Bahagia dan sedih merupakan dua kondisi yang biasa dialami oleh setiap manusia. Kedua kondisi ini datang silih berganti. Bila disuruh memilih, tentu tak ada satu orang pun yang ingin menderita atau mengalami kesedihan. Maunya hanya hidup dengan hal-hal yang membahagiakan saja.
Namun, sepertinya itu sangat mustahil terjadi. Namanya juga hidup, pasti kita akan bertemu dengan hal-hal yang di satu sisi mendatangkan kebahagiaan, sementara di sisi lain menjadi penyebab kesedihan. Itulah yang dinamakan suka duka kehidupan.
Satu-satunya cara yang bisa kita lakukan adalah berusaha menghadapinya dengan keikhlasan, keridaan, serta yakin bahwa ujian kehidupan merupakan cara Tuhan menyayangi hamba-hamba-Nya.
Bicara tentang ujian hidup, dalam buku ‘Jangan Bersedih, Karena Allah Selalu Bersamamu’ diuraikan bahwa sesungguhnya, kehidupan tidak pernah luput dari kesengsaraan, duka, dan ujian. Jika ingin terus berjalan mengarungi hidup ini, maka kamu harus memiliki perahu harapan dan ridha.
Harapan dan impian, ridha dan cinta, serta ketengan jiwa, merupakan buah yang diharapkan dan tanaman akidah dalam jiwa seorang mukmin. Itu adalah kekayaan yang tidak akan pernah habis dalam menghadapi persaingan hidup. Sebab, ini adalah pertarungan yang sangat panjang, memiliki banyak beban, serta dikelilingi oleh penderitaan dan kesengsaraan (hlm. 9).
Tak perlu larut dalam kesedihan tatkala kita bersua dengan hal-hal yang membuat luka hati. Percaya dan yakinlah, kita mampu melewati semua itu dengan baik, dan semua akan baik-baik saja. Yakinlah bahwa Allah pasti akan menolong kesulitan atau kesusahan yang kita alami. Bukankah telah dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan?
Ada penjelasan menarik dalam buku ini yang dapat dijadikan sebagai motivasi agar kita tak larut dalam kesedihan. “Jangan bersedih. Bukankah kamu melihat mendung hitam bisa sirna, malam yang pekat perlahan berlalu, dan angin yang menderu-deru kembali tenang. Badai pasti berlalu. Jadi seluruh kesempitan itu akan menjadi longgar, hidupmu bakal damai, dan masa depanmu akan cerah”.
Jangan bersedih. Perbaikilah prasangkamu terhadap Allah Swt. Jangan bersedih, karena Allah sangat mencintaimu, lebih dari cinta seorang ibu kepada anak yang disusuinya. Allah tidaklah memilih sesuatu untukmu, kecuali yang terbaik (hlm. 11).
Buku karya Mahmud Al-Mishri yang diterbitkan oleh penerbit Laksana (Yogyakarta) ini semoga bisa menjadi sumber inspirasi sekaligus membantu memotivasi kita agar berusaha menjalani kehidupan ini dengan gembira dan tak larut dalam kesedihan saat ujian datang menyapa. Selamat membaca.
Baca Juga
-
Bedah Buku 'Sebilah Lidah': Ketika Puisi Menelanjangi Sisi Gelap Manusia Modern
-
Lika-liku Menjadi Tukang Ojek Online: Catatan Harian Bang Ojol
-
Unpopular Opinion: Kita Butuh Cancel Culture yang Lebih Kejam untuk Figur Publik Bermasalah
-
Self Reward sebagai Bentuk Perayaan atau Pemborosan?
-
Fenomena 'Beli Teman' dan Jasa Teman Jalan: Solusi Kesepian atau Modus Terselubung?
Artikel Terkait
Ulasan
-
Buku All The Bright Places, Meruntuhkan Stigma Negatif Isu Mental Health
-
Review Skenario Sang Jenderal: Kupas Kasus Sensitif yang Mengguncang Publik
-
Review Terbelah Jadi Dua dan Alasan Kita Senang Menyiksa Diri Lewat Lagu
-
Review Film Hope, Teror Makhluk Misterius di Desa Terpencil
-
Ulasan Film Agensi Rumah Tangga: Angkat Isu Sosial Lewat Tawa Menyegarkan
Terkini
-
Menikmati Sejuknya Jogja dengan Nuansa Jepang di Onsen Resort Kaliurang
-
Sinopsis 100 Days of Deception: Misi Rahasia di Era Penjajahan Jepang
-
Doomscrolling: Antara Kepedulian Sosial dan Rasa Putus Asa yang Mengintai
-
Evaluasi Problem Ekonomi: AEI Soroti Risiko Fiskal hingga Deforestasi
-
Resmi di Indonesia! Redmi Note 17 Pro Max Bawa Baterai Jumbo 10.000 mAh