Hayuning Ratri Hapsari | aisyah khurin
Novel Can't I Go Instead (goodreads.com)
aisyah khurin

Novel "Can't I Go Instead" karya penulis legendaris Korea Selatan, Lee Geum-yi, adalah sebuah mahakarya fiksi sejarah yang menyayat hati sekaligus menggugah jiwa. Dengan latar belakang masa penjajahan Jepang di Korea (1910–1945), novel ini membentangkan narasi yang luas, melintasi batas negara dari semenanjung Korea hingga ke Rusia, Amerika Serikat, dan Tiongkok.

Melalui jalinan nasib dua perempuan muda dengan latar belakang kelas sosial yang bertolak belakang, Lee Geum-yi berhasil memotret tragedi kemanusiaan, identitas yang terenggut, dan pencarian kemerdekaan yang hakiki.

Pusat gravitasi dari novel ini terletak pada hubungan antara Chaeryeong, seorang putri bangsawan yang hidup dalam kemewahan namun terisolasi, dan Sun-nam, pelayan setianya yang cerdas namun terbelenggu oleh kemiskinan. Judul "Can't I Go Instead" menjadi pertanyaan sentral yang menggerakkan plot. Ketika Chaeryeong terancam dikirim ke Jepang atau wilayah konflik sebagai bagian dari kebijakan kolonial, sebuah keputusan drastis diambil yang mengubah identitas mereka selamanya.

Lee Geum-yi dengan sangat apik menggambarkan bagaimana identitas bukan sekadar nama, melainkan hak istimewa yang bisa dicuri atau diberikan. Sun-nam, yang sepanjang hidupnya hanya mengenal pengabdian, tiba-tiba harus memikul beban identitas majikannya. Pertukaran ini bukan sekadar alat plot picisan, melainkan sebuah metafora tajam tentang bagaimana perang dan penjajahan menghancurkan struktur sosial dan memaksa individu untuk melepaskan diri mereka yang lama demi bertahan hidup.

Salah satu kekuatan utama novel ini adalah riset sejarahnya yang sangat mendalam. Penulis tidak hanya fokus pada penderitaan di tanah Korea, tetapi juga membawa pembaca melihat nasib diaspora Korea di berbagai belahan dunia. Kita diajak menelusuri dinginnya Siberia, kerasnya kehidupan imigran di Amerika, hingga horor yang terjadi di kamp-kamp militer Jepang.

Novel ini memberikan suara kepada mereka yang terpinggirkan oleh sejarah arus utama. Lee Geum-yi memberikan penghormatan kepada para "Comfort Women" (perempuan penghibur) tanpa terjebak dalam eksploitasi penderitaan mereka secara vulgar. Sebaliknya, ia fokus pada martabat manusia yang mencoba tetap tegak di tengah kehinaan yang dipaksakan. Penggambaran era ini sangat atmosferik; pembaca bisa merasakan debu jalanan, dinginnya salju, dan rasa lapar yang menghimpit, membuat narasi ini terasa sangat nyata dan mendesak.

Melalui karakter Sun-nam, novel ini menggugat ketidakadilan kelas yang sudah berurat akar. Sun-nam adalah representasi dari potensi yang terbuang akibat kemiskinan. Meskipun ia memiliki kecerdasan yang melampaui kaum bangsawan, posisinya sebagai pelayan menutup semua pintu kesempatan. Namun, di tengah kekacauan perang, garis kelas tersebut menjadi kabur.

Pendidikan muncul sebagai tema krusial. Bagi Chaeryeong, pendidikan adalah hiasan status, namun bagi Sun-nam, pendidikan adalah senjata untuk merdeka secara pemikiran. Transformasi Sun-nam dari seorang pelayan yang patuh menjadi perempuan yang memiliki kehendak bebas atas hidupnya sendiri adalah busur karakter yang paling memuaskan dalam buku ini. Lee Geum-yi menunjukkan bahwa kemerdekaan sebuah bangsa dimulai dari kemerdekaan individu terutama perempuan, untuk menentukan nasibnya sendiri.

Konsep "pulang" dalam novel ini bersifat sangat kompleks. Bagi para tokoh yang terlempar jauh dari kampung halaman karena pergolakan politik, rumah bukan lagi sekadar koordinat geografis. Korea yang mereka tinggalkan telah berubah, dan mereka sendiri telah menjadi orang asing bagi tanah air mereka.

Perasaan keterasingan ini digambarkan dengan sangat melankolis. Ada kerinduan yang mendalam akan masa lalu yang lebih sederhana, namun ada juga kesadaran pahit bahwa masa lalu tersebut telah hancur selamanya. Perjalanan fisik yang ditempuh oleh Chaeryeong dan Sun-nam mencerminkan perjalanan batin mereka dalam mendefinisikan apa itu keluarga dan di mana mereka benar-benar diterima. Persahabatan yang rumit di antara keduanya menjadi jangkar emosional yang menyatukan potongan-potongan sejarah yang berserakan.

Lee Geum-yi menggunakan prosa yang elegan namun lugas. Ia tidak berusaha memanipulasi emosi pembaca dengan dramatisasi yang berlebihan, karena fakta sejarah yang ia sajikan sudah cukup kuat untuk menggetarkan hati. Narasi berpindah antar-karakter dan lokasi dengan mulus, menjaga ritme cerita tetap dinamis meskipun cakupan waktunya sangat panjang.

Kemampuan penulis dalam membangun empati sangat luar biasa. Pembaca tidak hanya bersimpati pada penderitaan tokoh protagonis, tetapi juga diajak memahami kerumitan tokoh-tokoh pendukung yang seringkali dipaksa melakukan hal buruk demi bertahan hidup. Tidak ada karakter yang benar-benar hitam atau putih, semua adalah warna abu-abu yang terjepit dalam roda gigi sejarah yang kejam.

"Can't I Go Instead" bukan sekadar buku tentang masa lalu Korea. Ini adalah cerita universal tentang ketabahan manusia menghadapi penindasan. Novel ini mengingatkan kita bahwa di balik angka-angka statistik korban perang, ada nama-nama, wajah-wajah, dan mimpi-mimpi yang hancur.

Membaca novel ini adalah sebuah pengalaman yang menguras emosi namun sangat berharga. Kita belajar tentang harga sebuah identitas dan pentingnya mengingat sejarah agar luka yang sama tidak terulang kembali. Karya Lee Geum-yi ini layak disejajarkan dengan karya besar lainnya seperti Pachinko milik Min Jin Lee dalam hal kedalaman narasi sejarah dan kekuatan karakter perempuannya.

Identitas Buku

Judul: Can't I Go Instead

Penulis: Lee Geum-yi

Penerbit: Forge Books

Tanggal Terbit: 2 Mei 2023

Tebal: 384 Halaman