The Hating Game merupakan novel debut dari Sally Thorne yang pertama kali diterbitkan pada tahun 2016 silam.
Novel yang dalam bahasa Indonesia berarti Musuh Bebuyutan ini mendulang kesuksesan pesat setelah terjual di lebih dari dua puluh lima negara.
Novel The Hating Game ini juga berhasil masuk dalam daftar 20 novel romansa teratas menurut Washington Post di tahun 2016.
Selain itu, The Hating Game juga pernah keluar sebagai salah satu finalis dari total sepuluh finalis teratas di kategori roman Goodreads Choice Awars pada tahun 2016.
Kisah bermula dari bergabungnya dua perusahaan buku terbesar, Gamin Publishing dan Bexley Books, yang membuat Lucy Hutton harus berada dalam satu ruangan kerja yang sama dengan musuhnya, Joshua Templeman.
Keduanya menjabat di posisi yang sama sebagai asisten eksekutif CEO. Lucy merupakan asisten eksekutif dari Helene Pascal, sementara Joshua adalah asisten dari Tuan Bexley.
Namun, Lucy dan Joshua dikenal selalu tak akur dan berani menunjukkan kebencian mereka terhadap satu sama lain dengan terang-terangan.
Keduanya sering kali mengganggu, mengejek, hingga bertengkar di kantor. Mereka bahkan sampai mencatat tindakan dari satu sama lain untuk dilaporkan ke pihak personalia.
Sampai suatu hari, Joshua secara tiba-tiba menawarkan diri untuk mengantar Lucy ke tempat kencannya bersama Dany. Dari kejadian tersebut, hubungan keduanya mulai berubah menjadi Love-Hate Relationship.
Joshua mulai cemburu dengan kedekatan Lucy dan Dany, tetapi Lucy merasa sakit hati dengan tindakan yang telah dilakukan Joshua.
Sally Thorne dinilai sukses menciptakan The Hating Game dengan pengembangan plot yang bagus dan detail dalam menggambarkan suasana.
Pembaca akan menemukan chemistry Lucy dan Joshua yang dibentuk secara perlahan melalui adegan-adegan kecil yang ternyata memiliki pengaruh besar terhadap hubungan keduanya. Hal ini sukses membuat alur dan transformasi hubungan mereka tidak terlihat cheesy atau memaksakan.
Penggunaan sudut pandang pertama dalam The Hating Game juga dinilai tepat agar pembaca dapat merasakan seluruh emosi yang ditunjukkan oleh Lucy, mulai dari senang, sedih, hingga jengkel terhadap Joshua Templeman.
Saking suksesnya, novel ini berhasil diangkat ke layar lebar dengan judul serupa yang dirilis pada tahun 2021.
Baca Juga
-
Raup Rp19,6 T, The Odyssey Jadi Film Nolan Terlaris Sepanjang Karier
-
Rilis Trailer Perdana, Robert Pattinson Mainkan Dua Peran di Primetime
-
Sinopsis The Affair was Just the Beginning, Rahasia Kelam dari Pasutri Kaya
-
5 Film Terbaru Agustus 2026, Ada Dear You Hingga The Tao Exorcist!
-
Usai Manon, Sophia KATSEYE Umumkan Hiatus Grup Demi Kesehatan Mental
Artikel Terkait
-
Ulasan Buku 'Tokyo dan Perayaan Kesedihan', di Balik Sebuah Sifat Egois Diri Manusia
-
Ulasan Film Tune In For Love, Kisah Romansa Penuh Haru yang Bikin Nostalgia
-
Review Novel 'Autumn in Paris', Kisah Cinta yang Begitu Tragis
-
Ulasan Buku Lupus ABG: Grafiti di Meja Ulangan, Gagal Mencontek Sesal Kemudian
-
Mengulik Ketakutan Menikah hingga Inner Child dalam Novel Nona Teh dan Tuan Kopi
Ulasan
-
Di Balik Sepiring Dimsum: Membaca Ulang Makna Keluarga di Novel Clara Ng
-
Bosan Dimsum Mentai? Ini 5 Kuliner Nusantara di Nganjuk yang Patut Dicoba
-
Review Perfect Family: Keluarga Sempurna yang Ternyata Menyimpan Rahasia
-
The Skull Karya Jon Klassen, Dongeng Gelap yang Justru Terasa Menggemaskan
-
Ketika Cinta Tak Bisa Dimiliki: Menelusuri Makna Kehilangan dalam The Zahir
Terkini
-
Indonesia Emas 2045: Mungkinkah Berinovasi jika Sewa Rumah Saja Cemas?
-
Atasi Bibir Kering, Ini 5 Lip Serum Peptide yang Bikin Makin Memesona
-
Fenomena 'Beli Teman' dan Jasa Teman Jalan: Solusi Kesepian atau Modus Terselubung?
-
Namanya Bikin Salah Fokus, Ini 5 Fakta Menarik Mi Pentil Khas Bantul
-
Saat Kepercayaan Badminton Lovers Diuji: Ada Apa dengan Bulutangkis Indonesia?