Novel Semesta Terakhir Untuk Kita karya Ainul Farihah membawa pembaca masuk ke dunia yang jarang dieksplorasi dalam fiksi remaja, dunia bulutangkis, lengkap dengan semangat kompetisi, rivalitas, dan persahabatan yang rumit.
Ceritanya berpusat pada Akil dan Jett, dua pemain berbakat yang dulunya dikenal sebagai seteru dalam dunia bulutangkis.
Mereka berasal dari latar belakang dan kepribadian yang berbeda, namun takdir mempertemukan mereka kembali sebagai satu tim demi satu tujuan besar, yaitu memenangkan Piala Cakerawala.
Awalnya, kerja sama keduanya berjalan canggung dan penuh ego. Tapi latihan demi latihan, tawa dan kelelahan di lapangan mengubah mereka.
Dari lawan menjadi rekan, dari rekan menjadi sahabat dekat. Hubungan Akil dan Jett berkembang begitu alami, ada kedekatan emosional yang intens namun tetap dibalut suasana hangat persahabatan.
Namun, ketika Akil mulai menyadari bahwa mereka berdua mungkin menyukai orang yang sama, semesta yang mereka bangun perlahan retak.
Ketegangan tumbuh, terutama karenaJett memilih diam, menolak berterus terang demi menjaga hubungan dan fokus pada kompetisi terakhir mereka.
Pertarungan pun bergeser, bukan hanya di lapangan, tapi juga di hati. Mampukah mereka tetap bersatu demi impian besar, atau justru harus melepaskan sesuatu yang lebih berharga daripada medali emas?
Salah satu kekuatan utama novel ini terletak pada paduan emosi dan semangat olahraga yang begitu hidup.
Ainul Farihah berhasil menggambarkan dunia bulutangkis dengan detail yang terasa realistis, mulai dari sesi latihan, dinamika tim, hingga tekanan menjelang kompetisi.
Bagi pembaca yang pernah mencicipi dunia olahraga, tiap bab terasa seperti deja vu penuh adrenalin.
Selain itu, relasi antara Akil dan Jett menjadi jantung cerita yang memikat. Hubungan mereka tidak digambarkan secara hitam putih.
Ada ego, ada kekaguman, ada rasa ingin diakui, dan pada saat yang sama, ada ketakutan kehilangan. Semua ini membuat karakter terasa manusiawi dan mudah disukai.
Novel ini juga mengangkat tema persahabatan, ambisi, dan pengorbanan dengan cara yang sederhana namun mengena.
Ainul tidak memaksa pembacanya untuk memilih siapa yang benar atau salah, melainkan membiarkan kita ikut merasakan dilema dua anak muda yang berjuang menyeimbangkan impian dan perasaan.
Gaya narasi Ainul pun ringan dan sinematik, tiap adegan terasa hidup, seperti menonton pertandingan yang perlahan berubah menjadi drama emosional di balik layar.
Walau menghibur dan emosional, ada beberapa bagian yang terasa berjalan lambat, terutama di pertengahan cerita. Beberapa deskripsi latihan dan percakapan internal Akil terasa berulang sehingga intensitas emosinya sempat menurun.
Selain itu, pembaca mungkin berharap lebih banyak momen kejujuran dan konfrontasi terbuka antara Akil dan Jett, bukan hanya lewat dialog penuh teka-teki.
Meski begitu, kekurangan ini tidak terlalu mengganggu karena klimaksnya tetap memberikan penutup yang memuaskan dan meninggalkan kesan hangat.
Dari segi bahasa, Ainul Farihah menggunakan gaya bahasa yang lembut, puitis, dan dekat dengan keseharian remaja. Dialog antar tokohnya terasa alami, tidak berlebihan, dan mampu menonjolkan karakter masing-masing.
Akil dengan sikap keras kepala tapi sensitifnya, Jett dengan pembawaan tenang namun penuh misteri, semua tergambar jelas lewat tutur kata mereka.
Semesta Terakhir Untuk Kita mengajarkan bahwa kemenangan sejati tidak selalu tentang piala atau medali, melainkan tentang keberanian untuk tetap jujur pada perasaan sendiri dan menghargai orang yang berjuang bersama kita.
Melalui Akil dan Jett, pembaca diajak menyadari bahwa persahabatan sejati bukanlah tentang siapa yang paling kuat atau paling benar, melainkan siapa yang tetap ada meski semesta sedang bergolak.
Novel ini juga menyiratkan pesan tentang kedewasaan emosional, bahwa kadang, menjaga hubungan lebih sulit daripada memenangkan kompetisi.
Secara keseluruhan, Semesta Terakhir Untuk Kita adalah novel yang memadukan semangat olahraga, emosi remaja, dan kehangatan persahabatan dengan apik.
Ceritanya mungkin sederhana, tapi maknanya dalam. Ainul Farihah sukses mengajak pembaca ikut jatuh, bangkit, dan tumbuh bersama Akil dan Jett, dua sosok yang mewakili semesta kecil kita sendiri, tempat di mana ego dan kasih sayang sering kali bertarung tanpa pemenang yang pasti.
Sebuah kisah yang hangat, emosional, dan pantas disebut semesta terakhir yang ingin kita tinggali bersama teman terbaik.
Baca Juga
-
Novel No Place Like Home: Ketika Rumah Tak Selalu Berarti Pulang
-
Analisis Cerpen Robohnya Surau Kami: Kritik A.A. Navis tentang Ibadah Tanpa Amal
-
Merayakan Hidup Orang Biasa dalam Novel Kios Pasar Sore
-
7 Our Family: Luka Keluarga dari Sudut Anak Paling Terlupakan
-
Belajar Self-Love dari Buku Korea 'Aku Nggak Baper, Kamu Yang Lebay'
Artikel Terkait
-
Years Gone By: Ketika Cinta Tumbuh dari Kepura-puraan
-
Ulasan Novel Terusir: Diskriminasi Wanita dari Kacamata Budaya dan Sosial
-
Surat-Surat yang Mengubah Hidup dalam Novel Dae-Ho's Delivery Service
-
Ulasan Novel Oregades: Pilihan Pembunuh Bayaran, Bertarung atau Mati
-
Futsal: Bukan Sekadar Olahraga, Tapi Media Mempererat Persahabatan
Ulasan
-
Film Suka Duka Tawa: Membahas Isu Fatherless yang Menyayat Hati
-
Novel With You: Tentang Pernikahan Dini dan Ujian Kesetiaan
-
Drama Love Me, Love My Voice: Mimpi dan Cinta Bertemu dalam Nada
-
Novel Belok Kiri Langsing: Tidak Ada Proses yang Instan!
-
Film Greenland 2: Migration, Resiliensi Pasca Hantaman Komet Clarke
Terkini
-
Dari Duka Sumatra, Tumbuh Solidaritas Indonesia
-
4 Serum Resveratrol Kaya Antioksidan Atasi Dark Spot dan Kerutan di Wajah
-
Educatopia Expo 2026 Hadir di Mojokerto, Jadi Ruang Eksplorasi Pendidikan dan Minat Generasi Muda
-
5 Rekomendasi HP Murah dengan Baterai 6000 mAh di Awal 2026, Harga Mulai Rp 1 Jutaan
-
Kursi Kosong dan Rekonsiliasi