Di antara berbagai komik Korea yang beredar, The God of High School (GOH) mungkin dikenal sebagai salah satu manhwa dengan aksi paling brutal dan plot yang liar. Tapi di balik pertarungan superhuman dan turnamen yang absurd, ada satu kalimat yang terus diulang dan menjadi inti dari perjalanan karakter utamanya: Ikuti hatimu dan hidungmu.
Ini adalah kata-kata yang diwariskan kepada Jin Mori, protagonis cerita, oleh kakeknya, Jin Taejin. Awalnya, kalimat ini terdengar seperti motivasi khas ala shonen, sesuatu yang sering didengar dalam cerita kepahlawanan. Tapi semakin dalam kita memahami dunia GOH, semakin jelas bahwa ini bukan sekadar dorongan untuk bertindak impulsif, melainkan prinsip hidup yang mencerminkan keseimbangan antara intuisi, keinginan, dan realitas.
Hati dan Hidung: Intuisi vs Realitas
Dalam kehidupan, ada dua cara utama kita mengambil keputusan: dengan hati atau dengan logika. Namun, GOH menambahkan elemen ketiga—hidung. Jika hati mewakili emosi dan intuisi, maka hidung bisa diartikan sebagai insting dan kepekaan terhadap lingkungan.
Jin Mori bukan tipe karakter yang suka berpikir terlalu lama. Dia mengikuti kata hatinya, tetapi tidak dengan cara yang naif. Dia bergerak berdasarkan intuisi dan membaca situasi dengan cara yang tidak konvensional. Dia tidak selalu mengambil keputusan berdasarkan baik atau buruk menurut moral standar, melainkan berdasarkan apa yang terasa benar baginya pada saat itu. Ini menjadikannya karakter yang tampak sembrono, tetapi juga seseorang yang benar-benar merdeka dari ekspektasi orang lain.
Kebebasan untuk Tidak Selalu Benar
Menariknya, filosofi ini juga memberi ruang untuk kesalahan. Mengikuti hati dan hidung bukan berarti Mori selalu membuat keputusan terbaik. Dalam perjalanan hidupnya, ia mengalami kekalahan, kehilangan, dan kebingungan. Tapi ia tidak berhenti karena kesalahan-kesalahannya. Ia terus berjalan, percaya bahwa setiap langkah yang ia ambil adalah bagian dari perjalanan menuju pemahaman yang lebih dalam.
Di dunia yang sering kali menuntut kita untuk berpikir strategis dan merencanakan segala sesuatu dengan sempurna, prinsip ini terasa seperti perlawanan terhadap obsesi modern akan kesuksesan yang terukur. Hidup tidak harus selalu logis, dan kadang-kadang, keputusan yang tidak masuk akal justru membawa kita ke tempat yang seharusnya.
Mengikuti Hati dan Hidung di Dunia Nyata
Konsep ini bisa terasa asing di kehidupan nyata, di mana orang sering kali dituntut untuk mengikuti aturan, mempertimbangkan dampak jangka panjang, dan mengambil keputusan yang "paling benar." Tapi jika kita pikirkan lebih dalam, banyak momen penting dalam hidup justru terjadi karena kita berani mengikuti insting kita.
Kita tidak selalu bisa menjelaskan mengapa kita tertarik pada sesuatu, mengapa kita memilih jalan tertentu, atau mengapa kita merasa nyaman dengan seseorang. Seperti Jin Mori, kita sering kali tidak punya alasan logis untuk tindakan kita, tetapi tetap saja kita tahu bahwa itu adalah keputusan yang tepat.
Mengikuti hati saja bisa membuat kita tersesat dalam ilusi. Mengikuti logika saja bisa membuat kita kehilangan keberanian untuk mengambil risiko. Tapi mengikuti hati dan hidung? Itu adalah kombinasi yang memungkinkan kita tetap setia pada diri sendiri sambil tetap sadar akan realitas di sekitar kita.
Kesimpulan: Hidup dengan Intuisi yang Seimbang
Pada akhirnya, The God of High School bukan hanya tentang pertarungan antar dewa atau sistem kekuatan yang kacau, tetapi juga tentang perjalanan menjadi diri sendiri. Kata-kata Ikuti hatimu dan hidungmu bukan sekadar nasihat, tetapi sebuah ajakan untuk hidup dengan keseimbangan antara intuisi dan insting.
Mungkin kita tidak hidup di dunia yang penuh dengan makhluk mitologis dan turnamen yang bisa menghancurkan kota, tetapi kita tetap menghadapi pertarungan kita sendiri setiap hari. Dan dalam perjalanan itu, mungkin ada baiknya kita sesekali berhenti berpikir terlalu keras, menarik napas dalam-dalam, dan membiarkan hati serta hidung kita yang menuntun langkah berikutnya.
Baca Juga
-
CERPEN: Basa-basi di Balik Mesin Kopi, Saat Rindu Tidak Tahu Diri
-
Haus Itu Minum, Bukan Mencari Validasi: Refleksi Kebutuhan Diri di Era Pamer
-
Sekolah Membunuh Rasa, Lalu Apa Kabar Kreativitas Kita?
-
Membaca Ulang Kepada Uang: Puisi tentang Sederhana yang Tak Pernah Sederhana
-
Kecemasan: Luka Batin Kolektif di Zaman Scroll Tanpa Henti
Artikel Terkait
-
Ulasan Buku Good Vibes, Good Life: Mencintai Diri agar Hidup Lebih Bahagia
-
Buku 101 Alasan Bertahan Hidup: Tidak Menyerah dalam Menghadapi Kesulitan
-
Ulasan Buku Berdamai dengan Diri Sendiri: Seni Menerima Diri Apa Adanya
-
Kumpulan Kisah Hangat tentang Kucing: Review Buku 'Kucing Bernama Dickens'
-
Mengenal Timbuktu: Kota Emas yang Sering Muncul di Komik Donal Bebek, Ternyata Pusat Agama Islam
Ulasan
-
Kejujuran yang Diadili: Membaca Absurditas dalam 'Orang Asing' karya Albert Camus
-
Review Never Back Down (2008): Film dengan Latar Belakang Seni Bela Diri Campuran!
-
Kejamnya Label Sosial Tanpa Pandang Umur di Novel 'Dia yang Haram'
-
Tanah Gersang: Kritik Tajam Mochtar Lubis Tentang Moral di Ibukota
-
Drama China You Are My Hero: Ketika Medis dan Militer Bertemu
Terkini
-
Topeng Arsenik di Pendapa Jenggala
-
Dihubungi John Herdman, Peluang Tampil Sandy Walsh di Timnas Kian Besar?
-
Veda Ega Pratama Debut Moto3: Seberapa Besar Peluangnya Melaju di MotoGP?
-
Preppy Hingga Street Style, Intip 4 Ide OOTD Layering ala Shin Eun Soo Ini!
-
Fetisisme Kesibukan: Saat Lelah Menjadi Simbol Status Sosial