Hayuning Ratri Hapsari | Ardina Praf
Novel Laut Tengah (goodreads.com)
Ardina Praf

Laut Tengah menjadi salah satu novel yang cukup ramai dibicarakan karena keberaniannya mengangkat tema poligami, pendidikan, dan pergulatan batin perempuan muda dalam satu rangkaian konflik emosional yang kompleks.

Berliana Kimberly meramu kisah ini dengan sudut pandang yang intim, sehingga pembaca seolah-olah ikut tenggelam dalam gelombang dilema yang dihadapi tokohnya.

Haia adalah seorang perempuan muda yang memiliki mimpi besar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2. Namun, mimpinya harus terhenti ketika program beasiswa yang ia harapkan justru ditutup oleh pemerintah.

Kegagalan itu menjadi pukulan berat bagi Haia, terlebih karena pendidikan adalah jalan yang ia yakini dapat mengubah masa depannya.

Di tengah kekecewaan tersebut, datang tawaran tak terduga dari dosennya, Prof. Fatih. Ia menawarkan Haia untuk menjadi istri kedua dari suami keponakannya, Aisa.

Tawaran ini bukan tanpa imbalan, Aisa bersedia membantu membiayai kuliah Haia jika memang dibutuhkan. Bagi Haia, ini bukan sekadar tawaran pernikahan, melainkan persimpangan hidup yang menguji harga diri, keyakinan, dan prinsip yang selama ini ia pegang teguh.

Dari sinilah cerita berkembang, tentang bagaimana Haia menghadapi keputusan sulit, bagaimana relasi antara istri pertama dan kedua dibangun, serta bagaimana cinta, keikhlasan, dan ambisi pribadi saling bertabrakan di dalam satu rumah tangga.

Keunikan Laut Tengah terletak pada keberaniannya mengangkat poligami bukan sekadar sebagai konflik, tetapi sebagai ruang refleksi batin.

Novel ini tidak hanya menampilkan drama rumah tangga, tetapi juga menyentuh isu pendidikan perempuan, kemandirian finansial, serta tekanan sosial.

Judul Laut Tengah sendiri terasa simbolis. Laut sering kali dimaknai sebagai sesuatu yang luas, dalam, dan tak terduga, seperti perasaan Haia yang bergelombang antara harapan dan ketakutan.

Pembaca menilai bahwa konflik emosional dalam novel ini terasa realistis dan dekat dengan kehidupan, terutama bagi perempuan yang pernah berada di titik putus asa.

Keunikan lainnya adalah karakter Aisa. Alih-alih digambarkan sebagai antagonis, ia justru tampil sebagai sosok kompleks yang memiliki alasan dan pertimbangannya sendiri.

Hal ini membuat cerita tidak hitam-putih, melainkan penuh gradasi moral.

Gaya bahasa Berliana Kimberly cenderung ringan, emosional, dan reflektif.

Ia banyak menggunakan narasi yang menyentuh sisi perasaan tokoh, sehingga pembaca dapat memahami kegelisahan Haia secara mendalam.

Diksi yang digunakan tidak terlalu berat, sehingga novel ini mudah diikuti oleh pembaca remaja akhir hingga dewasa muda.

Kekuatan novel ini terletak pada dialog-dialognya yang terasa hidup dan menyentuh.

Monolog batin Haia juga menjadi daya tarik tersendiri karena memperlihatkan konflik internal yang kuat. Meski demikian, ada pula pembaca yang merasa alur cerita di beberapa bagian terasa lambat karena fokus pada perenungan tokoh.

Laut Tengah menyampaikan pesan bahwa hidup sering kali membawa seseorang pada pilihan yang tidak ideal.

Dalam kondisi terdesak, seseorang bisa saja mempertimbangkan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

Novel ini mengajak pembaca untuk memahami bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi emosional yang tidak sederhana.

Selain itu, ada pesan tentang pentingnya pendidikan dan kemandirian perempuan. Mimpi Haia untuk melanjutkan S2 menjadi simbol harapan dan perjuangan.

Novel ini seolah ingin mengatakan bahwa perempuan berhak memperjuangkan masa depannya, tetapi juga harus siap menghadapi realitas yang kadang tidak sesuai ekspektasi.

Di sisi lain, kisah ini juga mengangkat tema keikhlasan dan pengorbanan.

Hubungan antara Haia dan Aisa menunjukkan bahwa perempuan tidak selalu menjadi musuh satu sama lain, meskipun berada dalam situasi yang sulit.

Secara keseluruhan, Laut Tengah adalah novel drama keluarga yang emosional dan reflektif. Cocok bagi pembaca yang menyukai kisah penuh dilema moral, konflik batin, dan pergulatan perasaan yang realistis.