M. Reza Sulaiman | Miranda Nurislami Badarudin
Ilustrasi Orang Menuju Tujuannya (Pexels/Sharefaith)
Miranda Nurislami Badarudin

Ada satu pertanyaan yang diam-diam hidup di kepala banyak orang hari ini: apakah kita benar-benar sedang mengejar impian, atau sebenarnya hanya berusaha agar tidak tertinggal?

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi semakin relevan di tengah kehidupan modern yang bergerak sangat cepat. Hampir semua orang sedang sibuk menuju sesuatu. Ada yang mengejar karier, pendidikan, kestabilan finansial, pengakuan sosial, relasi ideal, atau sekadar hidup yang terasa “aman”. Timeline media sosial penuh dengan pencapaian. Umur tertentu dianggap harus sudah sukses. Produktivitas dipuja seperti ukuran nilai manusia. Akibatnya, hidup sering terasa seperti perlombaan panjang yang garis akhirnya bahkan tidak jelas.

Di tengah situasi seperti itu, manusia modern menghadapi dilema yang cukup rumit: apakah hidup ini tentang mencapai puncak, atau sekadar bertahan dari tekanan hidup sehari-hari?

Pertanyaan ini penting karena semakin banyak orang yang terlihat berhasil dari luar, tetapi diam-diam lelah secara mental. Mereka terus bergerak, tetapi tidak benar-benar tahu untuk apa. Mereka punya target, tetapi kehilangan rasa memiliki terhadap tujuan itu sendiri.

Ketika Hidup Berubah Menjadi Arena Kompetisi

Masyarakat modern dibangun di atas logika kompetisi. Sejak kecil, manusia diperkenalkan pada sistem perbandingan: nilai siapa paling tinggi, siapa paling cepat diterima kerja, siapa paling mapan di usia muda, siapa paling produktif, bahkan siapa paling bahagia secara visual di media sosial.

Sosiolog Jerman, Max Weber, pernah menjelaskan bagaimana modernitas melahirkan rasionalitas yang sangat kuat dalam kehidupan manusia. Hidup kemudian diukur melalui efisiensi, target, dan capaian yang konkret. Dalam dunia seperti ini, keberhasilan sering kali lebih dihargai daripada proses kemanusiaan itu sendiri.

Fenomena tersebut semakin terasa di era digital. Media sosial bukan hanya tempat berbagi pengalaman, tetapi juga ruang pertunjukan identitas. Orang tidak sekadar bekerja; mereka merasa perlu menunjukkan bahwa mereka bekerja keras. Tidak cukup sekadar bahagia; kebahagiaan harus terlihat. Akibatnya, banyak orang menjalani hidup dengan kesadaran bahwa mereka sedang terus dinilai.

Kondisi ini melahirkan budaya hustle culture—gagasan bahwa manusia ideal adalah manusia yang selalu sibuk, terus berkembang, dan tidak boleh berhenti. Istirahat sering dianggap kemalasan. Keraguan dianggap kelemahan. Bahkan rasa lelah pun kadang disembunyikan agar tidak terlihat kalah dari orang lain. Padahal manusia bukan mesin produksi.

Semakin tinggi tuntutan sosial terhadap kesuksesan, semakin besar pula kecemasan yang muncul ketika seseorang merasa hidupnya berjalan lebih lambat dibanding orang lain.

Ambisi yang Tidak Selalu Datang dari Diri Sendiri

Salah satu masalah terbesar manusia modern adalah sulit membedakan antara keinginan pribadi dan tekanan sosial.

Banyak orang mengejar sesuatu bukan karena benar-benar menginginkannya, tetapi karena takut dianggap gagal. Gelar pendidikan, pekerjaan tertentu, gaya hidup, bahkan keputusan menikah atau tidak menikah sering kali dipengaruhi ekspektasi sosial.

Filsuf Prancis, Jean-Paul Sartre, pernah mengatakan bahwa manusia sebenarnya bebas menentukan hidupnya sendiri. Namun kebebasan itu justru sering menimbulkan kecemasan karena manusia takut mengambil pilihan yang berbeda dari kebanyakan orang. Itulah sebabnya banyak orang akhirnya memilih jalan yang “aman” secara sosial meski tidak sepenuhnya sesuai dengan dirinya.

Di era sekarang, tekanan itu semakin kompleks karena internet membuat manusia terus-menerus melihat kehidupan orang lain. Dulu seseorang hanya membandingkan dirinya dengan lingkungan sekitar. Sekarang, ia membandingkan dirinya dengan ribuan orang sekaligus dalam satu hari.

Ketika melihat orang lain sukses di usia muda, muncul rasa tertinggal. Ketika melihat orang lain punya karier stabil, muncul rasa tidak cukup. Ketika melihat orang lain terlihat bahagia, muncul pertanyaan apakah hidup sendiri sedang berjalan dengan benar. Padahal media sosial sering hanya menampilkan versi terbaik kehidupan seseorang, bukan keseluruhan kenyataan. Namun otak manusia tetap mudah terjebak dalam ilusi perbandingan.

Bertahan Hidup Menjadi Prestasi Baru

Di tengah mahalnya biaya hidup, ketidakpastian ekonomi, persaingan kerja, dan tekanan sosial, banyak orang sebenarnya tidak sedang mengejar puncak. Mereka hanya berusaha bertahan.

Fenomena burnout meningkat di banyak negara. Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization bahkan mengakui burnout sebagai fenomena yang berkaitan dengan stres kronis di tempat kerja. Kelelahan hari ini bukan hanya kelelahan fisik, tetapi juga kelelahan eksistensial. Banyak orang lelah karena merasa harus selalu “jadi sesuatu”.

Mereka takut tertinggal jika berhenti sebentar. Takut gagal jika tidak produktif. Takut dianggap tidak ambisius jika memilih hidup yang lebih tenang. Ironisnya, masyarakat modern sering memuji ketahanan tanpa benar-benar peduli pada kesehatan mental manusia di baliknya. Orang yang terus bekerja meski kelelahan dianggap kuat. Orang yang memaksakan diri demi target dianggap inspiratif. Padahal belum tentu mereka baik-baik saja.

Dalam situasi seperti ini, bertahan hidup perlahan berubah menjadi pencapaian tersendiri. Bisa bangun pagi dan menjalani hari tanpa runtuh secara mental kadang sudah terasa sulit bagi sebagian orang. Sayangnya, perjuangan seperti itu jarang terlihat karena dunia lebih suka merayakan hasil besar dibanding proses bertahan yang sunyi.

Makna Kesuksesan yang Semakin Kabur

Masalah lain dalam kehidupan modern adalah definisi sukses yang semakin sempit. Kesuksesan sering direduksi menjadi angka: gaji, jabatan, aset, followers, atau pencapaian yang bisa dipamerkan. Padahal manusia punya kebutuhan yang lebih kompleks daripada sekadar pencapaian material.

Psikolog Abraham Maslow melalui teori hierarki kebutuhan menjelaskan bahwa manusia tidak hanya membutuhkan keamanan ekonomi, tetapi juga rasa memiliki, penghargaan, dan aktualisasi diri. Artinya, seseorang bisa saja terlihat sukses secara finansial tetapi tetap merasa kosong secara emosional. Inilah yang banyak terjadi hari ini.

Ada orang yang berhasil mencapai target hidupnya, tetapi kehilangan waktu bersama keluarga. Ada yang memiliki karier mapan, tetapi tidak lagi mengenali dirinya sendiri. Ada pula yang terus mengejar pencapaian baru karena tidak pernah merasa cukup.

Modernitas membuat manusia mudah percaya bahwa kebahagiaan berada di tujuan berikutnya. Setelah lulus akan bahagia. Setelah bekerja akan tenang. Setelah mapan akan lega. Setelah punya ini dan itu hidup akan selesai. Namun kenyataannya, manusia sering terus berlari tanpa pernah benar-benar merasa sampai. Karena ternyata masalah terbesar bukan sekadar belum mencapai tujuan, melainkan ketidakmampuan menikmati perjalanan hidup itu sendiri.

Belajar Berdamai dengan Ritme Hidup

Di tengah budaya serba cepat, memilih hidup dengan ritme sendiri kadang terasa seperti bentuk perlawanan.

Tidak semua orang harus menjadi luar biasa menurut standar masyarakat. Tidak semua hidup harus berjalan cepat. Tidak semua keberhasilan harus terlihat besar dari luar. Ada orang yang berhasil membangun bisnis besar. Ada yang berhasil menyelesaikan pendidikan. Ada pula yang keberhasilannya sederhana tetapi penting: mampu melewati masa sulit tanpa menyerah. Semua perjalanan hidup punya konteks yang berbeda.

Sayangnya, masyarakat modern sering lupa bahwa manusia tidak memulai hidup dari titik yang sama. Ada yang punya privilese lebih besar. Ada yang harus menghadapi tekanan ekonomi sejak awal. Ada yang harus bertahan di tengah masalah keluarga, kesehatan mental, atau lingkungan yang tidak mendukung. Karena itu, membandingkan perjalanan hidup secara mentah sering kali tidak adil.

Filsuf Korea Selatan, Byung-Chul Han, menyebut masyarakat modern sebagai “achievement society”, yaitu masyarakat yang terus menuntut manusia menjadi versi terbaik dirinya tanpa henti. Dalam sistem seperti ini, manusia bukan lagi ditindas oleh orang lain, tetapi oleh tuntutan terhadap dirinya sendiri.

Kita dipaksa percaya bahwa selalu ada versi diri yang harus ditingkatkan. Akibatnya, istirahat terasa bersalah. Diam terasa gagal. Hidup sederhana terasa kurang ambisius. Padahal mungkin manusia sesekali memang perlu berhenti, bukan untuk menyerah, tetapi untuk memastikan bahwa arah hidup yang ditempuh benar-benar berasal dari dirinya sendiri.

Barangkali Hidup Tidak Selalu Tentang Menjadi yang Paling Tinggi

Pada akhirnya, tidak semua orang harus mencapai puncak yang sama.

Ada yang menemukan makna hidup melalui karier besar. Ada yang menemukannya dalam keluarga, karya kecil, hubungan yang sehat, atau hidup yang tenang. Masalahnya, dunia modern sering terlalu sibuk menentukan definisi sukses versi umum sampai lupa bahwa manusia punya kebutuhan dan makna hidup yang berbeda-beda.

Mungkin pertanyaan terpenting bukan lagi “sudah sejauh apa kita melangkah?”, tetapi “apakah hidup yang kita jalani benar-benar milik kita sendiri?”

Karena jika seluruh hidup hanya dihabiskan untuk memenuhi ekspektasi luar, manusia bisa saja tampak berhasil di mata dunia, tetapi diam-diam kehilangan dirinya sendiri. Dan di tengah dunia yang terus menyuruh manusia berlari, barangkali kemampuan untuk berhenti sejenak, bernapas, lalu bertanya ulang tentang arah hidup—justru menjadi bentuk keberanian yang paling langka hari ini.