Vantage Point adalah sebuah film thriller politik yang disutradarai oleh Pete Travis, dan dirilis pada 2008.
Film ini memiliki narasi yang unik karena mengisahkan upaya pembunuhan terhadap Presiden Amerika Serikat, Henry Ashton, melalui berbagai perspektif dari beberapa karakter yang berbeda.
Hal ini memungkinkan penonton untuk melihat peristiwa dari berbagai perspektif, menambahkan lapisan-lapisan informasi yang membantu membentuk gambaran lengkap tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Cerita dimulai di Salamanca, Spanyol, Presiden Henry Ashton (William Hurt) sedang menghadiri sebuah konferensi anti-terorisme.
Ketika ia memberikan pidato di depan umum, ia ditembak, yang kemudian disusul oleh ledakan bom yang menciptakan kepanikan besar di tengah-tengah kerumunan.
Film ini kemudian mengulang kejadian yang sama sebanyak beberapa kali, tetapi dari sudut pandang karakter yang berbeda, masing-masing menambah rincian baru tentang kejadian yang terjadi.
Sudut pandang ini termasuk dari agen Secret Service Thomas Barnes (Dennis Quaid), yang baru saja kembali bertugas setelah insiden yang hampir sama sebelumnya, Howard Lewis (Forest Whitaker), seorang turis Amerika yang secara tidak sengaja merekam kejadian tersebut dengan kamera videonya, serta Rex Brooks (Sigourney Weaver), seorang produser berita Amerika yang melaporkan konferensi tersebut secara langsung.
Melalui sudut pandang yang berbeda ini, penonton diperkenalkan dengan serangkaian karakter lain yang memainkan peran kunci dalam plot, termasuk para teroris yang merencanakan serangan dan orang-orang di balik layar yang mencoba memanipulasi situasi untuk keuntungan mereka sendiri.
Seiring berjalannya cerita, setiap sudut pandang memberikan petunjuk tambahan, memperlihatkan detail yang awalnya tersembunyi atau tidak jelas.
Klimaks film melibatkan pengejaran yang intens, di mana karakter-karakter utama berlomba dengan waktu untuk menghentikan rencana jahat ini sebelum terjadi kehancuran yang lebih besar
Ulasan Film Vantage Point
Vantage Point adalah salah satu film thriller yang mencoba menarik penonton dengan narasi uniknya, dengan pendekatan, yang mengisahkan peristiwa yang sama dari berbagai perspektif.
Hal yang paling menonjol dalam Vantage Point adalah struktur ceritanya. Dengan memperlihatkan peristiwa penembakan dari berbagai sudut pandang, film ini berusaha memberikan lapisan demi lapisan yang menggugah rasa penasaran.
Namun, pengulangan yang berlebihan dalam penceritaan dapat terasa membosankan dan melelahkan bagi sebagaian penonton.
Alih-alih memperdalam misteri, beberapa pengulangan justru memperlambat ritme cerita dan membuat ketegangan yang harusnya terus meningkat malah menurun.
Aktor seperti, Dennis Quaid, Forest Whitaker, dan Sigourney Weaver, juga memberikan penampilan yang solid dalam memerankan setiap karakter.
Namun karakter-karakter mereka terkadang terasa kurang berkembang karena keterbatasan skrip yang lebih fokus pada narasi non-linear daripada pengembangan karakter. Akibatnya, ada sedikit kesulitan untuk benar-benar merasa terhubung dengan karakter-karakter tersebut.
Teknik sinematografi juga menjadi aspek penting dalam film ini. Adegan-adegan aksi difilmkan dengan baik, memberikan intensitas yang diperlukan dalam momen-momen kritis.
Satu hal yang patut dipuji adalah usaha film ini dalam menyajikan sebuah pandangan tentang kompleksitas terorisme dan politik global.
Meskipun tidak semua elemen cerita berhasil disatukan dengan mulus, ide dasar bahwa setiap sudut pandang bisa mengungkapkan kebenaran yang berbeda adalah sesuatu yang relevan dan menarik.
Secara keseluruhan, Vantage Point adalah sebuah eksperimen naratif yang ambisius dengan menggabungkan narasi non-linear dan aksi intens serta elemen thriller.
Meskipun, pengulangan perspektif dalam film ini bisa kurang efektif dalam menjaga ketegangan hingga akhir, film ini tetap layak sekali untuk ditonton.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Review The Long Walk: Film Distopia yang Brutal, Suram, dan Emosional
-
Review Film Weapons: Horor Non-Linear dengan Atmosfer Super Mencekam
-
Ikon Metal Legendaris Ozzy Osbourne Meninggal Dunia di Usia 76 Tahun
-
7 Film dan Serial yang Dibintangi David Corenswet sebelum Jadi Superman
-
Review Film Havoc: Suguhkan Aksi Super Brutal tapi Naskah Terlalu Datar
Artikel Terkait
-
Jadi Dokter Gigi di Film Horor, Begini Cara Arya Saloka Dalami Peran
-
Ulasan Film Smugglers, Suguhkan Tema Berat dengan Gaya Penyajian Sederhana
-
Hanung Bramantyo Beberkan Rahasia Reza Rahadian yang Laris Jadi Aktor Film
-
Ulasan Film The Thin Red Line: Pertempuran Sengit di Pulau Guadalcanal
-
3 Film Lawas Korea yang Dibintangi Kim Tae Hee, Bikin Nostalgia!
Ulasan
-
Review Novel Bekisar Merah: Warisan Kekerasan dan Luka di Balik Eksotisme
-
Review Film Coraline: Remastered 3D yang Seram dan Bikin Merinding!
-
Resep Viral: Cara Membuat Abura Soba Pakai Samyang ala Kyuhyun Super Junior
-
Membaca Pola Traumatis dalam Drama 'Can This Love Be Translated?'
-
Alasan Wajib Nonton Be Passionately in Love, Drama Youth China yang Viral di WeTV
Terkini
-
The World Is Dancing Diadaptasi Anime TV, Kisah Awal Teater Noh Tayang 2026
-
4 Rekomendasi Sunscreen Berbahan Bakuchiol, Anti-Aging Lembut untuk Kulit Sensitif
-
Daftar Konten Korea Netflix 2026: Variety Show dan Drama Thriller Siap Ramaikan Layar
-
Viral di Medsos, Lisa BLACKPINK Disebut Syuting Film di Bandung Barat
-
Realme P4 Power Siap Meluncur 29 Januari di India, HP Baru Bawa Baterai Setara Power Bank