Kalau ada satu sutradara yang bisa menyulap kekacauan sosial jadi tontonan sureal nan memecah opini, Ari Aster-lah orangnya.
Setelah membuat diriku meringis ngeri dalam Film Hereditary, bingung pas nonton Film Beau is Afraid, dan syok gila selepas Film Midsommar, Sutradara Sri Aster kini kembali dengan Film Eddington.
Perdana tayang di Festival Film Cannes pada 16 Mei 2025, yang kemudian rilis 18 Juli 2025, dan akan menyusul penayangan lebih luas lagi. Ini merupakan film nyeleneh, satir, dan tentunya (mungkin) secara sengaja membuat film ini jadi membingungkan.
Yap, film ini nggak sebatas akan membuatmu tertawa kecut, tapi juga mengajakmu melihat ulang tahun 2020. Yang mana, itu tahun penuh masker dan teori konspirasi.
Jangan ke mana-mana, yuk, kita bahas tuntas!
Sinopsis Film Eddington
Berlatar di kota kecil fiktif bernama Eddington, New Mexico dengan populasi 2.634 jiwa, film ini mengikuti kisah Joe Cross (Joaquin Phoenix), sheriff tua. Dia tuh sebenarnya lelah hidup, tapi mendadak punya misi baru saat pandemi COVID-19 menerpa. Apa misinya? Menolak masker!
Ya, kedengarannya gila, tapi di sinilah, kisah Film Eddington mengadu absurditas dunia nyata dengan dramatisasi sinematik.
Misalnya, ketika ada warga ditolak masuk supermarket karena nggak pakai masker, Joe melangkah maju membelanya. Bukannya meredakan situasi, tindakannya justru menyalakan api konflik yang cepat membesar menjadi kampanye politik anti-masker. Dan dari sinilah segalanya jadi kacau balau.
Joe, mulai menyematkan teori konspirasi di mobil dinasnya dan menjadikannya billboard berjalan berisi omong kosong. Sementara itu, istrinya Louise (Emma Stone), dan sang ibu mertua Dawn (Deirdre O’Connell) makin tenggelam dalam paranoia. Dawn bahkan mencetak teori konspirasi dan menyebarkannya di rumah.
Dan muncul juga Vernon Jefferson (Austin Butler), influencer menyesatkan yang pandai menyihir orang dengan jargon kosong kayak tong kosong nyaring bunyinya.
Hal gila apa lagi yang terjadi dalam film ini? Sobat Yoursay wajib nonton sendiri!
Review Film Eddington
Bagiku, Ari Aster jelas nggak main-main dalam menggambarkan kekacauan sosial. Dia mengambil semua elemen panas dari tahun 2020, mulai dari teori konspirasi, protes Black Lives Matter, tokoh viral, polarisasi politik, dan mencampurnya jadi mmenggelikan sekaligus menakutkan.
Meski film ini menyelami banyak genre dan tema, Ari Aster selalu menariknya kembali ke akar yang berdarah.
Ketegangan yang ditanamkan nggak cuma muncul lewat dialog pedas atau teori konspirasi konyol, tapi juga lewat sinematografi cantik arahan Darius Khondji, yang memadukan keindahan dan absurditas.
Kendatipun film ini punya durasi sepanjang 145 menit, film ini terasa tetap padat dan hidup, bergerak dari satu ledakan konflik ke konflik lain tanpa kehilangan ritmenya.
Oh, iya, saat film menyentuh isu ras dan protes George Floyd, nada film yang sebelumnya terasa satir mulai kayak eksploitasi. Representasi karakter non-kulit putih, terutama saat kekerasan meningkat, terasa problematik. Di titik ini, Eddington jadi film yang mungkin kurang nyaman ditonton.
Dan mungkin, itulah niat sebenarnya. Ari Aster seperti memang ingin penonton (termasuk diriku) merasa nggak nyaman.
Joaquin Phoenix, aku suka banget dengan pendalaman karakternya. Eits, ada Pedro Pascal lho sebagai Ted Garcia, walikota sekaligus musuh lama, yang tampil mengesankan, dengan sejarah kelam dan hubungan rumit dengan sosok Louise yang memperkeruh konflik. Emma Stone juga nggak kalah kuat, memperlihatkan transisi dari skeptis jadi pengikut teori konspirasi yang menyedihkan.
Buat bintang lainnya, terbilang cukup aman dalam perannya masing-masing.
Akhir kata, film ini seperti kembang api yang dilempar ke pom bensin. Yup, sengaja dibuat untuk meledak. Dan entah kamu akan tertawa, marah, atau keduanya, bagiku film ini berhasil memaksa penonton buat bereaksi (baik negatif maupun positif. Selamat nonton, ya.
Skor: 3,9/5
Baca Juga
-
Menelisik Satir Horor yang Unik meski Nggak Sempurna dalam Film Setan Alas!
-
Empat Nasi Box Menjelang Puasa
-
Keseruan Film Hoppers yang Bereksperimen Melalui Cerita dan Perpaduan Genre
-
Mendalami Sensualitas dan Cinta Paling Liar dalam Film Wuthering Heights
-
Review Film Goodbye June: Debut Penyutradaraan Kate Winslet yang Hambar?
Artikel Terkait
-
Sinopsis I Know What You Did Last Summer, Kasus Pembunuh Berantai Fisherman
-
Sisi Lain Kehidupan Panglima TNI Agus Subiyanto Diangkat ke Film
-
Lagi Tayang di Bioskop, Film Smurfs Hadirkan Rihanna dan James Corden
-
Sinopsis Nikita Roy, Film Horor Terbaru Sonakshi Sinha dan Paresh Rawal
-
Lewat Film 'Bertaut Rindu', Ari Irham dan Adhisty Zara Ajak Orang Tua dan Anak Saling Terbuka
Ulasan
-
Novel Perempuan Bersampur Merah: Kisah Nyata Dukun Suwuk yang Difitnah
-
"Hidup Hanya Menunda Kekalahan": Jejak Filosofis Chairil Anwar dalam Aransemen Musik Banda Neira
-
Menelisik Satir Horor yang Unik meski Nggak Sempurna dalam Film Setan Alas!
-
Politik Pembangunan dan Marginalisasi Warga Pesisir dalam Si Anak Badai
-
Teka-teki Rumah Aneh: Misteri Kamar Tanpa Jendela dan Pergelangan Tangan yang Hilang
Terkini
-
Film Anime Demon Slayer: Infinity Castle Part 1 Menang Saturn Awards 2026
-
Idulfitri Jalur Zen: Strategi Ibu-Ibu Hadapi Pertanyaan "Mana Calon Menantunya?".
-
Bukan Sekadar Ruam Merah: Ini Bahaya Fatal Campak yang Diabaikan Setelah Pandemi
-
Bingung Pilih Skincare? Yoursay Class Bareng Mydervia Punya Jawabannya
-
Bye Kulit Kering! 4 Cleanser Glycerin Bikin Lembap Tahan Lama Selama Puasa