"Death in the Cards" adalah debut novel Young Adult dari penulis pemenang penghargaan, Mia P. Manansala. Cerita mengikuti Danika Dizon, siswi SMA berusia 17 tahun yang memiliki bakat unik yaitu dapat membacakan tarot bagi teman-temannya sebagai usaha sampingan.
Selain itu, Danika juga tinggal dengan orang tuanya, ibunya seorang private investigator (PI), dan ayahnya seorang penulis cerita misteri yang menjadi inspirasi terbesar untuk karier masa depannya.
Saat salah satu kliennya, Eli Delgado, mendapatkan kartu Death dalam sesi tarot, ia tiba-tiba menghilang. Keluarganya yang kaya-raya enggan melapor ke polisi. Maka Gaby, adik Eli, meminta bantuan dari ibu Danika. Merasa ini peluang besar untuk membuktikan kemampuannya, Danika pun melibatkan diri dalam kasus ini, menerapkan kombinasi kecerdasan tajam dan kemampuan membaca aura manusia yang ia pelajari sejak kecil.
Alur novel dibangun dengan dua lini utama, pembentukan karakter Danika dan perkembangan misteri hilangnya Eli. Di satu sisi, Manansala sukses membangun ketegangan dengan bab pendek yang memancing rasa ingin tahu akan perkembangan kasus. Taransisi dengan efeek cliffhanger ini memudahkan pembaca untuk terus membalik halaman.
Dari segi misteri, pembaca diajak mengikuti detail kecil seperti, rekaman CCTV, narasumber palsu, atau petunjuk simbolis dari kartu tarot yang menarik. Sementara itu, Danika bersinggungan dengan sisi gelap kehidupan Eli, membuka arah yang lebih gelap dan dramatis dari sekadar “klien yang hilang”.
Danika adalah tokoh protagonis yang kuat, cerdas, penuh empati, dan ambisius. Kombinasi khas PI dan kepekaan spiritual lewat tarot membuatnya unik. Penulis berhasil menghadirkan karakter “Veronica Mars versi remaja Filipina” dengan konflik internal yang manusiawi, ia ingin diakui, menyeimbangkan rasa tanggung jawab keluarga dan kecemasan remaja.
Sementara Gaby Delgado, adik korban, memberikan warna emosional sekaligus romansa ringan yang tak berlebihan. Interaksi mereka tidak hanya membantu memecahkan misteri, tetapi juga membangun rasa saling percaya dan rasa persahabatan yang tulus.
Karakter pendukung seperti keluarga Danika, rekan di sekolah, hingga figur Eli turut memberi kedalaman hidup sehari-hari Danika. Novel ini tidak sekadar tentang misteri, tapi juga membahas isu identitas, mental health, dan dinamika keluarga Filipina-Amerika.
Salah satu aspek yang membuat novel ini menonjol adalah penggunaan tarot secara signifikan. Setiap pembacaan tidak hanya memberi petunjuk plot, tetapi juga mengungkap karakter dan motif. Manansala bahkan menggunakan kartu yang benar saat menulis, menjadikannya bagian organik dari narasi dan bukan sekadar gimmick.
Nah, novel ini juga menonjol dari representation, Danika adalah remaja queer Filipina-Amerika, tumbuh di Chicago. Budaya Filipina yang kental muncul lewat makanan, bahasa, dan tradisi keluarga, hal ini membuat menyegarkan narasi dengan sudut pandang minoritas budaya Asia.
Kelebihan dari novel ini adalah karakter protagonis yang otentik dan kompleks, Danika sebagai seseorang yang cerdas, lelah oleh ekspektasi, tetapi kuat dan penuh rasa ingin tahu. Narasi novel ini juga cepat dan mengalir, bab pendek penuh suspense dan dialog snappy membuat pembaca sulit berhenti untuk membaca. Integrasi tarot mengesankan, elemen supernatural ini menyatu dengan plot investigasi dan karakter development.
Tetapi novel ini juga tak luput dari kekurangan, konflik tengah cerita sempat melambat, dengan subplot yang terasa kurang fokus sebelum climax tiba. Ada pula twist akhir kurang kuat atau mudah ditebak, meski masih memuaskan secara emosional. Namun, kehadiran keluarga, budaya, dan idntitas personal Danika mampu menutupi kelemahan plot tersebut.
Secara keseluruhan, "Death in the Cards" adalah debut young adult yang menjanjikan, novel ini perpaduan antara mystery, tarot magic, budaya AAPI, dan kisah remaja queer yang dihidupkan melalui karakter utama yang relatable dan kisah keluarga yang hangat. Elemen tarot dan investigasi menambah rasa segar pada genre teen-sleuth, sementara representasi beragam menambah kedalaman cerita.
Bagi penggemar seperti Veronica Mars, Nancy Drew, atau young adult misteri remaja dengan twist budaya dan spiritual, novel ini sangat direkomendasikan. Bahkan dengan beberapa pacing turun, kecepatan narasi, karakter yang kuat, dan nuansa personal membuatnya tetap sebagai bacaan menarik dan inspiratif.
Identitas Buku
Judul: Death in the Cards
Penulis: Mia P. Manansala
Penerbit: Delacorte Press
Tanggal Terbit: 13 Mei 2025
Tebal: 336 Halaman
Baca Juga
-
Novel The Lost Apothecary, Misteri Toko Obat Tersembunyi di London
-
Novel Saman: Pendobrakan Tabu Sosial di Tengah Politik Indonesia
-
Membedah Sisi Gelap Keadilan Manusia di Ulasan Novel The Hellbound
-
Novel Pukul Setengah Lima, Mencari Pintu Keluar dari Realitas Kehidupan
-
Ulasan Buku Empowered Me, Menjadi Ibu Berdaya Tanpa Kehilangan Identitas
Artikel Terkait
Ulasan
-
Kejujuran yang Diadili: Membaca Absurditas dalam 'Orang Asing' karya Albert Camus
-
Review Never Back Down (2008): Film dengan Latar Belakang Seni Bela Diri Campuran!
-
Kejamnya Label Sosial Tanpa Pandang Umur di Novel 'Dia yang Haram'
-
Tanah Gersang: Kritik Tajam Mochtar Lubis Tentang Moral di Ibukota
-
Drama China You Are My Hero: Ketika Medis dan Militer Bertemu
Terkini
-
Sinopsis Daldal, Series India Terbaru Bhumi Pednekar di Prime Video
-
Casual Goals! 4 Ide Outfit Harian ala Baila No Na yang Mudah Ditiru
-
Topeng Arsenik di Pendapa Jenggala
-
Dihubungi John Herdman, Peluang Tampil Sandy Walsh di Timnas Kian Besar?
-
Veda Ega Pratama Debut Moto3: Seberapa Besar Peluangnya Melaju di MotoGP?