Ada sesuatu yang begitu hangat dan kuat dari sebuah buku bergambar ketika ia mampu berbicara banyak hanya dengan beberapa kalimat dan ilustrasi.
The Proudest Blue: A Story of Hijab and Family, ditulis oleh Ibtihaj Muhammad bersama S.K. Ali dan diilustrasikan dengan memukau oleh Hatem Aly, adalah salah satu dari buku semacam itu, ringan, tapi berdampak.
Buku ini menceritakan hari pertama Asiya, seorang kakak perempuan, mengenakan hijab. Ia memilih warna biru untuk hijabnya.
Faizah, adik Asiya, melihat jilbab biru cerah milik kakaknya sebagai sesuatu yang indah, nyaris seperti sihir. Ia melihat keberanian, keanggunan, dan kekuatan dalam kain biru yang mengalir itu.
Hari itu juga merupakan hari pertama sekolah Faizah, dan ia begitu bangga melihat kakaknya tampil anggun dan percaya diri dengan hijab barunya.
Namun, tidak semua orang menyambut hijab Asiya dengan hormat. Di sekolah, ada anak-anak yang menatap, berbisik, bahkan mengejek.
Faizah yang masih kecil melihat ini semua dan merasakan gejolak emosi, antara bingung, marah, dan ingin membela.
Tapi ia juga melihat keteguhan dan ketenangan Asiya, yang tetap tegak dan tidak membiarkan komentar orang lain meruntuhkan rasa bangganya. Dari situ, Faizah belajar bahwa hijab bukan sekadar kain.
Reaksi yang sayangnya masih terasa relevan hingga hari ini, tidak hanya di luar negeri, tapi juga di lingkungan kita sendiri. Apa yang dialami Asiya bukan fiksi belaka. Itu nyata.
Itu banyak dialami oleh wanita yang ada di seluruh dunia.
Anehnya, tetap saja hijab masih sering dipandang dengan rasa curiga atau dihakimi secara salah.
Ada banyak buku anak-anak yang membahas tentang keberanian, tapi tidak banyak yang membingkainya lewat lensa identitas budaya dan agama dengan cara seindah ini.
Faizah dengan ketulusannya, justru menemukan keindahan baru dari jilbab kakaknya setiap kali ada cibiran datang.
Ia belajar bahwa keberanian bukan tentang tidak takut, tapi tentang tetap teguh berdiri saat dunia mencoba menjatuhkan.
Yang paling menarik adalah bagaimana Ibtihaj Muhammad, seorang atlet Olimpiade dan aktivis, menanamkan rasa bangga akan hijab dalam narasi ini. Bagi banyak anak perempuan Muslim, mengenakan hijab untuk pertama kalinya bisa menjadi momen yang sangat besar dan campur aduk.
Hijab Asiya tidak digambarkan sebagai sesuatu yang membatasi, tapi sebagai simbol kekuatan dan keindahan.
Ilustrasi Hatem Aly juga pantas diberi pujian khusus. Warna biru pada hijab Asiya benar-benar mencuri perhatian.
Hijab biru Asiya tampak begitu memikat di setiap halaman, mengalir seperti lautan, megah seperti langit.
Ia menjadi pusat dari halaman demi halaman, memperkuat tema bahwa sesuatu yang berbeda bisa menjadi hal yang paling membanggakan.
Buku ini juga menyentuh isu yang lebih luas, seperti ketegangan budaya, perbedaan ras, dan pentingnya pendidikan inklusif sejak dini.
Bagi anak-anak non-Muslim, buku ini bisa menjadi jendela untuk memahami pengalaman teman-temannya yang berbeda.
Sedangkan bagi anak-anak Muslim, terutama yang sedang tumbuh di negara-negara mayoritas non-Muslim, The Proudest Blue bisa menjadi cermin yang meneguhkan bahwa menjadi diri sendiri, meskipun berbeda, adalah hal yang patut dibanggakan.
Di tengah dunia yang semakin terbuka tapi juga kadang terasa terpecah, buku semacam ini penting untuk memperkenalkan keberagaman sebagai sesuatu yang patut dirayakan, bukan dicurigai.
Kalau kamu berpikir ini hanya buku anak-anak biasa, pikirkan lagi. Ini adalah kisah penuh makna, cocok dibaca bersama keluarga, didiskusikan di kelas, atau bahkan direnungkan sendiri.
Karena pada akhirnya, keberanian menjadi diri sendiri adalah pelajaran yang tak lekang oleh usia.
Ia bukan hanya cerita tentang seorang anak dan hijabnya, tapi juga tentang kekuatan, kasih sayang kakak-adik, dan keberanian menjadi diri sendiri di tengah dunia yang kadang tidak memahami.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Ulasan Novel Di Balik Jendela, Ketegangan dalam Rumah yang Terkepung
-
Novel Ziarah, Sebuah Perenungan tentang Hidup dan Kematian
-
Novel "Angin dari Tebing 2", Ketika Cerita Anak Menjadi Cermin Kehidupan
-
Buku 'Rumah Baru dan Hal-Hal Baru', Makna Besar tentang Rumah dan Masa Lalu
-
Kisah 13 Anak dan Dunia Penuh Kehangatan di Novel "Angin dari Tebing 1"
Artikel Terkait
-
Ulasan Buku How to Die: Menyambut Kematian dari Segi Filsuf Romawi
-
Ulasan Novel Cermin-Cermin Impian: Dua Jiwa Berjanji, Melangkah Seirama
-
Pelajaran Berharga di The Kindest Red: Kebaikan Bisa Dimulai dari Hal Kecil
-
Ulasan Novel 3726 mdpl: Saat Pendakian Membawa Cinta dan Luka
-
We Are Water Protectors, Buku Anak yang Menyuarakan Kelestarian Lingkungan
Ulasan
-
Episode 5 dan 6 The Scarecrow Bikin Penonton Ikut Mikir Keras
-
Brass Monkeys: Kenapa yang Jelas Lebih Baik Justru Tidak Dipilih?
-
Kukungan Emosi dalam Set Terbatas Film Kupeluk Kamu Selamanya
-
Menenun Kembali Persahabatan di Ujung Cakrawala Aldebaran
-
Resep Ketenangan di Pojok Kopi Dusun: Saat Modernitas Bertemu Tradisi di Kawasan Candi Muaro Jambi
Terkini
-
Lika-liku Keuangan Anak Muda Zaman Now: Cuma Mau Hidup Hemat Tanpa Merasa Tertekan
-
PC Tanpa Ribet Kabel? Acer Aspire C24 AIO Tawarkan Desain Tipis dan Ringkas
-
5 Pilihan HP Samsung dengan Bypass Charging, Anti Overheat Saat Nge-Game
-
Rumah yang Tak Pernah Selesai Dibangun: Catatan Luka Seorang Anak Perempuan Fatherless
-
Berburu Hidden Gem Modest Fashion di Tengah Kota: Last Stock Sale 2026 Resmi Dibuka!