Sekar Anindyah Lamase | Ervina E. W.
Visual utama anime Whoever Steals This Book (crunchyroll/Whoever Steals This Book)
Ervina E. W.

Pernahkah kamu kepikiran, apa jadinya kalau dunia buku cerita yang kamu baca tiba-tiba menyatu sama kenyataan? Itulah premis unik dari film anime terbaru berjudul Whoever Steals This Book (Kono Hon o Nusumu Mono wa).

Diadaptasi dari novel karya Nowaki Fukamidori, film Whoever Steals This Book menceritakan tentang Mifuyu Mikura, siswi SMA yang harus mematahkan "Kutukan Buku". Dia harus menangkap pencuri buku di perpustakaan warisan kakeknya, Mikura Hall, sebelum seluruh kotanya terjebak selamanya dalam fiksi.

Secara visual, film Whoever Steals This Book yang tayang perdana pada akhir Desember 2025 ini benar-benar sebuah petualangan imajinasi yang nggak main-main indahnya. Mifuyu menjelajahi berbagai genre, mulai dari dongeng tradisional Jepang yang surealis sampai dunia distopia fiksi ilmiah.

1. Visual yang mewah dan penuh imajinasi

Cuplikan anime Whoever Steals This Book (crunchyroll/Whoever Steals This Book)

Salah satu poin paling kuat dari film Whoever Steals This Book adalah gaya visualnya yang luar biasa dari awal sampai akhir. Tim animasi di bawah arahan sutradara Daiki Fukuoka benar-benar mencurahkan hati mereka buat menghidupkan setiap dunia buku.

Kolaborasi dengan Graphinica dalam urusan CGI dan desain 2D bikin transisi antardunia cerita terasa sangat halus. Misalnya saat masuk ke dunia detektif, palet warnanya berubah jadi monokrom dengan efek butiran film lama yang kental.

Kreativitas visual di film Whoever Steals This Book jelas berada di atas rata-rata film anime kebanyakan tahun 2025 lalu. Apalagi ditambah sentuhan musik dari komposer legendaris Michiru Oshima yang bikin suasana makin hidup.

2. Cerita yang terasa sangat dangkal

Cuplikan anime Whoever Steals This Book (crunchyroll/Whoever Steals This Book)

Sayangnya, film Whoever Steals This Book seolah terjebak dalam masalah klasik: 100% mengutamakan gaya daripada substansi (style over substance). Meskipun premis kutukan perpustakaan Mikura Hall ini sangat menarik, eksekusi naskahnya terasa hambar.

Garapan naskah Yasuhiro Nakanishi tidak memberikan pesan moral yang mendalam atau tantangan nilai bagi penontonnya. Semua petualangan Mifuyu mengejar sang pencuri buku bersama gadis misterius bernama Mashiro terasa lewat begitu saja.

Penonton mungkin bakal terhibur dengan aksinya, tapi sulit buat menemukan alasan kenapa film Whoever Steals This Book harus diingat dalam jangka panjang. Ini adalah tipe petualangan fantasi sederhana yang cuma perlu ditonton sekali lalu dilupakan.

3. Deretan seiyuu papan atas yang "kurang terpakai"

Cuplikan anime Whoever Steals This Book (crunchyroll/Whoever Steals This Book)

Film Whoever Steals This Book sebenarnya punya jajaran pengisi suara yang sangat mewah dan bertabur bintang papan atas. Mulai dari Rin Kataoka sebagai Mifuyu, hingga nama-nama besar seperti Inori Minase (Kazune) dan Junichi Suwabe (Ayumu).

Bahkan aktor legendaris sekelas Akio Otsuka pun ikut ambil bagian dalam film Whoever Steals This Book garapan studio Perusahaan Kagome ini. Masalahnya, potensi suara mereka seolah tidak dibarengi dengan perkembangan karakter yang kuat.

Dunia-dunia cerita yang dikunjungi Mifuyu tidak berdampak apa-apa pada perkembangan sifatnya sehingga interaksi antar karakter terasa datar. Sangat disayangkan melihat deretan seiyuu kelas satu ini hanya memerankan karakter yang terasa seperti karikatur.

4. Peluang yang terbuang sia-sia

Cuplikan anime Whoever Steals This Book (crunchyroll/Whoever Steals This Book)

Masing-masing dari dunia fiksi yang dikunjungi Mifuyu sebenarnya punya potensi besar buat jadi metafora trauma masa lalunya. Namun, elemen trauma tersebut justru baru muncul di bagian akhir film Whoever Steals This Book secara mendadak.

Ingatan-ingatan yang kembali membanjir di akhir cerita Whoever Steals This Book pun bikin klimaksnya terasa kurang kuat karena tidak dibangun sejak awal. Dunia dongeng, detektif noir, dan fiksi ilmiah di sini hanya terasa seperti tempelan visual tanpa urgensi narasi.

Film Whoever Steals This Book punya semua elemen buat jadi karya hebat, mulai dari lagu tema indah YUKI hingga teknis animasi yang solid. Namun, pada akhirnya film anime ini terasa seperti kesempatan yang terbuang karena naskahnya terlalu "aman".

5. Kesimpulan: visual bagus saja tidak cukup?

Cuplikan film anime Whoever Steals This Book (crunchyroll/Whoever Steals This Book)

Pada intinya, Whoever Steals This Book adalah tontonan yang cocok kalau kamu cuma mencari hiburan visual yang kreatif. Film ini sangat aman buat ditonton bersama keluarga karena animasinya yang indah dan memanjakan mata.

Namun, mungkin penonton dewasa bakal merasa "kurang kenyang" dari sisi kedalaman cerita. Nilai keseluruhan film anime Whoever Steals This Book ada di angka C+, karena aspek teknisnya benar-benar menutupi kekurangan naskahnya.

Visual anime Whoever Steals This Book memang juara, tapi sebuah film hebat tetap butuh jiwa dan pesan yang kuat agar tetap membekas di hati. Jadi, apakah kamu lebih mementingkan grafik mewah atau cerita yang bikin mikir berhari-hari? Kalau lebih mementingkan grafik, film ini cocok banget jadi pengisi waktu luangmu!

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS