Pas pertama kali melihat novel “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer, menurut saya buku ini cukup tebal dengan 535 halaman.
Buku ini adalah novel pertama dari seri Tetralogi “Buru”. Novel lawas ini terbit pertama kali di tahun 1980 dan di tahun 1981, buku ini sempat dilarang beredar oleh Jaksa Agung Indonesia.
Mengusung genre romansa, "Bumi Manusia" mengambil latar waktu di sekitar tahun 1899. Novel ini berkisah tentang Minke, seorang siswa HBS, sekolah yang sebagian besar siswanya adalah orang Belanda. Suatu ketika, Minke yang anak pribumi bertemu dengan seorang Annalies di rumah Nyai Ontosoroh.
Nyai Ontosoroh digambarkan sebagai sosok yang memiliki kepribadian tak tertebak. Jujur saya benar-benar kagum dengan penulis yang berhasil membuat penokohan seperti ini. Karena karakter yang kuat yang unik dari masing-masing tokohnya ini mampu menggerakkan jalan cerita.
Buku ini bukanlah novel romansa biasa karena adanya sejarah Hindia Belanda dalam ceritanya. Membaca buku ini membuat saya bisa mengetahui tentang kehidupan orang Eropa dan pribumi di masa tersebut. Semuanya terasa menyenangkan karena dikemas dalam bentuk fiksi.
Novel ini juga menceritakan ketidakadilan yang dialami para masyarakat pribumi yang saat itu belum merdeka. Lalu pengadilan kulit putih yang mengaduk emosi dan perasaan.
Meski memiliki alur yang unik, tapi bukan berarti buku ini tidak memiliki kekurangan. Ada kata yang menggunakan ejaan lama dan mungkin berbeda dengan kata yang ada di KBBI. Lalu juga ada beberapa kata dalam Bahasa Belanda. Sehingga saya sedikit kesulitan dalam memahami. Selain itu, bacaan ini terasa berat dan ada adegan yang sedikit mengganggu kenyamanan.
Contoh gaya bahasa yang digunakan dalam novel ini sebagai berikut:
“Siapa yang menjadikan aku gundik? Siapa yang membikin mereka jadi nyai-nyai? Tuan-tuan Bangsa Eropa, yang dipertuankan. Mengapa di forum resmi kami ditertawakan? Dihinakan? Apa Tuan-tuan menghendaki anakku juga menjadi gundik?” Nyai (hal 427).
Meski begitu, secara keseluruhan “Bumi Manusia” tetap menarik. Bahkan buku ini telah diterjemahkan dalam beberapa bahasa dan diangkat ke layar lebar.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
Artikel Terkait
Ulasan
-
Saat Seragam Berbicara tentang Kemanusiaan: Mengapa Kisah Tentara dan Dokter di DOTS Begitu Mengena?
-
Puisi sebagai Perlawanan: Membaca Kita Adalah Jelata di Tengah Indonesia yang Gelap
-
Children of Heaven Begitu Lembut Memotret Kemiskinan Hingga Menyayat Hati
-
Tak Sekadar Ilmuwan: Sisi Manusiawi Stephen Hawking dalam My Brief History
-
Self-Love dan Depresi dalam Novel 'Matahari Pun Terluka'
Terkini
-
4 Padu Padan OOTD Versatile Classic ala Gawon MEOVV yang Timeless Banget!
-
Dua Novel Baru Kyoto Animation Akan Terbit pada Juni 2026
-
Refleksi Iduladha di Tengah Ketamakan dan Ketidakadilan Penguasa
-
Saat 'Diterima Teman' Lebih Penting dari Kesehatan: Membedah Psikologi Remaja Pengguna Vape
-
Tim Produksi Hidden Eye Minta Maaf Usai Salah Pakai Foto Masa Kecil Hyunjin