Membaca Komsi Komsa karya E.S. Ito terasa seperti memasuki mesin waktu yang membawa kita kembali ke dekade 1950-an. Di tengah gejolak politik dunia pasca-Perang Dunia II, kita mengikuti jejak Sam—seorang pria yang berambisi menaklukkan dunia dengan caranya sendiri. Lewat tangan dingin E.S. Ito, sejarah bangsa-bangsa bukan lagi sekadar catatan kaku di buku pelajaran, melainkan sebuah petualangan yang mendebarkan.
Sinopsis: Dari Ijazah Palsu ke Panggung Spionase Dunia
Kisah bermula di Saipan, saat Sam nyaris mengakhiri hidupnya karena gagal masuk sekolah militer akibat terendus menggunakan ijazah palsu. Pertemuannya dengan Ted William, seorang dokter Amerika, mengubah segalanya. Atas bantuan Ted, Sam terbang ke Amerika, memanipulasi statusnya sebagai veteran perang Asia untuk masuk ke kampus ternama, hingga akhirnya terjebak dalam lingkaran setan perjudian.
Utang besar memaksa Sam masuk ke dunia gelap. Ia terlibat dalam penyelundupan obat-obatan di Turki, perdagangan manusia dari Honduras, hingga menjadi saksi kunci berbagai tragedi politik besar di Asia, mulai dari Perang Vietnam, pergolakan di Laos dan Burma, hingga misteri kecelakaan pesawat pejabat tinggi Tiongkok. Sam, yang aslinya bernama Sampurasun dan melarikan diri dari bayang-bayang ayah angkatnya di Bandung, kini menjadi poros tak terlihat dalam peta politik Asia-Afrika.
Candu Pertaruhan Hidup dan Mati
E.S. Ito dengan piawai menggambarkan Sam sebagai sosok yang kecanduan mempertaruhkan hidupnya. Baginya, judi bukan sekadar soal uang, melainkan cara untuk merasa "hidup". Sebagaimana tertulis dalam halaman 74: "Sam merasa sudah ke mana-mana tapi sebenarnya tidak di mana-mana karena tiada tempat yang akan jadi pelabuhan hati."
Kehidupan Sam adalah rangkaian manipulasi tingkat tinggi. Sejak masa kemerdekaan Indonesia, ia sudah lihai "bermain" dengan jenderal Jepang dan Belanda demi keuntungan pribadi. Namun, petualangan ini adalah candu yang mengundang maut. Ia harus memilih: terus berjudi dengan nyawa atau menemukan tujuan sebenarnya untuk berhenti. Sejarah mencatat, hanya mereka yang mengenal tujuannya yang tahu kapan harus berhenti.
Siapa yang Diuntungkan dari Sebuah Perang?
Salah satu kekuatan novel ini adalah akurasi timeline sejarahnya. Tahun 1950-an adalah masa transisi yang krusial bagi negara-negara Asia-Afrika. E.S. Ito mengajak kita merenung: siapa yang sebenarnya diuntungkan dari konflik antarnegara? Jawabannya dingin dan pragmatis: para pedagang senjata. Tak peduli siapa yang menang atau kalah, selama peluru masih ditembakkan, mereka tetap meraup untung.
Novel ini juga mengingatkan kita bahwa rasisme dan perang ideologi adalah pola lama yang terus berulang untuk menumbangkan rezim. Dengan melihat sejarah dari kacamata pelakunya, kita disadarkan bahwa jika kita gagal mengambil hikmah dari masa lalu, sejarah tersebut akan kembali terulang dengan wajah yang berbeda.
Komsi Komsa adalah fiksi sejarah yang disajikan dengan cara yang sangat unik dan segar. Meski tebal dan rumit, narasinya tidak membosankan. Buku ini sangat direkomendasikan bagi Anda yang menyukai genre petualangan, konspirasi, dan ingin memahami sejarah dunia melalui sudut pandang yang lebih personal dan tajam.
Identitas Buku:
- Judul : Komsi Komsa
- Penulis: E.S. Ito
- Penerbit: falconpublishing
- Terbit: Cetakan pertama, Desember 2021
- Tebal: 351 halaman
- ISBN: 978-602-6714-72-5
Baca Juga
-
Bahagia Menurut Ki Ageng Suryomentaram, Plato hingga Al-Ghazali: Bedah Buku Filsafat Kebahagiaan
-
Resensi Buku Bintang Merah Menerangi Dunia Ketiga: Warisan Revolusi Oktober 1917.
-
Review Orang-Orang Bloomington: Menguliti Kesepian di Balik Wajah Manusia
-
Review Ibu Susu: Gugatan Rio Johan Atas Sejarah yang Menghapus Orang Biasa
-
Senyum Karyamin: Menelusuri Jejak Kemanusiaan di Balik Ironi Desa
Artikel Terkait
-
Novel Tinandrose: Mencari Cahaya di Balik Depresi dan Doa yang Tak Terjawab
-
Film Palestine 36: Kisah tentang Humanisme di Balik Perlawanan Berdarah!
-
Cermin Buat Jiwa yang Berdebu: Sebuah Review Jujur Laki-Laki yang Tak Berhenti Menangis
-
Novel Perempuan Bersampur Merah: Kisah Nyata Dukun Suwuk yang Difitnah
-
Teka-teki Rumah Aneh: Misteri Kamar Tanpa Jendela dan Pergelangan Tangan yang Hilang
Ulasan
-
Andai Kita Bisa Kembali ke Masa Kecil: Pahitnya Jadi Dewasa di Lima Cerita
-
Ulasan Film Songko: Eksplorasi Urban Legend Minahasa yang Bikin Merinding!
-
Review The Art of Sarah: Saat Kemewahan Jadi Topeng yang Menutup Kepalsuan
-
Di Atas Dendam, Ada Martabat: Mengenal Sisi Intim Buya Hamka Lewat Memoar Anak
-
Ulasan Novel Aku, Meps, dan Beps, Kehangatan Keluarga dalam Kesederhanaan
Terkini
-
Bungo Stray Dogs Wan! 2 Tayang Juli 2026, Deretan Karakter Baru Hadir
-
Teka-Teki Kepergian Bapak
-
Laboratorium Harapan: Taktik Anak Pertama Meracik Masa Depan di Tengah Batas
-
Tak Sekadar Pameran, IMX Prambanan Gabungkan Otomotif dan Nuansa Heritage
-
Perempuan Misterius yang Menyeberang Jalan di Tengah Malam