"Fear Street: Prom Queen" adalah entri terbaru dalam semesta Fear Street, adaptasi dari novel-novel horor karya R.L. Stine. Kali ini, film ini berdiri sendiri, mengambil latar tahun 1988 di kota kecil Shadyside yang dikenal penuh tragedi dan kutukan. Premisnya sederhana namun sangat menjanjikan, seorang pembunuh mengincar lima kandidat ratu prom, satu per satu.
Cerita berfokus pada Lori Granger, seorang siswi yang tertutup, hidup dalam bayang-bayang masa lalu keluarganya yang tragis. Ibunya dituduh membunuh ayahnya bertahun-tahun lalu, dan reputasi itu terus membayangi Lori. Ia mencalonkan diri sebagai ratu prom, bukan hanya untuk mendapatkan pengakuan, tapi juga untuk menghapus stigma keluarganya.
Lori bukan satu-satunya yang ingin mahkota itu. Ada Tiffany Falconer, si ratu lebah sekolah yang populer dan ambisius, serta sahabatnya, geng “Wolfpack”. Tiffany adalah karikatur dari tokoh antagonis remaja yang kejam, licik, dan menyimpan rahasia.
Persaingan semakin memanas ketika kandidat ratu prom mulai terbunuh satu per satu. Pembunuh bertopeng dengan jas hujan kuning (rain slicker) meneror sekolah dan membuat ketegangan meningkat. Identitas dan motif pembunuh tetap menjadi misteri, mendorong penonton untuk terus menebak.
Film ini mengambil banyak inspirasi dari film slasher klasik seperti Prom Night, Scream, dan I Know What You Did Last Summer. Formatnya sangat familiar, sekelompok remaja, suasana pesta, dan pembunuh brutal yang muncul di saat-saat tak terduga.
Salah satu kekuatan utama film ini adalah atmosfer 1980-an yang sangat terasa. Mulai dari busana, musik, hingga warna-warna neon pada pesta prom, semuanya terasa autentik dan menyenangkan. Soundtrack-nya diisi oleh lagu-lagu ikonik seperti Eurythmics, Billy Idol, dan The Bangles.
Dari sisi sinematografi, film ini cukup kuat. Pencahayaan malam, efek darah praktikal, dan desain produksi yang konsisten memperkuat nuansa retro slasher yang diinginkan. Adegan-adegan pembunuhan disajikan dengan cukup kreatif dan berdarah-darah, membuat penggemar genre puas.
Namun, naskah film terasa kurang menggigit. Dialog antar karakter cenderung klise dan terlalu ringan, tanpa eksplorasi emosional yang mendalam. Lori sebagai protagonis kurang memiliki kedalaman psikologis yang bisa membuat penonton benar-benar peduli padanya.
Karakter Tiffany, meski tampil menarik secara visual dan karismatik, juga terlalu satu dimensi. Ia hanya ditampilkan sebagai antagonis remaja biasa tanpa latar belakang kuat yang menjelaskan mengapa ia bertindak kejam.
Tokoh-tokoh pendukung seperti Megan, teman setia Lori seharusnya bisa menjadi jembatan emosional yang penting. Sayangnya, film tidak mengeksplorasi lebih jauh hubungan mereka, meski ada dinamika queer-coded yang bisa memberi nuansa unik.
Plot misterinya juga berjalan datar. Twist yang dihadirkan menjelang akhir terasa dipaksakan dan kurang mengena. Penonton yang sudah akrab dengan film slasher mungkin bisa menebak siapa pembunuhnya dari pertengahan film.
Kendati begitu, film ini masih menawarkan hiburan yang cukup seru. Bagi penggemar slasher yang mencari gore dan ketegangan ringan, "Prom Queen" menyajikan formula klasik dengan kemasan yang menghibur.
Secara keseluruhan, "Fear Street: Prom Queen" adalah film slasher dengan eksekusi visual menarik, tetapi kurang berani dalam membangun cerita. Ia menghibur, namun tidak menantang. Film ini cocok bagi mereka yang merindukan nuansa 80-an, suka dengan trope kompetisi remaja, dan tidak terlalu peduli dengan logika cerita. Tapi bagi penonton yang mencari horor dengan kedalaman dan narasi kuat, film ini mungkin akan mengecewakan.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
-
Novel The Lost Apothecary, Misteri Toko Obat Tersembunyi di London
-
Novel Saman: Pendobrakan Tabu Sosial di Tengah Politik Indonesia
-
Membedah Sisi Gelap Keadilan Manusia di Ulasan Novel The Hellbound
-
Novel Pukul Setengah Lima, Mencari Pintu Keluar dari Realitas Kehidupan
-
Ulasan Buku Empowered Me, Menjadi Ibu Berdaya Tanpa Kehilangan Identitas
Artikel Terkait
-
Review Film Junk Head: Memukaunya Petualangan Stop-Motion di Dunia Distopia
-
Seni Memimpin dengan Empati dalam Film Portrait of a Prime Minister
-
Mirip seperti Main Lego, Ryan Adriandhy Ceritakan Proses Kreatif Pembuatan Film Jumbo
-
Film Aksi Malaysia Blood Brothers: Ini 10 Fakta Menarik yang Wajib Kamu Tahu!
-
Monty Tiwa Hadirkan Komedi Super Absurd yang Bikin Ngakak Maksimal Lewat Film GJLS: Ibuku Ibu-Ibu
Ulasan
-
Narasi Perihal Ayah, Menyusuri Duka Kehilangan dari Sudut Pandang Anak
-
Bedah Makna Lagu Bernadya "Kita Buat Menyenangkan": Seni Memaafkan Hal Kecil
-
Review Buku 'Tahun Penuh Gulma': Suara Masyarakat Adat Melawan Rakusnya Korporasi
-
Meninggalkan Dunia Nyaman Demi Kebebasan Sejati: Menyelami Kisah 'Into The Wild'
-
Film Kuyank: Prekuel Saranjana yang Penuh Misteri Gelap!
Terkini
-
Rilis Foto Profil Baru, AKMU Dirikan Agensi Sendiri Usai Tinggalkan YG
-
Merosotnya Moral Remaja: Benarkah Korban Zaman atau Bukti Kelalaian Kita?
-
Manga Bungo Stray Dogs Umumkan Akhiri Cerita Bagian Pertama di Chapter 130
-
Ramadhan Sananta Bidik Jalan Pulang ke Liga 1, Persebaya Surabaya Siap Menampung?
-
Trend 2026 is the New 2016 Viral di TikTok, Gen Z Nostalgia Era Jadul