Lintang Siltya Utami | Habibah Husain
Novel Langit Goryeo (Doc.Pribadi/Habibah)
Habibah Husain

Langit Goryeo karya Berliana Kimberly hadir bukan sekadar sebagai romansa lintas negara yang manis, melainkan sebuah luka masa lalu, trauma sistemis, dan perjuangan menjadi manusia utuh di hadapan Sang Pencipta. Tak banyak cerita yang berani membedah betapa berdarah-darahnya sebuah proses hijrah dan betapa rapuhnya keimanan saat dihantam musibah bertubi-tubi, namun novel ini datang dengan keberanian itu. Ia menantang narasi umum tentang perjalanan spiritual yang biasanya hanya digambarkan indah dan penuh keajaiban, seolah tanpa cela.

Novel ini tidak dimulai dengan kedamaian instan setelah seseorang memeluk keyakinan baru. Ia justru dimulai dengan hal yang lebih menyesakkan: sebuah rasa asing di tanah kelahiran sendiri. Haneul Choi, seorang mualaf asal Korea Selatan yang baru menyelesaikan wajib militer, adalah potret manusia yang sedang bertarung hebat dengan identitasnya.

Di bawah langit Seoul yang gemerlap, ia justru merasa terhimpit di antara aroma soju, tradisi leluhur yang berbenturan dengan prinsip hatinya, dan bayang-bayang patah hati yang belum pulih. Perjalanannya ke Yogyakarta yang ia harap menjadi pelarian menuju ketenangan, justru membenturkannya pada takdir yang memporak-porandakan seluruh logikanya.

Di sisi lain, kita bertemu Cahaya Pendar, seorang perempuan yang namanya bermakna sinar, namun jiwanya justru dirundung kegelapan pekat. Pendar adalah korban dari sistem keluarga yang retak; trauma akibat poligami ayahnya menjadikannya pribadi yang membenci takdir dan merasa Tuhan itu jauh. Hidup baginya hanyalah deretan kecerobohan yang tak berujung, ditambah lagi dengan penyakit yang diam-diam menggerogoti fisiknya. Ia tidak sedang mencari cinta; ia hanya sedang berjuang untuk tidak menyerah di tengah dunia yang tak pernah ramah padanya.

Pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan romantis di bawah gemerlap lampu kota, melainkan sebuah tabrakan takdir yang diawali oleh kekecewaan. Rencana perjalanan Haneul yang seharusnya tenang, berubah drastis menjadi kekacauan akibat kecerobohan Pendar. Mereka dipertemukan bukan oleh kesamaan mimpi, melainkan oleh rasa frustrasi dan luka yang tak sengaja saling bersinggungan.

Puncaknya terjadi dalam keheningan sepertiga malam yang menyayat. Di sana, Haneul menyaksikan pemandangan yang meruntuhkan egonya: Pendar berdiri di tepi balkon, nyaris menyerah pada hidup dan hampir melepaskan segalanya. Di titik itulah, narasi Berliana Kimberly bergeser secara tajam. Bukan lagi tentang benci yang berubah jadi cinta, melainkan tentang lahirnya sebuah tanggung jawab moral yang mendalam—sebuah panggilan jiwa untuk saling menyelamatkan di tengah dunia yang terasa runtuh. Haneul mulai melihat Pendar sebagai jiwa yang harus didekap, sementara Pendar mulai melihat Haneul sebagai "langit" luas tempat cahayanya yang hampir padam bisa kembali berpendar.

Yang membuat Langit Goryeo begitu unik dan kuat adalah keberaniannya menempatkan kerentanan iman sebagai subjek utama, bukan sekadar bumbu drama. Penulis menolak melakukan romantisasi terhadap kesabaran. Ketika Haneul berniat menikahi Pendar demi sebuah perlindungan yang mulia, dunia justru menghantamnya dengan musibah fisik yang membuatnya buta. Di sinilah kejujuran novel ini diuji: ia menggambarkan bagaimana seorang manusia bisa merasa goyah, marah, bahkan menggugat keadilan Sang Maha Cinta saat ujian terasa melampaui batas kemampuan.

Meski gaya penulisan Berliana sangat natural dan mampu menciptakan ikatan emosional yang kuat, novel ini tetap memiliki noda kecil. Alur yang terkadang meloncat dan beberapa plot twist yang terasa sangat dramatis—seperti kecelakaan Haneul atau teror video masa lalu—mungkin terasa sedikit dipaksakan bagi sebagian pembaca. Namun, kekurangan itu tertutupi oleh kekuatan dialog yang mampu menyentuh relung spiritual tanpa terkesan menggurui. Penulis tahu kapan harus menggunakan kalimat yang menusuk dan kapan harus memberikan ruang hening bagi pembaca untuk merenung.

Pada akhirnya, Langit Goryeo tidak menawarkan akhir bahagia yang klise. Ia tidak menjanjikan bahwa semua luka akan hilang seketika. Ia justru memberi harapan bahwa dalam kegelapan yang paling pekat sekalipun, cahaya sekecil apa pun akan tetap terlihat jika kita memiliki keberanian untuk bertahan. Ia mengajarkan bahwa penerimaan diri dan pengampunan adalah bentuk tertinggi dari sebuah ketaatan.

Membaca novel ini seperti berjalan di bawah rintik hujan; terasa dingin dan menyepi, namun kita tahu bahwa di ujung jalan ada hangatnya pelukan bagi mereka yang tidak menyerah. Ia mengingatkan kita bahwa luka bukanlah alasan untuk bersembunyi dari kenyataan, melainkan alasan terkuat untuk kembali pulang dan menjadi manusia yang utuh. 

Identitas Buku

Judul: Langit Goryeo
Penulis: Berliana Kimberly
Penerbit: PT Akad Media Cakrawala
Tahun Terbit: Cetakan pertama, Agustus 2023
ISBN: 978-623-5953-53-3