjana: Antara Ekspektasi dan Realita Dunia Kerja
-
Krisis Warisan Rasa di Tengah Globalisasi: Mampukah Kuliner Lokal Bertahan?