Hayuning Ratri Hapsari | Ryan Farizzal
Poster film Esok Tanpa Ibu (IMDb)
Ryan Farizzal

Film Esok Tanpa Ibu (judul internasional: Mothernet) adalah sebuah drama fantasi Indonesia yang menyentuh hati, disutradarai oleh Ho Wi Ding. Diproduksi oleh BASE Entertainment, Beacon Film, dan Refinery Media, film ini tayang perdana di bioskop Indonesia pada 22 Januari 2026.

Sebelumnya, ia membuat gebrakan dengan world premiere di Busan International Film Festival (BIFF) 2025, di mana ia terpilih untuk kompetisi Vision Asia. Durasi 107 menit dengan rating 13+, film ini menggabungkan elemen emosional keluarga dengan sentuhan teknologi AI, menjadikannya relevan di era digital saat ini.

Lahirnya I-BU dari Kenangan

Salah satu adegan di film Esok Tanpa Ibu (IMDb)

Cerita berpusat pada Rama (diperankan oleh Ali Fikry), seorang remaja yang sedang berada di persimpangan hidup. Rama memiliki hubungan yang rumit dengan ayahnya (Ringgo Agus Rahman), tapi sangat dekat dengan ibunya (Dian Sastrowardoyo).

Ketika ibunya jatuh koma akibat kecelakaan, dunia Rama runtuh. Ia merasa kesepian mendalam, terisolasi dari ayah yang sibuk bekerja dan kurang ekspresif.

Di tengah keputusasaan, Rama menemukan solusi tak terduga: i-BU, sebuah AI canggih ciptaan temannya. AI ini mampu mereplikasi wajah, suara, dan bahkan kepribadian ibunya, tidak hanya sebagai pendamping emosional tapi juga alat untuk merangsang fungsi otak ibu Rama yang koma.

Pertanyaan utama film ini: Bisakah teknologi menggantikan ikatan manusia? Atau justru memperdalam luka kehilangan?

Sinopsis ini diadaptasi dari cerita pendek karya penulis Taiwan, tapi diadaptasi dengan nuansa Indonesia yang kental. Latar belakang Jakarta modern, dengan elemen budaya seperti nilai keluarga dan perjuangan emosional, membuat film ini terasa dekat dengan penonton lokal.

Trailer resmi menjanjikan momen-momen haru, seperti Rama berbicara dengan AI ibunya, sambil berusaha menyembuhkan ibu asli melalui stimulasi neural.

Tanpa spoiler, alur cerita mengalir dari konflik internal Rama ke klimaks yang menggabungkan realitas dan fantasi, mengeksplorasi tema kehilangan, rekonsiliasi, dan etika AI.

Review Film Esok Tanpa Ibu

Salah satu adegan di film Esok Tanpa Ibu (IMDb)

Dari segi akting, Dian Sastrowardoyo tampil memukau sebagai ibu yang hangat dan rapuh. Meski sebagian besar adegannya dalam keadaan koma, flashback dan interaksi virtual menunjukkan kedalaman karakternya. Ia berhasil menyampaikan cinta tak bersyarat seorang ibu, membuat penonton merasakan kehangatan yang hilang ketika ia "tiada".

Ringgo Agus Rahman sebagai ayah memberikan performa yang lebih tertahan, merepresentasikan pria Indonesia yang sering kesulitan mengekspresikan emosi. Namun, arc karakternya berkembang dengan baik, dari dingin menjadi lebih empati.

Bintang muda Ali Fikry adalah sorotan utama; ia membawa nuansa remaja yang bingung, marah, dan rentan. Performa Fikry, yang disebut "remarkable" oleh Dian sendiri, menjadikan Rama sebagai pusat emosional film.

Pendukung seperti teman Rama yang menciptakan AI menambahkan lapisan humor ringan, mencegah film terlalu melankolis.

Sutradara Ho Wi Ding, yang dikenal dengan gaya visual poetic, membawa pengaruh Asia Timur ke dalam film ini. Sinematografi indah, dengan penggunaan cahaya lembut untuk adegan flashback dan kontras gelap untuk momen kesepian.

Efek visual AI terlihat seamless, tidak berlebihan seperti film sci-fi Hollywood, tapi cukup realistis untuk era 2026 di mana AI seperti ChatGPT sudah umum. Musik latar, komposisi orisinil dengan elemen piano dan string, memperkuat nuansa emosional tanpa mendominasi.

Tema utama—kehilangan ibu—dieksekusi dengan sensitif, mengingatkan pada film seperti Her (2013) tapi dengan konteks keluarga Asia. Film ini juga menyentil isu sosial: bagaimana generasi muda bergantung pada teknologi untuk mengatasi trauma, sementara hubungan manusiawi terabaikan.

Kekuatan film terletak pada relevansinya. Di tengah pandemi pasca-2020 dan kemajuan AI, Esok Tanpa Ibu mengajak refleksi: Apa arti "esok tanpa ibu"? Ia bukan hanya tentang kematian fisik, tapi kehilangan emosional di tengah kesibukan modern.

Dialog-dialognya tajam, seperti saat Rama bertanya pada AI, "Bisakah kamu peluk aku seperti ibu?" yang menyentuh hati. Produksi berkualitas tinggi, dengan dukungan dari festival internasional, menandakan potensi ekspor sinema Indonesia.

Namun, ada kelemahan. Beberapa plot twist terasa predictable, terutama bagi penonton familiar dengan genre drama AI. Pengembangan karakter ayah kurang mendalam di awal, membuat transisinya terasa abrupt.

Durasi 107 menit terasa pas, tapi pacing di tengah agak lambat, mungkin karena fokus pada introspeksi Rama. Elemen fantasi AI, meski inovatif, bisa terasa gimmick jika tidak didukung narasi kuat—untungnya, di sini ia terintegrasi baik.

Overall, Esok Tanpa Ibu adalah film yang menyentuh, dengan skor hipotetis 8/10 untuk debutnya. Ia berhasil menggabungkan drama keluarga dengan fantasi modern, membuat penonton menangis dan berpikir. Bagi yang kehilangan orang tua, film ini therapeutic; bagi remaja, ia peringatan tentang menghargai waktu.

Tayang di bioskop seperti CGV, Cinepolis, dan XXI mulai 22 Januari 2026, ini adalah tontonan wajib untuk keluarga. Promo seperti beli 1 gratis 1 tiket di app M.tix atau TIX ID membuatnya lebih accessible. Jangan lewatkan—film ini mengingatkan bahwa teknologi bisa membantu, tapi cinta manusia tak tergantikan.