Saya masih ingat betul ketika Squid Game pertama kali muncul tahun 2021. Series asal Korea Selatan ini langsung mencuri perhatian dunia karena keberhasilannya menggabungkan permainan masa kecil dengan realitas sosial yang getir.
Kini, memasuki musim ketiga, saya kembali duduk di depan layar dan bertanya-tanya, apa lagi yang bisa ditawarkan dari sebuah permainan hidup dan mati yang sudah begitu ikonik? Ternyata, cukup banyak. Tapi tidak semuanya berjalan mulus.
Squid Game 3 dibuka tepat setelah kekacauan besar di akhir musim sebelumnya. Gi-hun (Lee Jung-jae) kini bukan lagi pria penuh semangat yang ingin menggulingkan sistem dari dalam.
Setelah kehilangan sahabatnya, Jung-bae, Gi-hun berubah menjadi sosok yang suram, tenggelam dalam rasa bersalah, dan penuh amarah. Perjalanan emosionalnya kali ini jauh lebih dalam dan personal.
Cerita semakin rumit ketika Dae-ho (Kang Ha-neul), sosok yang sebelumnya tampak dapat diandalkan, justru mundur di saat genting. Keputusannya untuk tidak ikut melawan secara tidak langsung menyebabkan jatuhnya banyak korban.
Konflik antara Gi-hun dan Dae-ho menjadi salah satu bagian yang paling menegangkan dalam musim ini. Ini bukan lagi soal melawan sistem, tapi tentang rasa kecewa pada sesama manusia.
Seperti dua musim sebelumnya, permainan baru kembali diperkenalkan. Namun kali ini, salah satu yang paling mencolok adalah versi ekstrem dari permainan petak umpet, peserta dibagi menjadi dua tim dan dipaksa saling memburu dengan senjata tajam. Tidak lagi sekadar metafora, permainan ini benar-benar memaksa para pemain untuk membunuh secara langsung.
Review Squid Game 3
Bagi saya pribadi, ini adalah titik di mana Squid Game mulai menyentuh lapisan paling dalam, yakni bahwa dalam sistem yang kejam, kita bisa kehilangan arah moral. Kita bisa jadi penonton yang bertanya, “Kalau saya di posisi mereka, apa yang akan saya lakukan?”
Satu hal yang patut diapresiasi adalah keberanian sutradara Hwang Dong-hyuk untuk tidak menjadikan Gi-hun sebagai sosok pahlawan sempurna. Justru sebaliknya, karakter ini ditampilkan rapuh, penuh keraguan, dan kadang membuat keputusan yang menyakitkan. Hal ini membuatnya terasa lebih nyata dan lebih manusiawi.
Namun, tidak semua elemen dalam musim ini terasa solid. Misalnya, kehadiran para VIP, penonton kaya raya yang menjadi bagian dari sistem permainan, justru menjadi titik lemah. Porsi mereka yang semakin besar tidak dibarengi dengan pendalaman karakter. Dialog mereka terdengar aneh dan bahkan terlalu teatrikal, tidak sejalan dengan tone cerita yang seharusnya serius.
Dan kemudian muncul suatu twist, salah satu pemain yakni pemain 222 melahirkan bayi di tengah permainan, dan bayi tersebut dijadikan peserta baru. Awalnya terasa aneh, namun secara simbolis, adegan ini menyampaikan pesan yang sangat kuat, bahwa bayi pun bisa menjadi korban sistem yang tidak manusiawi.
Pertarungan akhir antara Gi-hun dan Myung-gi (Yim Si-wan) menjadi penutup yang sangat mengesankan. Sinematografinya indah, dan intensitas emosinya terasa nyata.
Namun jangan berharap ending yang bahagia, karena Squid Game tidak memberi penonton kenyamanan berupa kemenangan. Justru sebaliknya, kita diingatkan bahwa dalam sistem yang rusak, kemenangan pun bisa terasa hampa.
Saya menyukai keputusan Hwang Dong-hyuk untuk tidak menutup cerita dengan bahagia. Ini membuat series ini tetap konsisten dengan pesan utamanya sejak awal, yakni bahwa dunia yang kita huni tak selalu memberi ruang untuk keadilan. Dan kadang, yang bertahan hidup bukanlah mereka yang paling baik, tapi mereka yang paling beruntung.
Squid Game 3 memang tidak sempurna. Ada bagian yang terasa berlebihan, ada pula yang terasa tidak digarap dengan maksimal. Namun di balik semua itu, series ini tetap kuat sebagai sebuah cermin sosial. Ia berbicara tentang trauma, kekuasaan, ketimpangan, dan pilihan-pilihan sulit yang harus diambil ketika hidup menggiring kita ke sudut.
Bagi saya, Squid Game bukan sekadar hiburan. Ini adalah pengingat bahwa dunia sering kali tak adil. Bahwa kita semua, dalam bentuk dan cara yang berbeda, sedang memainkan permainan yang kadang tak bisa kita menangkan.
Kalau kamu suka tontonan yang bisa bikin merenung, musim ketiga ini masih sangat layak untuk ditonton. Tapi jangan berharap ada jawaban yang memuaskan. Karena mungkin, memang itulah kenyataannya.
Baca Juga
-
Belajar Mengambil Keputusan Lewat The Decision Book Karya Mikael Krogerus
-
Efek Domino Kenaikan BBM: Dari Ongkos Transportasi hingga Harga Sembako
-
Polemik Modifikasi Kurikulum, Kenapa Lulusan Masih Sulit Siap Kerja?
-
Durasi Musik Modern Semakin Pendek, Apakah Kreativitas Ikut Berubah?
-
Efisiensi Anggaran tapi Gaji Tetap: Apakah Masyarakat Merasakan Manfaatnya?
Artikel Terkait
-
Squid Game Akhirnya Tamat, Karakter Ini Dinobatkan Paling Tak Berguna
-
5 Fakta Cameo Cate Blanchett di Squid Game 3, Jadi Sinyal Versi Amerika?
-
Review Jujur Squid Game 3 dari Penonton: Hype Tinggi tapi Bikin Kecewa Berat
-
Selain Squid Game 3, Ini 8 Series dan Film Paling Ditunggu di Netflix Juli 2025
-
Capai Musim Final, Sutradara Minta Penonton Jangan Spoiler Squid Game 3
Ulasan
-
Membaca Doorstoot naar Djokja: Menyelami Hari-Hari Paling Genting Indonesia
-
Harimau Galak Pensiun Jadi Penjual Kue? Intip Menggemaskannya 'Mr. Tigers Snacks'
-
Review Film 'Obsession': Terlalu Cinta Berubah Malapetaka
-
Hansel and Gretel: Dongeng Klasik yang Berubah Jadi Aksi Berdarah
-
Review Husbands in Action: Detektif dan Dokter Hewan Lawan Sindikat Jahat!
Terkini
-
Afrika Selatan Gagal, Kanada Lolos 16 Besar Siap Lawan Belanda atau Maroko?
-
Piala Dunia 2026 dan Seni Melupakan Masalah Selama 90 Menit
-
Debut Sensasional, Cape Verde Jadi Tim Anomali di Ajang Piala Dunia 2026
-
Syarat Berpenampilan Menarik di Lowongan Kerja, Bentuk Beauty Privilege?
-
AI Sudah Jadi Teman Curhat, Apa yang Dicari Gen Z dari Hubungan Digital?