Sekar Anindyah Lamase | aisyah khurin
Novel The Lost Apothecary (goodreads.com)
aisyah khurin

Dalam debutnya yang memukau, Sarah Penner membawa pembaca menelusuri lorong-lorong gelap London abad ke-18 dan menggabungkannya dengan pencarian jati diri di masa modern. "The Lost Apothecary" bukan sekadar fiksi sejarah biasa. Ini adalah sebuah penghormatan bagi perempuan-perempuan yang terlupakan oleh sejarah, dibalut dalam misteri pembunuhan yang atmosferik.

Novel ini menggunakan struktur narasi yang dinamis dengan membagi sudut pandang menjadi tiga karakter utama yaitu Nella, sang apoteker di tahun 1791, Eliza, asisten mudanya yang berusia 12 tahun, dan Caroline, seorang sejarawan amatir di masa kini.

Nella adalah seorang perempuan yang menjalankan toko obat rahasia di gang sempit London. Alih-alih menyembuhkan, Nella menjual racun khusus bagi perempuan yang ingin membalas dendam atau membebaskan diri dari pria-pria yang menindas mereka. Namun, ia memiliki aturan ketat, racun tidak boleh digunakan untuk menyakiti sesama perempuan.

Eliza seorang gadis pelayan yang datang ke toko Nella untuk membeli racun untuk majikannya. Pertemuan ini memicu ikatan yang tak terduga, di mana Eliza mulai belajar tentang seni meracik obat dan rahasia kegelapan yang menyertai pekerjaan Nella.

Sedangkan Caroline berada di London untuk merayakan ulang tahun pernikahan yang hambar setelah menemukan perselingkuhan suaminya. Saat melakukan mudlarking (mencari benda bersejarah di tepian Sungai Thames), ia menemukan sebuah botol apoteker kuno yang membawanya pada penyelidikan sejarah mengenai "Apoteker yang Hilang."

Penner sangat mahir dalam membangun atmosfer London yang kontras. Di satu sisi, kita merasakan pengapnya udara London abad ke-18, aroma jamu yang bercampur dengan bau busuk sungai, dan ketakutan yang menghantui setiap perempuan yang mengetuk pintu toko Nella. Di sisi lain, kita melihat London modern melalui mata Caroline, sebuah kota yang penuh kenangan namun terasa asing bagi seseorang yang sedang patah hati.

Konflik utama mulai memuncak ketika salah satu pesanan racun Nella berakhir dengan kekacauan yang mengancam keselamatan dirinya dan Eliza. Jejak kriminalitas ini terkubur selama dua abad hingga Caroline menemukannya. Penyelidikan Caroline bukan sekadar tugas akademis, itu adalah pelariannya dari realita hidupnya yang hancur. Saat ia menggali lebih dalam tentang siapa Nella sebenarnya, ia juga mulai menggali potensi dirinya yang selama ini ia kubur demi pernikahan yang tidak sehat.

Tema sentral dari The Lost Apothecary adalah resistensi perempuan. Di masa Nella, perempuan tidak memiliki kekuatan hukum atau sosial untuk melawan kekerasan domestik atau pengkhianatan. Toko apoteker Nella hadir sebagai simbol "keadilan gelap." Meskipun secara moral abu-abu, pembaca diajak untuk memahami keputusasaan yang melatarbelakangi tindakan karakter-karakternya.

Selain itu, novel ini mengeksplorasi tema warisan dan jejak sejarah. Caroline adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Melalui sosok Caroline, Penner menunjukkan bahwa suara perempuan dari masa lalu meskipun telah dibungkam atau dikubur dalam botol kaca kecil yang memiliki kekuatan untuk mengubah hidup seseorang di masa depan.

Nella digambarkan sebagai sosok yang tragis dan lelah secara fisik maupun mental. Penner tidak menjadikannya penjahat, melainkan korban dari keadaan yang memilih untuk memegang kendali dengan cara yang ekstrem.
Eliza memberikan elemen kepolosan sekaligus keberanian. Ia mewakili masa depan dan rasa ingin tahu yang tak terpadamkan, bahkan di tengah bahaya.

Caroline mungkin terasa sedikit lambat di awal, namun transformasinya adalah bagian yang paling memuaskan. Dari seorang istri yang ragu-ragu menjadi detektif sejarah yang gigih, Caroline membuktikan bahwa tidak pernah ada kata terlambat untuk menemukan kembali gairah hidup.

Secara keseluruhan, "The Lost Apothecary" adalah perpaduan yang indah antara misteri, sejarah, dan drama emosional. Penulisan Penner sangat deskriptif sehingga pembaca bisa membayangkan dengan jelas setiap ramuan yang diracik Nella, mulai dari penggunaan arsenic hingga sari bunga belladonna.

Meskipun terdapat beberapa bagian yang terasa sedikit kebetulan (terutama dalam penyelidikan Caroline), kekuatan emosional dari hubungan antara Nella dan Eliza mampu menutupi kekurangan tersebut. Novel ini mengingatkan kita bahwa sejarah bukan hanya tentang perang atau penemuan besar pria, tetapi juga tentang rahasia kecil yang disimpan perempuan di dapur dan apotek mereka untuk bertahan hidup.

Buku ini sangat direkomendasikan untuk pembaca yang menyukai fiksi sejarah dengan sentuhan magis/misteri, serta bagi siapa saja yang menikmati cerita tentang perempuan yang berani mengambil kembali kendali atas takdir mereka sendiri.

Identitas Buku

Judul: The Lost Apothecary

Penulis: Sarah Penner

Penerbit: Park Row

Tanggal Terbit: 2 Maret 2021

Tebal: 301 Halaman

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS