Pada setiap tanggal 27 Februari di seluruh dunia diperingati sebagai Hari Beruang Kutub Internasional atau International Polar Bear Day.
Peringatan tersebut dilakukan sebagai pengingat bagi kita bahwa makhluk yang mendiami salah satu kawasan paling ekstrem di bumi tersebut kini populasinya kian terancam punah.
Terancamnya populasi beruang kutub di alam dikarenakan perubahan kondisi alam yang diakibatkan pemanasan global yang juga menyebabkan terganggunya populasi satwa mangsa bagi beruang kutub.
Hari Beruang Kutub Internasional ini juga menjadi salah satu pengingat bagi kita. Bahwa, perubahan kondisi alam yang diakibatkan oleh ulah manusia sebagai salah satu faktor yang paling berperan terhadap pemanasan global tentunya dapat mempengaruhi kondisi ekosistem di alam.
BACA JUGA: 5 Anime Seru yang Mengangkat Isu Pemanasan Global
Dilansir dari data WWF, populasi beruang kutub di seluruh dunia berkisar antara 22.000-31.000 ekor yang tersisa. Namun, populasi tersebut dikhawatirkan akan mengalami penurunan yang diakibatkan berbagai pengaruh dari alam dan ketersediaan populasi satwa mangsa bagi beruang kutub.
Hewan yang dikenal menjadi pemangsa puncak di wilayah kutub ini memiliki beberapa fakta unik yang tentunya menarik untuk disimak. Berikut 3 fakta unik dan menarik dari beruang kutub.
1. Berubah Menjadi Kanibal Karena Kurangnya Makanan
Salah satu fakta yang cukup ironis dari beruang kutub adalah mereka ternyata merupakan salah satu hewan kanibal.
Dilansir dari situs The Scientist, dalam beberapa tahun ke belakang beruang kutub melakukan sistem adaptasi yang cukup ekstrem terkait berkurangnya rantai makanan yang ada di kawasan arktik selama beberapa tahun terakhir. Mereka cenderung menjadi hewan kanibal dengan memakan sesamanya guna bertahan hidup.
Umumnya beruang kutub dewasa menyerang dan memangsa beruang kutub muda atau yang berukuran lebih kecil untuk bertahan hidup dalam kondisi ekstrem.
Meskipun dikenal sebagai hewan yang bisa tidak makan selama berbulan-bulan, namun kondisi rantai makanan di kawasan Arktik yang terganggu rupanya turut mempengaruhi pola adaptasi beruang kutub.
Beruang kutub umumnya memangsa hewan lain seperti ikan, anjing laut ataupun mamalia lainnya seperti rusa. Namun, dengan berkurangnya populasi hewan buruan rupanya turut mempengaruhi pola adaptasi beruang kutub dengan menjadi kanibal terhadap sesamanya.
2. Meskipun Dianggap Hewan Suci, Beruang Kutub Juga Diburu oleh Suku Lokal
Dalam beberapa kepercayaan suku-suku yang hidup di kawasan arktik, beruang kutub dianggap sebagai salah satu hewan suci yang bisa disejajarkan dengan dewa dalam kepercayaan mereka.
Pada beberapa suku di Alaska, beruang kutub dianggap memiliki roh yang masih saudara dengan umat manusia dalam kepercayaan mereka. Hal inilah yang membuat beruang kutub cukup dihormati oleh kalangan suku-suku lokal di Alaska.
Namun, dalam beberapa kebudayaan beruang kutub meskipun juga dianggap hewan suci juga seringkali diburu oleh suku-suku lokal. Beberapa suku di Siberia meyakini bahwa beruang kutub memiliki kekuatan mistis dan dihormati di kalangan adat.
Namun, karena hal itulah mereka juga sering diburu sebagai persembahan dalam beberapa upacara adat dan beberapa bagian tubuhnya dianggap sebagai jimat bagi suku-suku tersebut.
BACA JUGA: Museum Satwa: Koleksi Fauna Bertaraf Internasional dan Penuh Kisah
3. Populasinya Terancam Akibat Polusi dan Eksplorasi Kawasan Arktik
Beruang kutub yang merupakan salah satu predator puncak terbesar di daratan ini kini populasinya terancam punah akibat beragam polusi di kawasan arktik.
Dilansir dari situs wikipedia, beruang kutub mampu tumbuh besar dengan berat sekitar 700 kg-1.000 kg. Hewan ini juga menjadi spesies terbesar dari jenisnya dengan mampu berdiri dengan dua kaki belakangnya dan mencapai tinggi lebih dari 2 meter.
Sebagai predator puncak yang berada di puncak piramida rantai makanan, beruang kutub merupakan satwa yang paling rawan terganggu populasinya di kawasan arktik. Hal tersebut dipengaruhi oleh beragam polusi yang disebabkan oleh eksplorasi gas dan minyak yang kini kian masif dilakukan di kawasan arktik.
Eksplorasi gas dan minyak tersebut turut merubah ekosistem di kawasan kutub yang tentunya mengganggu keberadaan spesies lain yang kebetulan merupakan satwa buruan dari beruang kutub.
Belum lagi permasalahan pemanasan global yang kian parah juga menjadi salah satu indikator dalam perubahan ekosistem di kawasan arktik.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Jelang Piala Asia 2027, Timnas Indonesia Dijadwalkan Hadapi Tim Peringkat 63 Dunia di Kandang Lawan?
-
Mental Tangguh Berbicara! Asnawi Jadi Bek Kanan Termahal di Liga Thailand
-
Masuk Grup Neraka Babak Kualifikasi, Indonesia Bakal Susah ke Piala Asia U-17?
-
Lionel Messi Gantung Sepatu: Selesainya Era Alien yang Tak Akan Pernah Sanggup Disamai Generasi Baru
-
Kembali Raih Juara AFF, Vietnam Memang Berjodoh dengan Pelatih Asal Korea
Artikel Terkait
-
3 Fakta Unik Vernon SEVENTEEN, Rapper Kesayangan Carat yang Kece Abis!
-
6 Fakta Menarik Wisata Tanah Lot Bali, Nomor 6 Benarkah Hanya Mitos?
-
Danielle NewJeans Mengungkapkan Momen Paling Memalukan Dalam Hidupnya
-
Inilah Alasan Unik Bantal Guling Tidak Disediakan di Kamar Hotel
-
Sejarah dan Fakta Menarik Kabbadi, Cabang Olahraga Andalan Masyarakat India
Ulasan
-
Drama Korea Would You Marry Me?: Pernikahan Palsu demi Rumah Mewah
-
Belajar Tidak Menilai Orang dari Luarnya lewat Novel Senior
-
Dianggap Cacat, Jaksa di Bad Prosecutor Justru Melawan Penegak Hukum Korup
-
Ulasan Toy Story 5: Ketika Gadget Perlahan Mengambil Alih Masa Kecil Anak
-
Bukan Kisah Menyeramkan, Ini Keunikan Persahabatan di Buku The Skeleton and the Cat
Terkini
-
Buat Kaget! Hoshi SEVENTEEN Alami Cedera Lutut saat Ikuti Wajib Militer
-
Modernisasi Keselamatan Kelautan: Dari Analisis Pascatragedi Menuju Pencegahan Dini Berbasis AI
-
Auto Glowing! 5 Rekomendasi Brightening Ampoule Pembasmi Noda Jerawat
-
Konten Mindfulness Maudy Ayunda Dikritik Tone Deaf, di Mana Letak Masalahnya?
-
Kalau Namanya Makan Bergizi Gratis, Mana Jaminan Gizinya?