Selain dimeriahkan dengan aneka lomba khas tujuh belasan, perayaan HUT RI di Kota Palembang juga semarak oleh pergelaran lomba perahu bidar, lho! Dan buat kamu yang belum tahu apa itu lomba perahu bidar wajib simak artikel ini sampai habis, ya!
Lomba perahu bidar merupakan lomba balap dayung tahunan (tiap HUT RI dan HUT Kota Palembang) yang diselenggarakan di Sungai Musi Kota Palembang. Perlombaan adu cepat mendayung perahu ini mampu menyedot banyak perhatian baik dari masyarakat lokal maupun luar Palembang.
Hal ini terbukti dari ramainya masyarakat yang memadati pelataran Benteng Kuto Besak demi menyaksikan keseruan perlombaan. Lantas apa sih yang melatarbelakangi kemunculan lomba perahu bidar?
Mengutip Jurnal Pendidikan Unsika yang berjudul Tradisi Perahu Bidar sebagai Warisan Budaya dalam Kehidupan Masyarakat Kota Palembang (2022), disebutkan bahwa keberadaan lomba perahu bidar erat kaitannya dengan keberadaan perahu pencalang (perahu cepat menghilang) dari era Kesultanan Palembang.
Perahu yang memiliki panjang 10-20 m, lebar 1,5 m-3 m, dan daya tampung sampai 50 orang ini, dulunya dimanfaatkan sebagai alat transportasi sungai, kendaraan pelesiran raja dan pangeran, juga sarana yang mendukung mobilitas prajurit untuk berpatroli sungai.
Para ahli sejarah menduga, perahu pencalang inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya perahu bidar. Dan oleh Kesultanan Palembang Darussalam perahu bidar kemudian dilestarikan melalui pergelaran lomba kenceran.
Versi lain menyebut, bahwa perlombaan perahu bidar berawal dari legenda Putri Dayang Merindu yang populer di kalangan masyarakat kota Palembang. Menurut kisahnya, Putri Dayang Merindu adalah seorang gadis jelita yang diperebutkan oleh dua orang pemuda.
Alhasil, dipilihlah kompetisi perahu bidar sebagai penentu yang menjadikan salah satu dari mereka sebagai pendamping hidup Putri Dayang Merindu. Namun nahas, maut lebih dahulu bertemu dengan dua pemuda itu. Mereka ditemukan tewas terlungkup perahu bidarnya masing-masing.
Sebab kejadian itu, Putri Dayang Merindu memilih bunuh diri dengan menusukkan belati beracun ke dadanya. Sebelum, menemui ajal, Putri Dayang Merindu berpesan agar tubuhnya dibelah dua untuk kemudian dikuburkan bersama dua orang pemuda yang mencintainya.
Sikap Putri Dayang Merindu itulah yang membuat seluruh penduduk jadi sangat menghormatinya. Bahkan, untuk mengenangnya, penduduk setempat mengadakan perlombaan perahu bidar di Sungai Musi.
Pada zaman kolonial Belanda sendiri, perlombaan perahu bidar digelar untuk memperingati hari kelahiran Ratu Belanda. Yang kemudian perlombaan perahu bidar ini diturunkan sebagai warisan budaya yang masih bertahan hingga kini.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Cerita Pria Palembang Gagal Nikah Setelah Ditipu Janda Muda: Emas, Uang Sampai Ayam Dibawa
-
Berikut Klasemen Akhir AFF U-19 Putri, Timnas Indonesia Berpeluang ke Final
-
Sadisnya Begal di Jalan Soekarno Hatta Palembang, 2 Motor Dirampas Karena Diancam Celurit
-
10 Ide Lomba 17 Agustus yang Kreatif dan Menarik, Ada Lomba Masak dan Fashion Show
-
Lina Mukherjee Terserang Penyakit di Dalam Penjara: Pusing dan Nyeri di Ulu Hati
Ulasan
-
Review Ayahku (Bukan) Pembohong: Menemukan Hakikat Kejujuran dalam Dongeng
-
Review Film Eat Pray Bark: Saat Anjing Mengajari Manusia untuk Bersyukur
-
Bill Gates dan Obama Mewajibkan Baca Buku Ini! Membedah Rahasia Dominasi Sapiens ala Harari
-
Luka yang Tidak Selesai: Membaca Trauma Han Seol-ah dalam Sirens Kiss
-
Belajar Ikhlas di Taman Rusa USU: Ruang Pulang Saat Saya Berada di Titik Terendah
Terkini
-
Melawan Rindu dan Kerasnya Hidup Demi Kenyamanan Tinggal di Perantauan
-
Signal 2 Diisukan Gagal Tayang Tahun Ini di tvN, Pachinko Jadi Pengganti?
-
Jin Ki Joo dan Kim Sung Cheol Resmi Bintangi Drama Medis Sleeping Doctor
-
Stop Bilang "Bukan Saya": Mengapa Masbro Juga Bertanggung Jawab Atas Budaya Pelecehan
-
Manga Tensura Volume 32 Rilis 9 Juni 2026, Cerita Makin Memanas