Film Two Seasons, Two Strangers (Tabi to Hibi) adalah drama Jepang tahun 2025 yang disutradarai oleh Shô Miyake, berdasarkan dua cerita pendek manga karya Yoshiharu Tsuge, yaitu A View of the Seaside (1967) dan Mr. Ben and His Igloo (1968)
Film ini mengeksplorasi tema kesepian, pertemuan singkat, dan proses kreatif penulisan. Dengan durasi 89 menit, Miyake menyajikan narasi diptych yang unik: tentang dua musim, tentang dua pasang orang asing, dan lapisan meta antara fiksi dan realitas.
FYI nih Sobat Yoursay, fiilm ini memenangkan Golden Leopard di Locarno Film Festival 2025, serta penghargaan Best Director untuk Miyake.
Dua Cerita, Satu Skrip: Meta antara Fiksi dan Nyata
Plot film dibagi menjadi dua segmen yang saling terkait. Bagian pertama berlatar musim panas di desa pantai yang sepi. Nagisa (Yumi Kawai), seorang wanita muda yang sedang berusaha melupakan patah hati, bertemu Natsuo (Mansaku Takada), pemuda lokal yang pendiam.
Mereka bertukar pandangan kosong dan kata-kata canggung di tengah hujan deras, menciptakan ikatan sementara yang rapuh. Suasana dingin meski musim panas menekankan isolasi emosional mereka. Segmen ini terasa seperti film independen yang kontemplatif, dengan dialog minimalis dan fokus pada ekspresi wajah serta lanskap alam.
Kemudian, narasi bergeser ke musim dingin di desa bersalju. Di sini, kita mengikuti Li (Shim Eun-kyung), seorang penulis skenario Korea yang tinggal di Jepang. Li sedang mengalami krisis kreatif, mencari inspirasi di penginapan terpencil yang dikelola Benzo (Shinichi Tsutsumi), seorang pria sinis yang baru saja berpisah dari keluarganya.
Interaksi mereka lambat dan penuh keheningan, mencerminkan tema kesedihan manusia yang Benzo sebut sebagai esensi karya bagus. Ternyata, segmen musim panas adalah skrip yang ditulis Li, menjadikan film ini sebagai cerita meta tentang bagaimana kehidupan nyata memengaruhi fiksi. Miyake dengan cerdik menggunakan duplikasi—cermin, paralel, dan refleksi—untuk membangun emosi yang mendalam tanpa drama berlebih.
Review Film Two Seasons, Two Strangers
Akting menjadi salah satu kekuatan utamanya sih. Shim Eun-kyung sebagai Li menyampaikan kerentanan dengan halus, terutama saat Q&A pasca-penayangan di mana ia mengaku tidak berbakat.
Yumi Kawai dan Mansaku Takada menghidupkan Nagisa dan Natsuo sebagai introvert yang saling melengkapi, dengan chemistry yang alami meski minim kata. Shinichi Tsutsumi sebagai Benzo menambahkan lapisan humor yang gelap, menyeimbangkan melankoli film. Shirô Sano muncul singkat sebagai profesor yang memuji seksinya film Li, menyoroti persepsi berbeda terhadap karya seni.
Secara teknis, sinematografi Yuta Tsukinaga brilian. Pantai hujan dan salju tebal menjadi metafor visual untuk emosi terpendam, dengan pencahayaan lembut yang membuat salju bercahaya di kegelapan. Editing Keiko Okawa memastikan transisi antar segmen mulus, sementara musik Hi’ Spec menambah nada melankolis yang mengpingatkan pada karya Hong Sang-soo—ringan tapi mendalam.
Miyake, yang sebelumnya sukses dengan Small, Slow But Steady (2022) dan All the Long Nights (2024), konsisten dalam estetika "new shyness": gambar tentatif yang menyoroti interaksi halus antar karakter pendiam.
Film ini bisa disebut diptych memikat penuh paralel, meraih hati lewat efek kumulatif yang menyentuh. Juga perayaan elegan dan sensitif atas introvert, menonjolkan cara Miyake menangkap proses menulis via drama pribadi plus humor yang terbuka. Visual indah dan emosi dalamnya luar biasa meskipun terlalu pelan sih. Dibanding Hong Sang-soo, film ini lebih naratif, fokus pada hubungan modern yang rumit.
Di Indonesia, Two Seasons, Two Strangers tayang di bioskop mulai Desember 2025, dengan jadwal luasnya pada Januari 2026. Di CGV, XXI, dan Cinepolis, film ini tersedia sejak September 2025 di beberapa kota seperti Jakarta, Medan, Palembang, dan Yogyakarta, tapi premiere nasional sekitar November 2025 mengikuti rilis Jepang.
Sampai sekarang, masih tayang di berbagai bioskop kok, termasuk Jakarta dan Medan, dengan harga tiket sekitar Rp40.000-Rp60.000 tergantung kota kalian masing-masing.
Intinya, Two Seasons, Two Strangers adalah permata arthouse yang merayakan momen kecil dalam kehidupan. Bagi penggemar drama introspektif seperti karya Ryusuke Hamaguchi, film ini wajib tonton sih dan sangat aku rekomendasikan. Meski lambat, ia menyentuh hati dengan kejujuran tentang kesepian dan koneksi tak terduga.
Rating pribadiku: 8/10.
Baca Juga
-
Review Evil Dead Burn: Teror Iblis Necronomicon di Rumah Danau Berdarah!
-
Review Golden Kamuy: Konflik Berdarah Para Narapidana Kelas Kakap di Jepang
-
Ikka: Thriller Netflix yang Menyoroti Keadilan dan Pengorbanan Keluarga!
-
Bukan Sekadar Rapuh: Membedah Stigma "Generasi Strawberry" pada Gen Z
-
Kerja Secukupnya, Waras Seutuhnya: Membedah Tren Quiet Quitting ala Gen Z
Artikel Terkait
-
Anime Whoever Steals This Book: Visual Juara, tapi Ceritanya Kurang Daging
-
Boss Level: Frank Grillo Mati Ratusan Kali demi Selamatkan Dunia, Malam Ini di Trans TV
-
The Equalizer: Aksi Brutal Denzel Washington Lawan Sindikat Germo Rusia, Malam Ini di Trans TV
-
Bedah Proses Kreatif Film Sadali: Syuting Maraton Dua Era hingga Ambisi Hidupkan Seni Rupa 90-an
-
Park Bo Gum Comeback Main Film Sejarah, Bintangi The Sword: A Legend of the Red Wolf Bareng Joo Won
Ulasan
-
Review Every Monday Mabel: Ketika Truk Sampah Jadi Hal Terbaik di Dunia
-
Teach You a Lesson: Drama Aksi Sekolah dengan Kritik Pedas Sistem Pendidikan
-
Membaca Ways to Live Forever: Bagaimana Anak Kecil Melihat Sebuah Kematian?
-
Review Evil Dead Burn: Teror Iblis Necronomicon di Rumah Danau Berdarah!
-
Ulasan Kronik Burung Pegas: Kisah Kehilangan, Trauma, dan Dunia Surealis
Terkini
-
Tangki Cinta yang Kosong: Sulitnya Anak Broken Home Mengenal Hubungan Sehat
-
Ghosting, Breadcrumbing, dan Situationship: Bahasa Baru dalam Dunia Asmara
-
Fenomena Gaji Numpang Lewat: Gaya Hidup dan Tekanan Sosial yang Bikin Boros
-
Prabowo dan Obsesi MBG: Mengapa Kemajuan Negara Diukur dari Perut Rakyat?
-
4 Hybrid Sunscreen Cegah Jerawat Meradang Akibat Paparan Sinar Matahari