Novel Mata di Tanah Melus mengajak kita berkenalan dengan Matara, seorang gadis berusia dua belas tahun yang sedang berada di persimpangan konflik kedua orang tuanya. Akar masalahnya sangat manusiawi dan dekat dengan keseharian kita: uang. Kedua orang tua Mata adalah penulis; sang ibu menulis novel dan sang ayah menulis artikel politik. Namun, keharmonisan mereka retak ketika Ayah kehilangan pekerjaan, sementara penghasilan Ibu dari menulis fiksi tidak menentu. Di tengah ketegangan itu, Ibu memutuskan membawa Mata melakukan perjalanan jauh ke daerah Belu, Nusa Tenggara Timur.
Perjalanan ini sejatinya tidak membuat Mata bersemangat. Baginya, NTT adalah tempat asing dengan kondisi yang tak terprediksi. Firasat buruknya seolah terbukti ketika mobil sewaan mereka menabrak seekor sapi, yang berujung pada tuntutan ganti rugi sebesar dua puluh juta rupiah. Kesialan demi kesialan, ditambah mimpi buruk yang menghantui, membuat awal perjalanan Mata terasa kelabu.
Memasuki Dunia Paralel Negeri Melus
Titik balik cerita terjadi setelah Mata dan ibunya mengikuti sebuah upacara adat untuk meminta izin memasuki daerah Belu. Alih-alih mendapatkan restu, mereka justru diminta untuk kembali ke tempat asal. Namun, saat berteduh dari hujan lebat, Mata mendapati dirinya terbangun di tengah padang hijau yang sangat luas. Di sinilah Mata menyadari bahwa ia telah tersesat dan terpisah dari ibunya.
Untuk memahami novel ini, Okky Madasari mengajak kita untuk menerima konsep dua dunia yang berjalan berdampingan: Belu sebagai dunia nyata, dan Negeri Melus sebagai dunia paralel yang penuh keajaiban. Petualangan Mata di kampung Melus didorong oleh satu motivasi murni, yaitu keinginan kuat untuk kembali bertemu dengan ibunya. Inilah langkah baru bagi Okky yang biasanya dikenal dengan kritik sosial "berat", kini ia merambah sastra anak tanpa kehilangan taringnya.
Imajinasi Masa Kecil dan Makhluk Ajaib
Membaca buku ini akan membawa memori kita kembali pada imajinasi masa kecil yang liar. Okky menyisipkan "bumbu" ajaib yang sangat memikat, seperti saat Mata melihat gumpalan awan yang berubah menjadi kelinci-kelinci dan anak perempuan yang melompat ceria. Pembaca juga akan diperkenalkan dengan jajaran makhluk mitologi yang eksotis, mulai dari Ratu Kupu-Kupu, Dewa Buaya, hingga sosok Laka Lorak yang dijuluki Ibu Kehidupan.
Tempat-tempat yang digambarkan pun sangat memanjakan visual imajinasi kita. Ada padang rumput Fulan Fehan yang memesona, Kerajaan Kupu-Kupu yang megah, hingga hutan kaktus yang lebat. Kehebatan Okky adalah kemampuannya mendeskripsikan lautan yang bisa muncul dan menghilang secara tiba-tiba, membuat pembaca seolah benar-benar berpijak di atas tanah Negeri Melus yang misterius.
Kritik Sosial di Balik Dongeng Anak
Meski ditujukan untuk pembaca anak-anak, Okky Madasari tidak meninggalkan identitasnya sebagai penulis yang kritis. Di balik petualangan Mata, terselip pesan penting mengenai kelestarian lingkungan. Penulis menyisipkan kritik tajam terhadap perburuan hewan liar (dalam hal ini buaya) serta eksploitasi sumber daya alam di Gunung Lakaan.
Melalui konflik yang dialami kelompok orang di Negeri Melus, kita diingatkan bahwa perusakan alam demi kekayaan pribadi atau kelompok adalah tindakan yang merusak masa depan. Pesan ini disampaikan dengan halus namun tetap mengena, mengajarkan pembaca muda untuk mencintai dan menjaga warisan alam untuk generasi mendatang.
Kesimpulan: Jembatan Budaya yang Menyenangkan
Mata di Tanah Melus adalah sebuah karya yang hangat, imajinatif, dan sangat baik untuk memperkenalkan kekayaan mitos Nusantara kepada anak-anak (maupun orang dewasa). Perpaduan antara petualangan yang seru, mitos lokal NTT, dan nilai-nilai moral menjadikannya bacaan yang lengkap. Novel ini membuktikan bahwa edukasi tentang sejarah dan kepedulian sosial bisa dikemas dalam bentuk cerita fantasi yang sangat menyenangkan.
Bagi Anda yang merindukan kisah petualangan dengan cita rasa lokal yang kuat, buku ini adalah gerbang yang tepat untuk memulai perjalanan tersebut.
Identitas Buku:
- Judul: Mata di Tanah Melus
- Penulis: Okky Madasari
- Editor: Anastasia Mustika W.
- Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
- Cetakan: Pertama, Januari 2018
- Tebal buku: 192 halaman
- ISBN: 97860203811626
Baca Juga
-
Antidot Budaya Konsumtif: Mengapa Mahakarya Tolstoy Tahun 1886 Semakin Relevan Sekarang?
-
Jojo Rabbit: Ketika Komedi Gelap Membedah Kengerian Perang Dunia II
-
Arafat Nur dan 'Lampuki': Ketika Humor Satir Bertemu dengan Tragedi Kemanusiaan
-
Surat Kecil Untuk Tuhan: Janji dan Misteri di Balik Persahabatan
-
Membaca Tanah Surga Merah Karya Arafat Nur: Satire Sengit Penguasa Daerah
Artikel Terkait
-
Romansa dalam Bayang-Bayang Perang Saudara Amerika di Novel Glorious Angel
-
The Return of Sherlock Holmes: Kembalinya Detektif Legendaris Dunia Misteri
-
Mitos Lereng Ciremai dan Wajah Metropolitan dalam Buku Monyet Bercerita
-
Mengintip Sisi Personal Presiden dalam Buku Pak Beye dan Keluarganya
-
Angkat Dunia Perpustakaan, Manga Karya Zuino Dapat Dua Adaptasi Sekaligus
Ulasan
-
Menyingkap Jejak Sejarah Kesultanan Ternate dalam Petualangan Matara
-
Dr. Kims Odd Creature: Manhwa Isekai yang Bikin Ngakak Sampai Sakit Perut!
-
Rimba Satir dan Tawa Pahit dalam Buku Dongeng Mbah Jiwo Karya Sujiwo Tejo
-
Menyusuri Jejak Peradaban Islam di Baghdad Lewat Catatan Hamka
-
Ulasan Drama Unnatural Fire, Tiga Detektif Kebakaran Penyingkap Tabir Kelam
Terkini
-
Capek-Capek Eka Kurniawan Masuk Nominasi Man Booker, Saingannya Cuma AU!
-
Checkout Impulsif Tanggal Kembar: Promo 6.6 Datang, Keranjang Belanja Aman?
-
Tayang di Bioskop, Colony Soroti Upaya Profesor Lawan Virus Zombi
-
Tinggalkan Estetika Minimalis! Mengapa Tren Warna Netral Justru Bikin Bumi Makin Panas?
-
Film Live-Action BLUE LOCK Gandeng Ado, Lagu Baru Monstruo Resmi Jadi OST