Falcon kembali menghadirkan antusiasme dengan menayangkan Film Hamka & Siti Raham Vol. 2, sekuel dari Buya Hamka Vol. 1. Filmnya Diarahkan oleh Fajar Bustomi dengan kolaborasi Falcon, Starvision Plus, dan dukungan Majelis Ulama Indonesia. Filmnya sudah tayang di bioskop seluruh Indonesia, hari ini, 21 Desember 2023.
Film ini membuka tirai konflik Buya Hamka yang berupaya menyatukan ulama dan militer di Sumatera Utara. Kisah ini juga merinci kesetiaan Siti Raham dalam menemani perjuangan Buya Hamka. Meskipun Buya Hamka menghadapi kesulitan, fitnah dan penahanan, Siti Raham tetap setia menjaga semangat Buya Hamka dan bahkan menyembunyikan penderitaannya sendiri. Filmnya jelas menggambarkan kekuatan cinta, kesetiaan, dan perjuangan, dengan akting mengesankan dari Vino G. Bastian, Laudya Cynthia Bella, dan para pemain lainnya.
Ulasan:
Bahagia, deh, bisa nonton filmnya di hari dan jam pertama penayangan. Selepas menyaksikannya, aku jadi ‘ngeh’ bahwa film-film Indonesia saat ini, setidaknya, sudah cukup variatif dalam keberagaman genre. Dari film horor yang saking banyaknya bikin gumoh, film romansa yang menghipnotis para penikmatnya, serta sajian film aksi, misteri, drama fantasi, hingga drama biopik seperti "Hamka & Siti Raham".
Sinopsis filmnya bagiku cukup menjanjikan. Penting untuk tahu, ya, bahwa film ini nggak sekadar menghibur, tetapi juga menjadi medium visual yang membangkitkan sejarah hidup nyata seorang Hamka.
Evaluasi terkait judul: Hamka & Siti Raham, menurutku jauh lebih unggul dalam hal kualitasnya, juga perubahan judulnya yang berbeda dari pendahulunya, meskipun pada awalnya bikin aku bertanya-tanya, tapi setelah menontonnya, aku rasa pemilihan judulnya sudah sangat tepat. Cobalah untuk nggak terlalu berekspektasi yang aneh-aneh, mari nikmati dan ikuti kisah perjalanan nyata dari hidup Buya Hamka dengan hati yang lapang.
Salah satu aspek selain visualnya yang cantik, tentunya yang luar biasa adalah para bintang utamanya: Laudya Chintya Bella dan Vino G Bastian, berhasil menciptakan kemesraan halal yang melekat dalam setiap adegan, sehingga membawa penonton dalam alur cerita yang penuh pesona.
Penghargaan dariku juga kuberikan kepada sutradara dan seluruh tim produksi yang terlibat. Kalian berhasil memberikan bukti konkret akan kerja keras dalam menciptakan karya yang nggak hanya menghibur dan penuh pesan moral, tetapi juga memukau.
Jujur saja, film ini agak berbeda dari yang pertama, ya. Volume kedua cenderung seperti entitas baru yang berdiri sendiri, jadi kesannya, nggak secara langsung berjalan mengikuti ending film volume satu. Dan konflik internal yang muncul dalam volume kedua memberikan dimensi baru pada karakter Buya Hamka. Perubahan dalam dirinya terasa lebih berkembang, intim, dan tentunya semakin kompleks. Aura yang tercipta sepanjang mengikuti kisah Hamka, berhasil menorehkan makna mendalam.
Meskipun adanya kritik terkait minimnya screen time antara Buya Hamka dan Soekarno, menurutku ini wajar, sih. Sebab, fokus utama dari cerita ini memang tentang perjalanan hidup Buya Hamka dan Siti Raham. Maka, dengan bangga dan penuh cinta, aku kasih skor: 9/10.
Intinya, film ini memancarkan pesona yang sulit diabaikan. Dengan penggalian mendalam pada karakter dan kualitas produksi yang unggul, "Hamka & Siti Raham" bukan hanya sebuah tontonan, melainkan sebuah pengalaman sinematik yang mendalam dan memuaskan. Selamat menonton, ya.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
-
Teror Tanpa Jumpscare Berlebihan, 'Kucing Hitam' Buktikan Horor Atmosferik Lebih Mengerikan
-
Ulasan Propeller One-Way Night Coach: Film yang Asyik Curhat Sendiri
-
Review Film Renoir: Ketika Kita Terlalu Remehkan Perasaan Anak
-
Monster Sesungguhnya Adalah Trauma: Mengulas Sisi Gelap Film 'Badut Gendong'
-
Writing with Fire Bukan Film, Mengulik Orang-Orang yang Menolak Dibungkam
Artikel Terkait
-
Review "Smallfoot", Manusia Hanya Dianggap sebagai Legenda oleh Bangsa Yeti
-
Review Film 'Storks', Petualangan Seru Bangau Mengantarkan Bayi Manusia
-
Review Film Sick, Teror Slasher di Tengah Pandemi
-
5 Rekomendasi Film yang Dibintangi Indra Jegel, Terbaru Ada Agak Laen
-
Review Film Aquaman and the Lost Kingdom, Aksi Terakhir sang Penjaga Lautan
Ulasan
-
Menyusuri Jejak Peradaban Islam di Baghdad Lewat Catatan Hamka
-
Ulasan Drama Unnatural Fire, Tiga Detektif Kebakaran Penyingkap Tabir Kelam
-
Antidot Budaya Konsumtif: Mengapa Mahakarya Tolstoy Tahun 1886 Semakin Relevan Sekarang?
-
Teror Tanpa Jumpscare Berlebihan, 'Kucing Hitam' Buktikan Horor Atmosferik Lebih Mengerikan
-
Guru Juga Bisa Kecewa: Membaca Aib dan Martabat Karya Dag Solstad
Terkini
-
Film Crayon Shin-chan ke-33 Rilis Trailer Baru, Ungkap Lagu Tema oleh TOMOO
-
Simak! Ini Modus Baru Penipuan Digital yang Sedang Marak di Indonesia dan Dunia
-
Siap-siap Tertawa! Ge Pamungkas Bakal Rilis Stand-up Spesial GOAT di Netflix
-
Tak Hanya iPhone, OPPO Find X9 Ultra Bisa Upload Story Instagram Lebih HD!
-
MEOVV Tampilkan Pesona Elegan Tapi Garang di Lagu Terbaru, Ddi Ro Ri