Ada satu hal yang membuat cerita misteri thriller psikologis selalu memikat. Ketika jawaban masih samar dan kebenaran hanya terasa kayak bayangan yang diraba-raba.
Begitulah, Film Legenda Kelam Malin Kundang memainkan sensasi itu dengan efektif di paruh awalnya. Yup, kita disuguhkan teka-teki yang bikin betah mengikuti tiap simpang plotnya. Namun, begitu rahasia mulai dibuka, daya pikatnya perlahan memudar.
Kok Bisa?
Begini, ‘Legenda Kelam Malin Kundang’ membuka kisahnya lewat sosok Alif (Rio Dewanto), si pelukis mikro yang mengalami amnesia akibat kecelakaan mobil.
Hidupnya seolah-olah dilempar ke tengah hidup yang nggak lagi dia kenali, bersama Nadine (Faradina Mufti). Parahnya, hal-hal mendasar seperti rupa ibunya sendiri di kampung halaman pun lupa.
Ketidaktahuan ini menciptakan misteri baru. Ketegangan mulai menebal ketika hadir perempuan asing (Vonny Anggraini) yang mengaku sebagai Amak, ibu kandung Alif.
Nggak ada yang bisa membuktikan identitasnya. Namun anehnya, perempuan ini tahu detail yang bahkan Alif sendiri nggak ingat, termasuk asal luka di dahinya. Dari sinilah film menandai perubahan suasana: tanya demi tanya bermunculan, sementara petunjuk kecil ditaburkan perlahan seperti remahan roti yang menggiring kita ke hutan gelap.
Ught, penuh misteri banget, kan? Buktikan sendiri deh dengan nonton film ini di bioskop!
Ada Beberapa Hal yang Perlu Sobat Yoursay Ketahui
Jujur deh, duo sutradara Rafki Hidayat dan Kevin Rahardjo, dalam debut film panjang mereka, menunjukkan ketelitian dalam merangkai misteri dengan tempo yang sabar. Mereka tahu kapan harus menahan, kapan harus memberi isyarat halus. Hanya saja, upaya mereka menghadirkan jumpscare terasa belum sepenuhnya efektif. Lebih sebagai formalitas genre.
Selain benang misteri soal masa lalu Alif, film ini juga memasukkan dinamika rumah tangga yang rapuh. Menariknya, Film Legenda Kelam Malin Kundang memilih jalur yang jarang disentuh film Indonesia arus utama, yaitu seks sebagai ruang rekonsiliasi pasangan. Ught, gitu deh.
Di kamar mandi, dalam kejujuran tubuh dan percakapan yang terbuka, Alif dan Nadine saling menelanjangi luka mereka. Inilah bagian yang memuat salah satu ciri khas terbaik film yang diproduseri Joko Anwar. Yang selalu mampu menghadirkan obrolan yang hidup, menggugah, dan terasa manusiawi.
Namun sayangnya, ketika film akhirnya masuk ke fase pengungkapan, pesonanya mulai retak. Misteri yang sejak awal dibangun dengan detail perlahan berubah menjadi rangkaian eksposisi. Alif menjadi saksi pasif dari penglihatan demi penglihatan, dan penonton hanya diminta duduk menunggu satu persatu rahasia disajikan tanpa banyak eksplorasi sinematik. Twist yang seharusnya jadi puncak, alih-alih mengejutkan, terasa kehilangan energi karena ekspektasi telah terbangun terlalu lama.
Meski begitu, film ini tetap memberikan sesuatu yang patut diapresiasi atas keberaniannya mengolah kembali legenda Malin Kundang menjadi sajian visual yang lebih kontemporer dan emosional. Yup, ini bukan lagi dongeng tentang anak durhaka yang dihukum menjadi batu, tapi potret seseorang yang terperangkap trauma masa lalu.
Dalam versi modern ini, ‘merantau’ nggak hanya berarti meninggalkan kampung halaman, melainkan upaya melarikan diri dari luka dan rasa malu yang nggak kunjung sembuh. Namun pelarian itu sering kali menimbulkan rindu, dan rindu itulah yang menjadi dilema utama. Bukan tubuh Alif yang membatu, melainkan hatinya yang mengeras oleh rahasia yang dia kubur.
Kesimpulannya tuh, Film Legenda Kelam Malin Kundang adalah kisah tentang betapa masa lalu dapat lebih menakutkan daripada apa pun yang kita hadapi di masa kini. Dan bagi orang seperti Alif, mungkin itulah momok yang paling sulit ditaklukkan.
Sobat Yoursay siap nonton Film Legenda Malin Kundang? Yuk, agendakan segera sebelum turun layar!
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tag
Baca Juga
-
Review Film The Voice of Hind Rajab: Pedih dan Mengguncang Nurani
-
Review Film Agak Laen: Menyala Pantiku! Tawa dari Awal sampai Akhir, Pecah!
-
Belum Tayang, Film Agak Laen: Menyala Pantiku Sudah Tembus 50.000 Tiket Pre-sale
-
Pelangi di Mars: Akhirnya Film Sci-Fi Indonesia Sekelas Hollywood Terwujud?
-
Menguliti Dilema Moral di Balik Series I Love You My Teacher
Artikel Terkait
-
Jadi Penutup Trilogi, Film The Strangers: Chapter 3 Rilis Februari 2026
-
3 Film Horor Terbaru MAGMA Entertainment: Qodrat Universe hingga Vampir ala Hong Kong
-
Kisah Nyata Wafda Saifan di Balik Film Riba, Pernah Jadi Korban Rentenir Berkedok Teman
-
Film Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel Go International, Siap Tayang di 3 Negara
-
Perjalanan Karier Gary Iskak, Aktor Serbabisa yang Kini Tinggal Kenangan
Ulasan
-
Review Film Legenda Kelam Malin Kundang: Trauma Warisan yang Mencekam!
-
Ulasan Novel Back to You: Kisah CLBK yang Mengaduk Emosi
-
5 Rekomendasi Novel Slice of Life yang Penuh dengan Nilai-Nilai Kehidupan
-
Belajar Self-Love dari Buku Korea 'Aku Nggak Baper, Kamu Yang Lebay'
-
Ulasan Novel Missing Ex Karya Merinda, Misi Mencekam Mencari Mantan Kekasih
Terkini
-
Ketika Pendidikan Kehilangan Hatinya: Sebuah Refleksi Kritis
-
Akui Sudah Menikah Siri, Inara Rusli Merasa Kena Scam oleh Insanul Fahmi?
-
Final Syed Modi International 2025: Indonesia Punya Wakil, Peluang Gelar?
-
Krystal Temukan Kebahagiaan dalam Kesendirian di Lagu Debut Solo, Solitary
-
Bingung Pilih Tumbler? Ini 5 Merek Stainless yang Awet dan Stylish untuk Jaga Minumanmu