Alfian Dippahatang lahir di Sulawesi Selatan, 3 Desember 1994. Pernah kuliah sastra Indonesia di Universitas Negeri Makasar dan Universitas Hasanuddin. Selain Bertarung dalam Sarung, bukunya yang sudah terbit adalah kumpulan puisi Semangkuk Lidah (2016), kumpulan puisi Dapur Ajaib (2017), dan novel Kematian Anda yang Tak Sia-Sia (2018).
Pada buku kumpulan cerpen Bertarung dalam Sarung ini terdapat tujuh belas cerita yang sebagian besar telah menjuarai lomba menulis cerpen nasional serta dimuat di media cetak. Seperti, Orang-Orang Dalam Menggelar Upacara juara I Lomba Menulis Cerpen Nasional Gebyar Bahasa dan Sastra Indonesia Hima Satrasia Universitas Pendidikan Indonesia (2015), Bissu Muda juara I dalam Lomba Menulis Cerpen Indonesia-Malaysia oleh Komunitas Ruang Aksara (2017), dan Bukan Sayid juara II Lomba Menulis Cerpen Nasional Gebyar Bahasa dan Sastra Indonesia Hima Satrasia Universitas Pendidikan Indonesia (2017).
Dua di antara tujuh belas cerita pendek yang terdapat dalam buku terbitan Kepustakaan Populer Gramedia (2019) ini, yang menarik untuk diulas adalah Ustaz To Balo dan Mayat yang Menceritakan Kematiannya.
To Balo artinya manusia belang yang ada di Pegunungan Bulu Pao yang terbentang luas melintasi wilayah Kabupaten Barru dan Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Ustaz To Balo ini merupakan anak bungsu yang hadirnya menjadi orang kesepuluh dalam keluarganya. Dalam kepercayaan ganjil itu, dalam satu keluarga tidak boleh lebih dari sembilan. Keluarga Ustaz To Balo percaya kepada dewa.
Maka, sewaktu kecil To Balo hendak dibunuh atau dibuang ke hutan agar jadi santapan binatang buas. Namun, To Balo kabur dari gubuknya dan menemui Pak Suardi yang akhirnya membawa To Balo ke sebuah pondok pesantren. To Balo belajar di pesantren tersebut hingga menjadi seorang ustaz. Bahkan, jodohnya pun juga teman pondoknya.
Sementara cerpen Mayat yang Menceritakan Kematiannya, mengisahkan mengenai kematian seorang penyair. Penyair itu bernama Anda Ruapandewi. Puisi-puisi Anda selalu menarik dalam penilaian juri sehingga seringkali ia menerima penghargaan bergengsi bertaraf nasional. Namun, kariernya dalam kepenulisan berlangsung singkat, sebab Anda mati dibunuh.
Kendati sudah meninggal dunia, Anda masih tetap menulis puisi di alam kubur. Tak jarang, teman-temannya yang sama-sama tinggal di kompleks pekuburan mewawancarai sebab kematiannya, juga bertanya seputar puisi.
Seperti cerpen-cerpen juara lainnya, pada cerpen-cerpen ini pun tentu "kemewahan" konflik dan diksi itu ada. Dan tak jarang, melalui cerpen-cerpennya ini, Alfian Dippahatang telah mengaduk-aduk perasaan pembaca.
Baca Juga
-
WA di Pergelangan Tangan: Apakah Fitur Baru Garmin Ini Akan Mengubah Cara Kita Berkomunikasi?
-
Harga Emas Turun Lagi, Harus Panik atau Santai Saja?
-
HONOR Magic8 Pro: Kamera 200MP dan Baterai Tangguh Kumpul dalam Satu Perangkat
-
Kitab Kaifa Takunu Ghaniyyan: Jalan Kaya yang Jarang Dibahas di Seminar
-
Ustaz Idaman, Murid Kebingungan: Memberi Hormat atau Mengutarakan Perasaan?
Artikel Terkait
Ulasan
-
Kisah Jessica dan Yusuf yang Awkward di Film Taaruf Enak Kali Ya?
-
Review Serial Rooster: Komedi Hangat Steve Carell di Kampus Liberal Arts
-
Kebrutalan Era Dinasti Joseon 1506 di Novel A Crane Among Wolves
-
Review Dear X: Senyum Manis Seorang Aktris dengan Sisi Gelap Mematikan
-
Review Novel Kami (Bukan) Fakir Asmara: Tutorial Jadi Badut Hubungan yang Tetap Elegan
Terkini
-
Gaun Pengantin di Sidang Cerai: Makna Mengejutkan di Balik Pilihan Wardatina Mawa
-
WA di Pergelangan Tangan: Apakah Fitur Baru Garmin Ini Akan Mengubah Cara Kita Berkomunikasi?
-
Bye-Bye Kemerahan! 4 Moisturizer Gel Allantoin di Bawah 50 Ribu untuk Kulit Berminyak
-
Resmi Diperkenalkan! Inilah Sosok Maple, Zavu, dan Clutch yang Akan Meriahkan Piala Dunia 2026
-
Harga Emas Turun Lagi, Harus Panik atau Santai Saja?