Sebagai penganut aliran "ndelok kenyataan", saya sebenarnya pengagum rahasia cara Sal Priadi merangkai kata. Tapi kali ini, setelah potongan liriknya lewat di TikTok untuk yang keseratus kalinya, ada sesuatu yang mengganjal di hati saya.
Lirik yang bunyinya, "Kalau jelek kamu jelas ga boleh marah-marah," mendadak terasa seperti peraturan kos-kosan yang nggak bisa dinego. Dan sebagai orang yang sering mengalami hari-hari "jelek", saya merasa perlu angkat bicara: Sal, tolong, orang jelek (takdirnya) juga boleh marah, lho!
Awalnya, saya menganggap lirik ini sebagai puncak kepasrahan yang estetik. Ekspektasi saya, lagu ini bakal jadi lagu pengantar tidur yang menenangkan jiwa yang sedang gundah. Namun, semakin saya resapi, apalagi di tengah tumpukan naskah yang tak kunjung selesai dan ekspektasi hidup yang seringnya zonk—lirik ini justru terasa seperti pembungkaman emosi yang dibalut musik manis.
Isu yang diangkat memang soal etika berdoa, sebuah tema yang sangat relevan di tengah masyarakat kita yang sering "mendikte" Tuhan. Tapi, apakah pasrah berarti kita harus kehilangan hak untuk merasa kecewa, Sal?
Secara narasi lirik, Sal mencoba membangun kontrak antara manusia dengan Sang Pencipta. Bahwa kalau kita sudah meminta, ya harus terima apa pun hasilnya, jangan ngamukan. Konflik utamanya ada pada ego kita yang inginnya semua serba mulus.
Namun, di sinilah respons intelektual saya mulai bergejolak. Dalam psikologi, memendam kemarahan karena sesuatu yang tidak sesuai harapan (meski itu hasil doa) justru bisa jadi bom waktu. Saya merasa lirik ini terlalu "menuntut" kita untuk jadi suci seketika.
Secara personal, saya ingin mengajukan protes kecil. Sebagai manusia biasa yang bukan nabi, rasa marah saat mendapat hasil yang "jelek" adalah bentuk kejujuran emosional. Ketika rencana penelitian saya ditolak, atau ketika doa-doa saya tentang masa depan terasa dijawab dengan jalan memutar yang melelahkan, marah adalah reaksi pertama saya. Dan menurut saya, itu sah-sah saja.
Mengatakan bahwa kita "jelas nggak boleh marah-marah" seolah-olah menghapus sisi manusiawi kita yang terbatas ini. Sal, kita ini cuma manusia yang sering overthinking, bukan malaikat yang selalu bilang "amin" dengan senyum lebar.
Kelebihan lirik ini memang pada keberaniannya menyentil kesombongan kita saat berdoa. Gaya bahasanya yang santai bikin pesan yang sebenarnya berat jadi gampang nempel di kepala—bahkan jadi tren TikTok.
Tapi kekurangannya, bagi saya, lirik ini bisa jadi sangat toxic positivity kalau nggak dibaca hati-hati. Seolah-olah kita dilarang melakukan validasi atas rasa kecewa kita sendiri. Padahal, sering kali kita butuh marah dulu, nangis dulu, baru bisa sampai ke tahap "titik-titik" di ujung doa itu.
Iya, lagu ini tetap indah, aransemennya tetap juara, dan Sal Priadi tetaplah jenius. Namun, untuk urusan "nggak boleh marah", saya memilih untuk tidak setuju. Saya tetap akan mendengarkan lagu ini sambil sesekali menggerutu kalau takdir lagi nggak asyik. Karena menurut saya, Tuhan jauh lebih besar daripada sekadar rasa marah kita; Beliau pasti paham kalau hamba-Nya yang mungil ini sesekali perlu mengeluh.
Lagu ini cocok buat kamu yang sudah di tahap "pasrah tingkat tinggi". Tapi buat kamu yang masih berjuang di antara harapan dan kenyataan yang pahit, nggak apa-apa kok kalau mau marah-marah sebentar. Sal Priadi mungkin melarang, tapi kewarasanmu jauh lebih penting. Marah dulu, baru lanjut berdoa lagi. Itu baru namanya manusia, kan?
Identitas Karya
- Judul: Sal Priadi - Ada titik-titik di ujung doa (Official Music Video)
- Penyanyi: Sal Priadi
- Kanal Youtube: Sal Priadi
- Tahun Rilis: 2026
- Genre: Pop / Folk / Soul
- Durasi: 08.09
Baca Juga
-
Membongkar Borok Kerja Kelompok yang Cuma Bikin Jinak Si Pemalas
-
Gaya Bahasa Jakselan di Kampus yang Bikin Logika Bahasa Baku Jadi Korban
-
Kesenjangan Literasi AI yang Diam-diam Menciptakan Kasta Baru di Kampus
-
Singa di Media Sosial, Anak Kucing di Ruang Kuliah: Mengapa Kita Gagap Menulis Ilmiah?
-
Sisi Gelap Label Introvert yang Bikin Generasi Sekarang Makin Egois
Artikel Terkait
-
Kepala Pundak Kerja Lagi, Karya Sal Priadi Jadi OST Monster Pabrik Rambut
-
Overthinking di Era Informasi Digital: Semua Mendesak, Gamang Prioritas?
-
Setelah Menonton MV Sal Priadi, Saya Sadar Doa Tak Selamanya Soal Meminta
-
May Day Vibes: Kerja Jalan, Harga Naik, Pekerja Perempuan Makin Overthinking
-
Berhenti Menunggu Sempurna! Ini Alasan Mengapa 'Overthinking' Adalah Musuh Terbesar Karier Gen Z
Ulasan
-
Buku Sibling Rivalry, Mengurai Trauma Masa Kecil dan Persaingan Antarsaudara
-
Dear Muslim Child: Buku Inspiratif untuk Tumbuhkan Percaya Diri Anak Muslim
-
Mencicipi Nasi Telur Mang One Jambi: Telur Garing, Nasi Daun Jeruk, dan Sensasi Paru Mercon
-
Ulasan Novel Supernova Akar, Petualangan Bodhi Mencari Jati Diri
-
Review You and Everything Else: Saat Persahabatan Jadi Sumber Luka Dalam
Terkini
-
Yurizal, BPJS, dan Harga Sebuah Empati
-
War Tiket Upacara HUT RI di Istana: Menonton Pesta di Tengah Jeritan Rakyat
-
Krisis Empati Nakes pada Pasien BPJS: Akibat 'Burnout' atau Bobroknya Sistem Kesehatan?
-
Pindah Agensi Baru, The Boyz Siap Lanjutkan Aktivitas Grup dengan 9 Member
-
Bye Bekas Luka! 4 Brightening Body Lotion Ini Bikin Kulit Cerah dan Lembap