Hernawan | Athar Farha
Poster Film Grand Tour (IMDb)
Athar Farha

Bayangkan jika Sobat Yoursay melakukan perjalanan lintas negara, bukan buat liburan, tapi demi lari dari tanggung jawab yang nggak siap diemban. Lalu, dalam pelarian itu, justru Sobat Yoursay menemukan hal-hal yang nggak pernah dicari. Itulah yang terasa setelah menonton Film Grand Tour, garapan sutradara asal Portugal, Miguel Gomes, yang kembali menunjukkan kecintaannya pada eksplorasi visual dan narasi yang nggak murahan. 

Film ini pertama kali tayang di Festival Film Cannes 2024 dan meraih penghargaan Sutradara Terbaik. Wow!

Diproduksi sama Portugal O Som e a Fúria, bekerja sama dengan MUBI dan beberapa mitra, Film Grand Tour dengan durasi ±129 menit menawarkan petualangan sinematik yang berpindah-pindah dalam ruang dan waktu. Ya, nggak hanya kisah cinta atau pencarian jati diri, film ini juga cerminan tentang gimana manusia memaknai perjalanan hidup, sejarah, dan keterasingan dalam dunia yang terus bergerak.

Sekilas tentang Film Grand Tour 

Cerita dimulai dengan visual ala dokumenter (seperti hasil rekaman kamera 16mm) yang menampilkan keriuhan taman hiburan di Asia Tenggara. 

Di tengah hiruk-pikuk itulah kita bertemu Edward, pria Inggris berjas putih (diperankan Goncalo Waddington), yang sedang berada di Singapura awal abad ke-20. 

Eits, jangan bayangkan Edward lagi bersenang-senang ya. Justru, Edward sedang kabur. Bukan dari musuh, tapi dari tunangannya, Molly, karena dia belum siap untuk menikah.

Edward memulai perjalanannya melewati kota-kota seperti Rangoon, Bangkok, dan Hong Kong. Ibarat “grand tour” dalam arti harfiahnya. 

Namun ini bukan wisata budaya ala bangsawan Eropa ya. Edward lebih seperti orang yang melarikan diri tanpa arah, cuek pada dunia di sekitarnya. 

Di sepanjang perjalanan, dia bertemu dengan berbagai karakter dan lanskap, tapi nggak ada yang benar-benar dia sapa secara emosional. Bahkan, menariknya, dia berbicara dalam bahasa Portugis, bukan Inggris.

Setelah satu jam film berjalan, barulah Molly (diperankan Crista Alfaiate) muncul di layar. Dengan tawa kecil yang khas dan tekad keras, dia memutuskan untuk mengejar Edward, bahkan jika harus menyeretnya pulang dengan paksa. 

Dan di saat itulah film berubah. Fokusnya beralih dari pria yang pengecut menjadi wanita yang nggak mau menyerah. 

Menarik ya? Film jenis ini memang cukup langka, dan bila Sobat Yoursay kepo sama pandanganku terkait film ini, sini merapat dan simak bareng

Impresi Selepas Nonton Film Grand Tour 

Kalau kamu berharap alur cerita yang rapi, konflik yang jelas, dan ending yang memuaskan hati, mungkin film ini bukan untukmu. Namun, bagiku Film Grand Tour merupakan pengalaman nonton yang terasa seperti membaca jurnal perjalanan yang usang—penuh potongan gambar, suara, dan perasaan yang masih nanggung. 

Si sutradara kentara banget nggak berusaha ngasih penonton jawaban. Malah cenderung ngajak kita menyelam ke berbagai suasana dan peristiwa; dari bayangan pertunjukan wayang kulit yang magis, tur bus dengan karaoke “My Way”, kembang api yang pecah di langit, dan hutan-hutan Asia Tenggara yang terasa asing. Semua itu muncul seperti ingatan yang mampir sebentar lalu hilang, tapi membekas lama.

Terus dari susunan footage, yang berpindah dari berwarna ke hitam-putih, menambah kesan kalau kita kayak lagi melintasi dua zaman sekaligus, yakni masa lalu yang dikonstruksi, dan masa kini yang diam-diam menyelinap ke layar. 

Menariknya, sutradara pun nggak ngasih penjelasan mana yang nyata dan mana yang imaji. Nggak masalah sih, soalnya aku pribadi menyukai ketidakpastian itu. Rasanya seperti duduk di kursi penumpang kereta yang melaju pelan tanpa tahu ke mana arah tujuannya, tapi niatnya memang lagi nggak mau menentukan tujuannya ke mana. Hehehe

Suka deh, sama Goncalo Waddington yang memainkan karakternya yang canggung, lari dari tanggung jawab, tapi tetap memancing simpati. Sementara Crista Alfaiate mencuri perhatian berkat karakteristiknya yang kuat, lucu, dan penuh semangat. Aku juga mencatat kehadiran Lang Kyhe Tran sebagai Ngoc dan Claudio da Silva sebagai Timothy Sanders, yang meski tampil nggak banyak, tapi berhasil memperkaya atmosfer lintas budaya dalam film ini.

Pada akhirnya, film memang nggak harus menjawab pertanyaan. Kadang, film cukup mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang nggak perlu dijawab, dan membiarkan penonton menyusuri maknanya sendiri.

Skor: 4/5